
Adam melotot pada karyawan yang sedang duduk didepannya,saat itu dia sedang mengadakan rapat dan tampangnya terlihat sangar.
Suasana hatinya sedang tidak baik,ingin rasanya dia memukul seseorang sampai mati saat ini.
Para karyawan yang mengikuti rapat saling pandang dan ketakutan melihat tampang bosnya yang sangar.
Mereka tidak berani bersuara,sudah tiga puluh menit rapat dimulai tapi Adam belum juga membuka suaranya.
Ruangan rapat itu terasa hening dan menegangkan,mereka bagaikan para prajurit yang harus pergi berperang.
Adam hanya melototi mereka,dalam hati masing-masing apa mereka punya salah?
"Hmm.....bos!"
Sekretarisnya mencoba mencairkan suasana,tapi naas baginya karena harus mendapat tatapan tajam dari bosnya.
Adam menarik nafasnya sejenak,karena harinya yang menyebalkan membuat para karyawannya yang kena imbas.
"Bubar!"perintah nya
Dia malas melanjutkan rapat,mood nya benar-benar hilang sejak kedatangan Luna.
Para karyawan saling pandang,padahal mereka belum juga memulai?
Tapi mereka tidak berani bertanya,satu persatu dari mereka pun keluar dari ruangan yang menyesakkan dada itu.
Adam menatap kepergian karyawannya,bahkan dia mengusir sekretarisnya untuk keluar.
Dia ingin menyendiri untuk meredakan amarahnya yang disebabkan oleh Luna.
Adam memejamkan matanya,setelah merasa amarahnya mulai reda Adam kembali keruangannya.
Disana Ben telah menunggunya.
"Apa kau tidak ada kerjaan setiap hari datang ke kantor ku?"tanya nya
"Tidak,aku hanya ingin melihat mu."goda Ben
"Apa maksud mu?"
Ben melemparkan sebuah map diatas meja.
"Berterima kasih lah padaku,tanpa kau minta aku sudah menyelidiki Luma Kim untuk mu."katanya
Adam segera duduk dikursinya,suasana hatinya kembali buruk saat mendengar nama itu.
"Hei,apa kau tidak mau melihatnya?"tanya Ben
"Letakkan saja disitu,aku sedang malas?"jawabnya
"Wah,apa Luna Kim lagi-lagi mengacaukan hari mu?"tanya Ben penasaran.
Adam melirik sahabatnya sejenak,kemudian pria itu memejam kan matanya.
"Apa kau percaya?aku membiarkan nya tinggal dirumah ku sekarang!"
Ben melonggo tidak percaya,kok bisa?
"Bahkan berani-berani nya dia mencium ku!"Adam kembali kesal mengingat kejadian tadi pagi
"Apa?wah coba kau ceritakan pada ku!"
Ben begitu bersemangat,dia sangat penasaran dengan wanita yang bisa membuat hari Adam berantakkan.
Adam menghembuskan nafasnya mengingat kejadian tadi pagi
Tadi pagi:
Adam terbangun dari tidurnya karena mendengar seseorang membuka pintu kamarnya.
Dia begitu kaget saat melihat Luna mendekat kearahnya dan tersenyum manis padanya.
"Anyeong."sapa Luna
Adam segera duduk diatas ranjang dan memperlihatkan tubuhnya yang setengah telanjang.
"Kenapa kau ada dikamar ku?"teriaknya
Luna hanya tersenyum dengan manis tanpa menjawab pertanyaannya.
Adam mengusap wajahnya kesal!beraninya perempuan itu masuk kedalam kamarnya?
"Siapa yang mengijinkan mu masuk kedalam kamar ku?"tanya nya dengan nada tinggi.
"Tidak ada."jawab Luna
"Kau ini seorang perempuan,apa kau tidak takut aku memperkosa mu saat ini juga?"tanya Adam dengan kesal.
"Kalau itu kau,aku tidak keberatan!"
Adam memijat pelipisnya.
"Kau ini perempuan aneh!"
"Jangan marah,aku hanya membangunkan mu."
"Apa kau pikir aku anak kecil yang perlu dibangun kan?"tanya Adam kesal.
"Bukan begitu,aku hanya mengikuti yang biasa dilakukan oleh seorang pelayan."kata Luna
"Pelayan mana yang berani membangunkan majikannya?"teriak Adam
"Ada."jawab Luna singkat.
"Di drama tv,kau tahu?"
"Tapi aku rasa kau tidak akan pernah tahu,aku tebak kau pasti tidak pernah menonton drama."
"Apa?"Adam tak habis pikir mendengarnya.
"Pantasan saja perempuan ini jauh-jauh datang dan mengajak ku menikah tiba-tiba.pasti Luna kebanyakan melihat drama!"pikirnya
"Keluar kau!aku mau mandi!"usirnya
"Baiklah,tapi biarkan aku memberikan mu morning kiss terlebih dahulu."
Belum juga Adam membuka suaranya tapi Luna sudah naik keatas ranjangnya dan mencium bibirnya.
"Morning."sapanya.
Adam hanya melotot kearahnya.
Luna segera berlari keluar dari kamar Adam,memegangi dadanya dan menenangkan jantungnya yang berdetak tidak karuan.
Sebenarnya dia sangat takut,tapi dia berusaha memberanikan dirinya.waktu melihat tubuh Adam yang setengah telanjang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.
Luna menarik nafasnya dan segera turun kebawah,bagaimana pun juga dia akan tetap berusaha.
Setelah mandi Adam turun kebawah dengan perasaan kesal,Luna benar-benar berani masuk kedalam kamarnya dan menciumnya.
Dalam hatinya mulai menyesal,menyesal memberi tumpangan untuk Luna.
Adam masuk kedalam dapurnya,disana Luna terlihat sibuk menyiapkan sarapan.
Adam segera duduk diatas meja dan menyeruput kopi hitam yang telah tersedia.
Luna mendekat padanya dan memberikan sepotong roti untuknya.
"Apa ini?"tanya Adam
"Maaf."Luna jadi tidak enak hati
Adam melihat roti setengah gosong yang diletakkan Luna didepannya.
"Kau suruh aku makan ini?"tanya Adam dengan kesal.
"Maaf,aku sudah berusaha!"jawab Luna dengan tidak enak hati.
Adam melemparkan piring yang berisi roti setengah gosong itu kelantai,Luna begitu kaget dan hanya menundukkan kepalanya.
"Pelayan!apa yang kalian lakukan sampai aku harus makan roti gosong sperti ini!"teriaknya.
Pelayan pribadinya mendekat padanya.
"Maaf tuan,nona Luna bilang dia yang akan menyiapkan sarapan untuk anda."kata pelayan pribadinya.
Adam berjalan kearah Luna,mengangkat dagunya dan menatapnya dengan tajam.
"Dengar baik-baik!kau bukan istri ku,bukan siapa-siapa ku!"
"Aku memberi mu tumpangan karena adikku,jadi bersikaplah baik dan jangan membuat ku tambah marah lagi!"
Luna mengangguk dan menangis,padahal bukan begitu maksudnya.dia hanya ingin Adam berkesan dan melihat usahanya untuk mendapatkan hatinya.
Tapi sepertinya sia-sia,Luna segera berjongkok membersihkan pecahan piring yang berantakan diatas lantai saat Adam telah pergi dari sana.
Dia hanya menangis,memunguti roti setengah gosong dari lantai dan memakannya.itu roti pertama buatannya,seumur hidup belum pernah dia membuat roti panggang,walaupun setengah gosong tapi dia bangga dengan hasilnya.
.
.
.
Ben tertawa terbahak-bahak saat mendengar cerita Adam.
Adam begitu kesal dan melemparkan sebuah buku yang berada diatas mejanya dan mengenai kepala Ben.
"Hentikan tawa mu,kau membuat ku tambah kesal!"
"Adam,kenapa kau begitu dingin sobat?kenapa tidak kau ikuti saja apa maunya."kata Ben
"Maksud mu?"
"Biarkan saja dia berusaha,dia mencium mu dan tinggal kau balas saja ciumannya.kalau aku tidak akan melewatkan wanita cantik seperti Luna."
"Aku tidak seperti mu!"kata Adam kesal.
"Adam,kau terlalu naif.kau tahu?kau seperti banci!"kata Ben lagi
"Apa maksud mu banci?"Adam kembali kesal.
"Kau pikirkan saja sendiri.kau tidak suka dengan nya bukan?"
"Kenapa kau tidak ikuti saja permainannya,nanti dengan sendirinya dia akan menyerah dan kembali kekorea."
"Dengan begitu kau tidak perlu merusak hari mu karenanya."saran Ben
Adam melihat sahabatnya dengan lekat.
Benar,jika dia mengikuti permainan Luna maka dia tidak perlu kesal seperti ini.
Toh Luna dirumahnya tidak akan lama,hanya sampai liburannya selesai.
Sepertinya perkataan Ben ada benarnya,tidak ada salahnya jika mengikuti saran sahabatnya.