
"Brukkk...braakkk...brukkkk.."
Briant mengeluarkan isi lemarinya dan membuang semua barang-barang yang ditinggalkan oleh Claudia.
Dia meminta pembantu rumah tangga nya untuk membantu membawa barang-barang yang telah dia keluarkan dari lemarinya dan membawanya kebawah.
Dia juga sudah menyiapkan sebuah drum dan sebotol bensin untuk membakar barang-barang itu.
Tidak hanya barang yang ditinggalkan Claudia,semua barang Adelia juga dia keluarkan semua.
"Tuan,ini sudah semua?"
Tanya pembatunya.
Briant kembali naik keatas,dia mulai memilih-milih pakaiannya.
Dengan cepat dikeluarkan nya satu persatu pakaian yang dibelikan oleh Claudia untuknya,kemeja,dasi,sepatu bahkan dalaman nya pun tak luput dia keluarkan.
Dia kembali membuka laci kecil yang terdapat didalam lemari,disana tempatnya menyimpan jam tangannya.
Briant mengeluarkan beberapa jam tangan dari sana,itu adalah hadiah-hadiah yang diberikan mantan istrinya.
Setelah merasa tidak ada lagi yang tertinggal pria itu kembali turun kebawah dan memerintahkan pembantunya untuk mengambil barang-barang yang tersisa.
Briant memasukkan barang-barang milik Claudia satu persatu kedalam drum,setiap mengangkat barang itu dia teringat wajah mantan istrinya.
Kenangan demi kenangan muncul kembali didalam benaknya setiap kali dia memasukkan barang Claudia kedalam drum itu
Briant mulai menangis,tangannya mulai bergetar,dia tidak sanggup melakukan nya tetapi dia harus!
"Pak,apa perlu saya bantu?"tanya pembantu nya
Briant menggeleng,akan dia musnahkan barang-barang itu dengan tangannya sendiri seperti dia menghancurkan pernikahannya karena kebodohannya sendiri.
Kini sudah terlambat,semua yang terjadi tidak bisa kembali lagi.
Briant mulai menuang bensin kedalam tong yang telah dia isi dengan barang-barang peninggalan Claudia.
Setelah itu dia menarik nafas nya dengan panjang dan menyalakan korek api yang berada ditangannya.
"Selamat tinggal."katanya
Dengan cepat dia melemparkan api itu kedalam tong dan api langsung menyala dan membakar barang-barang yang berada didalam sana.
Tidak sampai disitu,barang yang ada didalam tong barulah setengah saja.
Briant memunguti album foto yang ada dibawah kaki nya,dengan perasaan sedih dia mulai membuka album foto itu dan melihatnya.
Yang pertama dia lihat adalah foto saat Claudia bergelayut manja dipunggungnya dipinggir pantai.
Itu adalah foto waktu mereka berbulan madu dan diambil waktu matahari terbenam.tampak Claudia sedang tertawa bahagia bersama dengan nya.
Air mata Briant kembali menetes,kenangan itu sangat menyakitkan untuknya.
Dia segera melemparkan album foto itu tanpa mau melihat nya lebih lanjut.
Dia tidak sanggup melihat lebih jauh lagi,tapi kenangan demi kenangan itu muncul satu persatu dalam benaknya.
Dilemparkan nya album foto yang terdapat dibawah kakinya satu persatu kedalam kobaran api,bahkan foto pernikahannya yang terpajang didalam kamar nya pun dia turunkan.
Setelah selesai dengan album foto itu,Briant melemparkan sebuah batu ke pigura kaca yang membingkai foto pernikahan nya.
Kaca itu pecah berantakankan,kaca itu bagaikan pernikahannya yang telah hancur.
Benar kata Adelia,dia tidak akan bisa memperbaiki gelas yang pecah kecuali beli baru dan itu adalah karma untuknya.
Briant mengambil foto pernikahannya dari figura itu dan melemparkan nya kedalam api.
"Seandainya ada kesempatan kedua,seandainya waktu bisa diulang."
Briant mengusap air matanya.
Pembantu nya yang sedari tadi berada disebelahnya melihat dengan iba majikan nya itu.
"Pak,biar saya saja yang bakar."tawarnya
"Tidak perlu,aku bisa sendiri."
Briant mengambil barang-barang yang diberikan Claudia dan melemparkan nya kedalam api.
Asap membumbung tinggi dan api mulai melahap barang-barang itu satu persatu.
Briant melihat barang yang tersisa,hanya tinggal milik Adelia.
Dia muak jika mengingat mantan istrinya yang satu itu.
Sayangnya Adelia langsung dihukum mati,padahal dia berharap perempuan itu membusuk didalam penjara untuk seumur hidupnya.
"Buang barang-barang ini."
"Jangan kau bakar didalam sini,karena aku tidak mau mencampur barang sijalang ini dengan barang-barang yang ku bakar disini."perintahnya.
"Baik pak."
Pembantunya segera mengambil barang-barang Adelia dan membakarnya ditong sampah yang tidak jauh dari mereka.
Briant memandangi asap yang membumbung tinggi keatas langit,kenangan nya dengan Claudia pergi mengikuti asap itu.
Setelah semua barang-barang yang ada ditong itu telah habis terbakar dan menjadi abu Briant segera memutar tubuhnya dan masuk kedalam rumahnya.
Diruang tamu ibu nya sedang duduk untuk beristirahat.
Briant segera menghampiri ibu nya dan duduk disana.
"Bu,aku ingin menjual rumah ini."katanya
Ibu nya kaget.
"Jangan,kenapa kau ingin menjual rumah ini?"tanya ibunya
"Bu,banyak yang sudah terjadi dirumah ini,banyak pula kenangannya dan aku tidak sanggup."
"Harap ibu mengerti,setiap aku pulang dan masuk kedalam kamar ku hati ku sakit bu.aku tidak bisa melupakan kenangan ku dengan nya."
"Jangan Briant,rumah ini peninggalan ayah mu.bagaimana bisa kau mau menjualnya?"
"Jadi aku harus bagaimana bu?apa ibu mau aku terus mengingat nya sampai aku gila?"
"Ibu juga harus tau,semua ini karena kesalahan ibu!"ujarnya
Ibu nya menarik nafasnya,sedari tadi dia melihat Briant sibuk menurunkan barang-barang peninggalan mantan istrinya.
Dia tahu anaknya pasti sangat sedih dan berusaha melupakan mantan istrinya.
"Baiklah jika itu keinginan mu,ibu tidak bisa berbuat apa-apa."
"Tapi setelah kita pindah,ibu harap kau bisa sepenuhnya melupakan nya."
"Terima kasih atas pengertian ibu,aku akan segera mencari rumah dan menjual rumah ini."
Setelah berkata demikian Briant segera bangkit berdiri dan meninggalkan ibunya.
Dia juga berharap setelah pindah dari rumah itu dia dapat membuka lembaran baru dalam hidupnya.