
"Praaaangggg...."
Gelas yang dipegang oleh ibu Briant tiba-tiba jatuh diatas lantai dan hancur berantakan.
Sudah jam sebelas malam tapi Briant belum juga kembali,tadi sore anak nya kembali sejenak untuk mandi dan berganti pakaian,setelah itu Briant keluar lagi seorang diri tanpa mengunakan supir pribadinya.
Siska mulai cemas,tidak biasanya Briant pulang selarut itu.
Biasanya Briant akan mengatakan dimana dia pergi tapi hari ini setelah mandi Briant langsung pergi begitu saja.
Siska berjalan mondar mandir dirumahnya dengan cemas.
"Briant...kemana kau nak?"tanya nya dengan khawatir
Dia sudah menghubungi ponsel Briant berkali-kali tapi tidak ada jawaban sama sekali.
"Nya,sebaiknya anda istirahat."saran bi Inah.
Pembantunya itu sedang sibuk membersihkan pecahan gelas yang berantakan diatas lantai.
"Inah,aku sangat cemas dengan keadaan Briant."
"Apa tuan muda tidak bilang pada nyonya dia mau kemana?"tanya bi Inah
Siska menggeleng.
Selagi dalam kecemasan tiba-tiba pintu rumahnya digedor dari luar dengan kencang oleh seseorang.
"Tante....tante Siska.."panggil seseorang.
Bi Inah segera bangkit berdiri dan menuju kearah pintu,setelah pintu itu terbuka tampak seorang perempuan dengan pakaian dokter yang terlihat panik.
"Tante Siska ada?"tanya nya
"Jane,ada apa?"tanya ibu Briant yang keluar dari arah dapur.
"Tante...ayo ikut dengan ku."ajak Jane
"Ada apa?"Siska mulai curiga
"Tante,nanti akan aku jelaskan dijalan.ayo segera ikut dengan ku."katanya
"Baiklah,tunggu aku harus ganti pakaian."
Setelah berkata demikian Siska langsung masuk kedalam kamarnya dan mengganti pakaiannya.
Jantungnya berdetak tidak karuan karena muncul ketakutan yang teramat sangat,dilihat Jane yang begitu panik entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Briant.
Setelah mengganti pakaiannya Siska segera keluar sambil membawa tasnya.
"Jane,sebenarnya apa yang telah terjadi?"tanya nya penasaran.
"Ayo tante,kita harus segera pergi."
Siska langsung mengikuti Jane dan entah kemana wanita itu akan membawanya.
Jane memang sengaja datang menjemput ibu Briant secara langsung karena dia takut jika mengatakan apa yang terjadi lewat telephone maka wanita paruh baya itu akan mengalami syok berat.
Suasana jalanan malam yang sudah hening membuat mobil yang dibawa Jane melesat dengan cepat,karena mobilnya sedang dibengkel jadi Jane terpaksa meminjam mobil rekannya sesama dokter.
Tidak lama kemudian mereka tiba disebuah rumah sakit,Jane dengan cepat memarkirkan mobilnya ditempat yang sudah tersedia khusus untuk para dokter.
"Jane,kenapa kau membawa ku kerumah sakit?"tanya Siska penasaran.
Jane melihat wanita paruh baya itu dengan iba,dia takut wanita itu tidak kuat melihat kenyataan nya nanti.
"Tante,aku turut prihatin."katanya
"Maksud mu Jane?"Siska tambah tidak mengerti.
Mereka sedang berdiri didepan lift yang akan membawa mereka menuju kelantai atas rumah sakit itu.
"Ting.."bunyi lift yang terbuka dan mereka segera masuk kedalam nya.
Jane tidak menjawab pertanyaan ibu Briant,dia merasa lebih baik wanita itu melihat langsung apa yang telah terjadi.
Saat pintu lift yang mereka tumpangi sudah tiba disebuah ruangan,mereka segera melangkah dengan cepat.
Siska sangat cemas,dia belum tahu apapun yang terjadi dan sekarang perasaan nya semakin kawatir dan takut.
"Tante,kuat kan hati ku"kata jane
Saat pintu ruangan itu terbuka mata Siska terbelalak kaget melihat anak kesayanganan sedang terbaring diatas ranjang.
Tubuhnya bergetar dan lututnya langsung lemas.
"Bri.....Briant..."Siska langsung pingsan dan tubuhnya langsung ditangkap oleh Jane dengan cepat.
"Uhuk...uhuk...uhuk..."
Claudia terbatuk karena tersedak makanan yang sedang dimakan nya.
"Kau tidak apa-apa sayang?"
Kevin segera memberikan minuman ketangan istrinya dan mulai mengelus-elus pundaknya dengan lembut.
Kevin selalu pulang kerumah setiap jam tiga sore untuk menemani istrinya,dia takut terjadi apa-apa dengan istri dan calon anaknya.
Dia kembali memimpin perusahaannya yang dia tinggalkan pada sekretaris kepercayaannya.
Claudia mengangguk dan segera mengambil gelas dari tangan suaminya,dia segera meneguk air yang terdapat dalam gelas itu.
"Makanlah dengan pelan-pelan."saran suaminya.
Claudia mengangguk dan melihat air yang masih tersisa setengah dalam gelas yang dipegangnya.
"Perasaan ku tidak enak."kata Claudia kemudian
Entah kenapa perasaan nya saat itu sangat tidak enak,seperti ada sesuatu yang terjadi dengan orang terdekatnya.
"Kenapa?"Tanya suaminya
"Entah lah,aku juga tidak tahu."
"Apa kau lelah?"
"Perut mu sakit?apa mau kerumah salit?"
Kevin mulai cemas takut terjadi sesuatu dengan anaknya.
Claudia tersenyum melihat tingkah suaminya yang terlihat panik.
"Tidak sayang,perutku baik-baik saja."sambil mengelus perutnya.
"Perasaan ku cuma tidak enak,seperti ada sesuatu yang terjadi."katanya
"Apa kamu khawatir dengan kakakmu?"
"Entah lah."
"Bagaimana jika kau menghubunginya."
Claudia mengangguk,tidak ada salahnya memastikan keadaan kakaknya.
Kevin segera mengambil ponsel istrinya dan memberikan padanya.
Setelah mendapatkan ponselnya Claudia segera menghubungi kakaknya.
"Kak,apa kau baik-baik saja?"tanya nya saat panggilan itu sudah dijawab oleh kakaknya.
"Aku baik-baik saja.ada apa?"tanya Adam.
"Tidak,aku hanya memastikan saja."
"Maaf sudah menggangu kakak."Claudia segera mematikan ponselnya karena takut menggangu kakaknya.
"Bagaimana?"tanya Kevin
"Kakak baik-baik saja."
"Kalau begitu ayo istirahat!"
Kevin segera menggendong tubuh Claudia dan membawanya masuk kedalam kamar.
"Sayang,ini masih terang.mana bisa aku tidur?"
"Istirahat bukan berarti tidur sayang."jawab suaminya
Kevin menurunkan tubuh istrinya diatas ranjang dengan hati-hati.
Kemudian dia meluruskan kaki istrinya dan memijat-mijatnya dengan lembut.
"Bagaimana perasaan mu sekarang?"tanyanya
Claudia tersenyum,dia tidak mau membuat suaminya tambah kawatir.
"Sudah tidak apa-apa."
Sebenarnya dalam hatinya masih merasa gelisah.
Entah kenapa dia merasa ada yang terjadi dengan orang terdekatnya,tapi kakaknya dalam keadaan baik-baik saja.lalu siapa?