
"Briant,kenapa kau belum juga sadar-sadar nak"
Siska melihat anaknya dengan iba,sudah beberapa hari Briant dirumah sakit dan belum juga sadarkan diri.
Pria itu masih tebaring dengan berbagai selang ditubuhnya dan kaki kanan nya sedang digips.
Dari laporan posisi yang dia ketahui mobil yang dibawa Briant menabrak sebuah truk besar dan tidak perlu dibilang lagi,mobilnya hancur dan Briant terhimpit didalam mobilnya.
Ibu nya sudah mondar mandir kerumah sakit dan kesehatannya pun mulai menurun.
Tubuhnya mulai kelihatan kurus karena kawatir dengan anaknya.
"Tante,biar aku yang jaga."
Jane masuk kedalam dan menyentuh bahu ibu Briant dengan lembut.
"Jane,sebenarnya apa yang terjadi dengan nya?"
"Tante,kepalanya terbentur dengan kencang dan kakinya patah.kita hanya bisa berdoa semoga dia cepat sadar."
"Jane bagaimana sekarang?"
"Tante takut...takut terjadi sesuatu padanya."
Siska mulai menangis,dia takut Briant tidak bisa sadarkan diri untuk selamanya.
Jane menarik nafasnya dengan berat,dia sudah terbiasa dengan situasi seperti ini.sebagai seorang dokter,dia hanya bisa menguatkan keluarga pasien agar bisa menghadapi apa yang telah terjadi.
"Tante,jangan putus asa,jika tante putus asa lalu bagaimana dengan Briant?"
"Tante harus menjaga kesehatan tante baik-baik agar tante bisa menguatkan Briant sehingga dia cepat sadarkan diri."
Siska melihat dokter cantik itu sejenak,kemudian dia kembali melihat kearah putranya.
"Kau benar,hanya dia yang aku punya.aku tidak bisa meninggalkan Briant dalam keadaan seperti ini"katanya
"Kalau begitu tante istirahat saja,aku akan menggantikan tante menjaganya."
"Jangan Jane,kau seorang dokter.bagaimana mungkin seorang dokter harus menjaga pasiennya."
"Kembalilah bertugas,aku tidak apa-apa.pasien lain membutuhkan mu."kata ibu Braint lagi.
Jane tersenyum.
"Kalau begitu aku tinggal dulu,jika ada apa-apa tante harus langsung memanggilku."
"Tante berdoa lah,semoga Briant bisa secepatnya sadar."katanya
"Tentu Jane,terima kasih."
Jane segera keluar dari ruangan itu meninggalkan ibu Briant yang menatap putra nya dengan perasaan sedih.
Setelah Jane pergi Siska berjalan kearah Briant dan menyentuh tangan putra nya dengan lembut.
Dia segera duduk disisi Briant,memegang tangannya dan kembali meneteskan air matanya.
"Seandainya,seandainya Claudia ada disini?"katanya
"Seandainya kau tidak berpisah dengan Claudia pasti semua itu tidak akan terjadi!"
Siska semakin terisak.
"Briant,semua salah ibu.ibu yang telah bersalah atas kehidupan mu."
"Seandainya ibu tidak selalu meributkan seorang cucu,rumah tangga mu pasti tidak akan hancur!"
"Sekarang,jangankan seorang cucu.ibu sudah kehilangan menantu ibu yang baik."
"Bahkan sekarang keadaan mu juga seperti ini.apa kau..kau....."
Siska tidak sanggup melanjutkan perkataan nya,wanita paruh baya itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan kembali menangis terisak.
"Jangan tinggalkan ibu,Briant.jangan!"
"Sadar lah Briant,cepatlah bangun.ibu sangat ingin melihat senyum mu."
"Memang ibu yang bersalah,seandainya posisi kita bisa ditukar,biarkan ibu yang terbaring disini menggantikan mu."
"Jika kau sudah sadar ibu akan berjanji,Ibu tidak akan mencampuri kehidupan mu lagi,jika kau menikah lagi ibu pun tidak akan tinggal dengan mu lagi."
"Ibu juga tidak akan meminta cucu dikemudian hari,tapi jangan seperti ini."
"Maaf kan ibu Briant....maafkan!"
"Jangan tinggalkan ibu!"
Siska menghapus air matanya yang berderai berjatuhan,dia memegangi tangan Briant dengan kencang.dalam hati nya penuh ketakutan.bagaimana jika Briant tidak bisa sadarkan diri lagi?
"Briant,semoga kau cepat sadar.jika Claudia melihatmu dalam keadaan seperti ini dia pasti akan sangat sedih."
Setelah berkata demikian Siska segera bangkit berdiri menuju kamar mandi.
Saat itu,air mata Briant mengalir dikedua matanya tanpa sepengetahuan ibunya.
.
.
.
Esok pagi nya Siska sedang membereskan barang-barangnya untuk kembali kerumah,pakaian bersihnya sudah habis dan dia harus pulang untuk mengambil baju ganti untuknya.
Sudah beberapa hari Siska menginap dirumah sakit untuk menemani Briant,dia ingin selalu berada didekat anaknya dan melihat kondisinya.
Setiap hari dia selalu mengelap badan Briant dan menggantikan pakaian baru untuknya,tentu saja dia dibantu oleh perawat yang ada disana.
Sebelum dia keluar dari ruangan itu Siska menciumi dahi putra nya sejenak dan berbisik ditelinga anaknya itu.
"Briant,cepatlah sadar,ibu sayang padamu."bisiknya
Setelah itu Siska segera keluar dari ruangan itu dan pulang bersama supir pribadi anaknya.
"Nya..apa nyonya sudah makan?"tanya bi Inah saat majikannya itu sudah berada dirumah.
"Belum..bisa kau masakan makanan kesukaan Briant?"
"Tuan sudah sadar nya?"tanya Bi Inah dengan riang.
Siska hanya menggeleng.
Inah tidak mengerti,buat apa majikannya meminta memasak makanan kesukaan anaknya sedangkan orangnya belum juga sadarkan diri.
"Buatkan saja,entah kenapa hari ini aku ingin bawa makanan kesukaan Briant kerumah sakit."
Bi Inah hanya mengangguk,dia segera menyiapkan makanan yang diminta oleh majikannya.
Setelah selesai Siska kembali kerumah sakit sambil membawa makanan yang dia minta bi Inah siapkan.
Dia ingin cepat-cepat menemui putra nya dan menemaninya.
Setelah tiba dirumah sakit Siska dikagetkan dengan seorang dokter dan suster yang sedang berlari-lari dengan panik.
"Cepat...cepat...dok,segera temui pasien yang mengalami kecelakaan beberapa hari lalu!"teriak seorang perawatan pada seorang dokter yang berlari disebelah nya.
Dokter dan perawatan itu berlari melewatinya dan segera hilang berbelok disebuah ruangan untuk para pasien vip berada.
"Pasien yang mengalami tabrakan?"
Wajah Siska langsung pucat."Tidak mungkin!Briant...."
Dia segera berlari keruangan Briant dirawat,Siska hendak masuk kedalam tapi ditahan oleh seorang suster yang sedang berdiri didepan kamar itu.
"Sus. ..suster,apa yang terjadi dengan anak ku?"