
"Kak Adam,berikan Claudia pada ku."
Kata Kevin dengan mantap.
Saat itu mereka sudah berada dibawah dan duduk diruang tamu berhadapan dengan Adam.
Zack sudah tidak ada disana dan tampak nya pria itu telah pergi.
Adam menatap tajam kearah kedua orang yang duduk didepan nya.
Pria itu sedang menyeruput kopi hitam nya dengan santai.
"Claudia apa kau sudah makan?"
Tanya nya
Pria itu malah bertanya demikian tanpa menjawab perkataan Kevin.
"Kak.....?"
Claudia bingung dengan sikap kakak nya itu,kenapa malah mengalihkan pembicaraan?
"Aku tanya apa kau sudah makan?" tanya nya lagi.
Claudia hanya menggeleng
"Pergilah makan."perintah nya
"Tapi kak?"
Kevin menyentuh tangan wanita itu dengan lembut.
"Pergilah,tidak baik untuk anak kita jika perut mu kosong."ujar pria itu.
Claudia menatap pria itu sejenak,kemudian dia mengangguk kan kepalanya dan segera bangkit berdiri.
Dia sangat tidak ingin meninggalkan Kevin sendirian disana.
Dia juga ingin meyakinkan kakaknya jika mereka serius dan saling mencintai.tapi dia tidak punya pilihan dan dengan berat hati meninggalkan kedua orang itu.
Setelah kepergian Claudia kedua orang itu saling meleparkan tatapan mereka dengan tajam.
Adam mengepal kan tangan nya menahan amarah,kenapa adik nya begitu menuruti perkataan pria itu?
"Apa yang kau punya?"
Tanya Adam memecahkan keheningan diantara mereka.
Kevin merenung sejenak mencoba mencerna maksud dari pertanyaan Adam.
Adam masih menatap nya dengan tajam dan menunggu jawaban pria itu.
"Aku tidak punya apa-apa,aku hanya punya rumah dan...."
"Kalau itu aku juga punya."
Adam memotong perkataan pria itu.
"Jangan bilang kau hanya punya rumah,mobil dan uang yang banyak?"kata Adam lagi
Kevin hanya terdiam,jawaban apa yang mau pria itu dengar dari nya?
Adam kembali menyeruput kopi nya.
"Kau tahu adik ku sudah pernah menikah?"tanya nya lagi.
Kevin mengangguk.
"Mantan suami nya juga kaya dan tampan,tapi aku tidak akan menyerahkan nya lagi dengan pria kaya dan tampan."
"Jangan kau pikir adik ku sedang hamil anak mu lalu aku akan menyerah kan nya pada mu begitu saja!"
"Jika kau punya rumah,aku juga punya.bahkan dia bisa hidup dengan baik dengan ku."
"Jika kau punya uang?aku juga punya.dia bisa menghabis kan uang ku semau nya"
"Aku juga punya banyak mobil yang bisa dia pakai jika dia mau kemana-mana"
"Supir pribadi tersedia,penjaga siap sedia menjaga keselamatan nya."
Kevin mencoba mencerna satu persatu perkataan Adam.
"Bahkan tanpa harus menikah dengan mu pun,aku bisa memenuhi semua kebutuhan adik ku dan anak nya kelak."
"Jadi,apa yang kau punya untuk membahagiakan adik ku?"tanya pria itu lagi
"Aku tau kak Adam punya semua itu."jawab Kevin
"Berhenti memanggil aku 'kak' ,kau belum jadi adik ipar ku"Adam menyela perkataan Kevin dengan tajam.
"Baik lah,aku memang tidak punya apa-apa."kata Kevin lagi.
"Mungkin rumah ku tidak sebesar rumah mu,mobil ku tidak banyak,dan aku tidak memiliki penjaga untuk menjaga nya."
"Tapi aku akan menjadi tempat nya untuk berlindung,aku akan menjadi supir pribadi nya dan menjaga nya seumur hidup nya."
"Aku akan menjadi orang yang menghapus air mata nya jika dia menangis,akan menemani nya jika dia tertawa dan menemani nya melewati hal-hal yang akan dia lalui seumur hidup nya"
"Aku tidak tahu jawaban apa yang mau kau dengar,tapi aku punya hati yang tulus untuk mencintai nya."jawab Kevin dengan mantap.
Adam menyunggingkan bibir nya,dia sangat puas mendengar jawaban pria itu.
Jika Kevin mengatakan dia punya harta yang banyak untuk adik nya maka dia tidak akan menyerah kan adik nya pada pria itu.
Memiliki banyak harta belum tentu bisa membuat kehidupan kita bahagia.
"Dimana rumah mu?"tanya Adam
"Aku hanya punya rumah kecil di kengsinton."jawab nya
"Pria ini terlalu merendah,rumah disana tergolong mahal."pikir Adam.
Tapi dia sangat puas dengan jawaban Kevin,jika pria itu membanggakan harta nya maka akan dia usir saat itu juga.
"Jadi,kapan kau akan membawa kedua orang tua mu untuk melamar nya?"tanya Adam kemudian.
Kevin terperangah mendengar pertanyaan pria itu.
"Jadi tuan Adam merestui hubungan kami?"tanya dengan gembira
"Panggil saja kak Adam"ujar nya
Kevin tersenyum senang,untung lah Adam mau merestui hubungan mereka.
"Terima kasih kak Adam."kata nya dengan perasaan bahagia.
Adam bangkit berdiri.
"Ayo kita makan."ajak nya
Kevin segera mengikuti pria itu,mereka berjalan bersama sambil mengobrol menuju ruang makan.
Saat Claudia melihat kedua pria itu mendekati meja makan,wanita itu segera bangkit berdiri dan menghampiri mereka.
Dia sangat cemas,entah apa yang mereka bicarakan?
Wanita itu memandangi Kevin dengan penuh tanda tanya.
"Tidak perlu kawatir."Kevin mengelus ujung kepalanya dan menenangkan wanita itu.
Adam mempersilahkan Kevin untuk duduk dimeja makan,makanan sudah tersedia dimeja dan mereka mulai menyantap makanan itu.
"Aku harus pergi,terima kasih atas jamuan makan siang kak Adam."kata Kevin saat mereka sudah selesai makan.
"Kenapa begitu cepat?"tanya Claudia.
Dia curiga kakak nya tidak merestui hubungan mereka.
"Bodoh,banyak yang harus aku lakukan."
"Jangan lupa bawa orang tua mu,dan jangan lama-lama."sela Adam.
"Beberapa hari lagi aku akan datang bersama orang tua ku."jawab nya
"Bagus,akan aku tunggu."
"Baik lah aku pamit dulu"
Setelah berkata demikian pria itu segera bangkit berdiri.
Adam dan Claudia mengatar pria itu sampai kepintu depan.
"Kevin..."Claudia mencoba menahan nya.
"Nanti aku akan kembali lagi."
Pria itu mencium pipi nya sejenak dan membisik kan sesuatu ditelinga nya.
"Tunggulah,aku akan membawa orang tua ku untuk melamar mu."bisik nya
Claudia begitu senang mendengar nya,wanita itu mengangguk dan wajah nya tampak berseri-seri.
Setelah kepergian Kevin,Claudia segera memeluk kakak nya.
"Terima kasih kak."
"Aku harap kali ini kau tidak salah memilih teman hidup."kata Adam.
Claudia mengangguk,dia sangat bahagia kakak nya tidak menyulitkan mereka dan mau merestui hubungan mereka.
Dia akan sabar menunggu Kevin datang dengan orang tua nya untuk melamar nya.