
"Pranggg..."
Adam kembali melempar makanan yang tersaji didepannya.sudah seminggu ini selera makannya berubah.
Setiap makanan yang dia makan pasti rasanya ada sesuatu yang kurang.
Adam marah,marah dengan semua pelayan dan juru masaknya.
Dia pikir juru masaknya sudah tidak becus,jadi dia mengganti dengan yang baru.tapi ternyata sama saja,entah kenapa dia merasa tidak enak.
Adam melotot pada pelayannya.
"Ada apa dengan kalian?apa kemampuan kalian tiba-tiba menurun!"makinya.
"Maaf tuan,makanan ini seperti yang setiap hari tuan makan."jawab pelayan pribadinya.
Adam mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya,sejak tahu Luna pergi begitu saja tanpa memberitahunya emosinya semakin menjadi.
Dia tidak tahu kenapa,tapi ada perasaan kecewa saat tahu Luna telah pergi.
"Seminggu yang lalu masakan kalian masih enak-enak saja."katanya kesal.
"Maaf tuan,seminggu lalu bukan kami yang membuat makanan."jawab pelayan pribadinya.
"Siapa?"
"Nona Luna."
Adam begitu kaget,tapi kemudian dia teringat dengan luka-luka ditangan Luna.
"Jadi karena itu tangannya terluka,seharusnya aku menyadarinya saat melihatnya."katanya dalam hati.
Adam mengusap wajahnya dengan kesal dan segera berlalu dari sana,dia segera naik kelantai atas dan masuk kedalam kamar yang ditempati Luna.
Dia segera membaringkan dirinya diatas ranjang,Adam memejamkan matanya,berusaha mencari jawaban dalam hatinya.
Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?
"Coba kau belajar dari adik mu!"perkataan Ben kembali terngiang dikepalanya.
Adam segera bangkit dan duduk diatas ranjang,dia mengambil ponselnya dan menghubungi adiknya.
"Claudia,apa kau bisa datang?"tanya nya
"Bisa,ada apa kak?"tanya Claudia disebrang sana.
"Yah,aku ingin berbicara padamu."
"Ya sudah,aku akan kesana.
Setelah mematikan ponselnya Adam kembali termenung menatap layar televisi,Adam menyentuh bibirnya dan kembali teringat ciuman mereka dikamar itu.
Dia mengingat bagaimana rasa bibir Luna yang lembut saat menyentuh bibirnya.
"Sialan!"makinya
Adam kembali membaringkan diri dan memejamkan matanya.
Tidak berapa lama Claudia datang bersama Kevin,dia tidak tahu apa yang akan dibicarakan kakaknya.sepertinya sesuatu yang penting.
Dia masuk kerumah itu dan melihat para pelayan bertampang lesu,sepertinya suasana hati kakaknya memang sedang tidak baik.
"Kakak ada dimana?"tanya nya pada pelayan pribadi kakaknya.
Pelayan itu menunjuk keatas,kearah kamar yang dulu dia tempati.Claudia dan Kevin saling pandang,kenapa kakaknya berada disana?
"Ada apa dengan kakak mu?"tanya suaminya.
"Entahlah,ayo kita lihat."
Claudia dan Kevin melangkah menaiki anak tangga menuju kamar itu bersama.
"Kak,apa kau didalam?"Claudia mengetuk pintu kamar itu dengan pelan.
Beberapa menit kemudian Adam membuka pintu kamar itu dengan tampang super kusut.pria itu melihat mereka kemudian kembali masuk kedalam kamar dan membaringkan diri diatas ranjang.
"Kak,ada apa?"
Claudia menghampiri kakaknya dan duduk disisi ranjang.
"Claudia bagaimana perasaan mu saat tidak bertemu dengan orang yang kau sukai?"tanyanya tiba-tiba
Kevin dan Claudia saling pandang,dalam hati mereka bertanya-tanya"ada apa ini?"
"Maksud kakak?apa kakak sedang menyukai seseorang?"
"Entah lah,aku juga tidak tahu!"
"Apa kakak menyukai Luna Kim?"
Adam segera duduk diatas ranjang.
"Kenapa kau bisa tahu orang yang ku maksud?"tanyanya heran.
Claudia tersenyum kearahnya.
"Aku asal tebak.kalau bukan Luna Kim siapa lagi,untuk apa kakak mengurung diri dikamar ini?"
Adam hanya diam saja dan menarik nafasnya dengan berat.
"Apa Luna sudah pergi?"tanya Claudia lagi
"Jadi dia tidak bisa mendapatkan hati mu?"
Adam hanya diam saja.
Claudia menggeleng dan memberikan Chris pada suaminya,setelah itu dia meminta Kevin keluar dari sana karena dia ingin berbicara berdua dengan kakaknya.
"Kak,apa kau tahu alasannya datang kemari?"
Adam menggeleng,memang dia tidak tahu karena dia menganggap Luna seperti perempuan gila yang tiba-tiba datang dan mengajaknya menikah.
"Dia tidak mau menikah dengan pria yang akan dijodohkan oleh orang tuanya dan memberanikan diri datang kemari.apa kakak tahu?"
"Karena dia sangat mencintai mu,walaupun kau akan membencinya tapi dia tidak perduli.dia hanya ingin membuat mu jatuh cinta padanya."
"Dari mana kau tahu?"tanya Adam.
"Waktu itu Luna bercerita pada ku."jawab adiknya
Adam menunduk lesu,permintaan Luna untuk dicintai satu malam kembali terngiang dikepalanya.
"Tapi kakak kan tidak menyukainya,jadi buat apa kakak seperti ini sampai semua terkena imbasnya."
"Apa kakak tidak kasihan dengan para pelayan dibawah,selalu harus menerima kemarahan kakak!"
"Kenapa berkata begitu?"tanya Adam
"Apa kau tidak menyadarinya,hanya karena keegoisan kakak mereka harus menanggung akibatnya.lebih baik kakak berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu."jawab Claudia dengan kesal.
"Kalau memang kakak tidak mencintai Luna seharusnya kakak senang dia sudah pergi dan tidak mengganggu kakak lagi."katanya lagi.
"Entahlah,aku tidak tahu apa yang terjadi padaku."
"Sejak dia pergi,aku selalu merasa ada sesuatu yang hilang.aku selalu mengingat tangisannya malam itu!"
"Seharusnya aku senang dia telah pergi,tapi ternyata?"
Adam menghela nafasnya dengan berat.
"Kak,apa kau tidak tahu?itulah perasaan cinta,saat kita tidak melihatnya lagi maka kita merasa ada sesuatu yang hilang.kita akan sangat rindu padanya dan selalu mengingat masa-masa saat bersamanya."
"Apa begitu?"
Claudia mengangguk
"Aku harap kakak jangan membohongi perasaan kakak terlalu lama kalau tidak kakak akan menyesal."
"Apa maksud mu?"
"Waktu itu dia mengatakan padaku,jika kau tidak mau menikah dengannya maka dia akan terpaksa menikah dengan pria yang dijodohkan oleh orang tuanya."
Adam segera bangkit berdiri saat mendengarnya.
"Apa itu benar?"tanya dengan cepat
Claudia mengangguk.
Luna akan menikah?hatinya sakit saat mendengarnya.
"Kalau begitu aku akan kekorea."katanya
"Untuk apa?"
"Mencegah pernikahannya!"
"Jadi kakak menyukainya?"
Adam mengangguk,memang saran Ben ada benarnya.dia sangat bodoh begitu lama menyadari perasaannya.
Adam segera memeluk adiknya dengan erat.
"Terima kasih,kau dewi keberuntungan ku."
Claudia tersenyum dan membalas pelukan kakaknya.
"Kak,bawa calon kakak ipar ku kembali."katanya
"Pasti!"
Adam segera keluar dari sana,meminta pelayan pribadinya memesankan tiket pesawat kekorea secepatnya.
Dia juga meminta sekretarisnya membawakan map yang diberikan Ben padanya,map berisi semua info tentang Luna.
Hari itu dia telah memutuskan untuk kekorea bertemu dengan perempuan gila yang telah mengacaukan hidupnya.
Setelah kepergian Adam,Claudia segera keluar dari kamar itu untuk menemui suami dan anaknya.
Mereka sedang bermain dan Claudia bahagia melihatnya.
"Kevin,terima kasih telah mencintai ku."
Claudia mengecup bibir suaminya sejenak.
"Hei,apa kau menggoda ku disini?"tanya Kevin menggoda nya.
"Tidak,aku hanya akan menggoda mu dirumah saja."katanya manja
Claudia memeluk suaminya,dia bahagia dengan keluarga kecilnya.dan dia berharap,kakaknya juga dapat menemukan kebahagiaannya.
"Kak,semoga kau berhasil!"katanya dalam hati