I'm Not Barren

I'm Not Barren
Memberi tumpangan.



"Pak,jam sembilan anda ada meeting dengan klient baru."


Lapor sekretarisnya melalui pesan whatsapp yang baru masuk keponselnya.


Briant meletakkan ponselnya dan segera menuju kamar mandi.


Setelah pindah perasaan nya benar-benar lega,dia sudah bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus mengingat-ingat masa lalunya.


Setelah selesai mandi dan berpakaian dia segera turun kebawah.


Ibu nya tampak sibuk menyiapkan sarapan bersama pembantu nya.


"Bu,bagaimana keadaan mu hari ini?"tanya nya


"Oh Briant,ibu sangat baik."


"Benar kata mu,setelah pindah dirumah ini suasana lebih baru."jawab ibunya


Briant tersenyum,dia segera meletakkan tas yang dipegangnya dan duduk diatas kursi.


Ibunya mulai sibuk mengambilkan sarapan untuknya,sejak kepergian Claudia dan Adelia sudah menjadi tugasnya mengambilkan makanan untuk anaknya.


"Briant,apa kau sibuk hari ini?"tanya nya


"Jam sembilan aku harus bertemu klient,Memangnya ada apa?"tanya Briant


"Tidak,ibu ingin pergi cek kedokter.takut tekanan darah ibu naik."


"Tapi karena kau sibuk tidak apa-apa,aku bisa pergi bersama bi Inah."


Bi Inah adalah pembantu yang sudah bekerja bersama mereka hampir sepuluh tahun.


Wanita itu sudah tahu pahit manis nya keluarga itu dan Briant sudah menganggap bi Inah seperti bibinya.


"Kalau begitu aku akan membatalkan meeting ku."


"Jangan...ibu bisa bersama bi Inah dan supir pribadi ibu,kau tidak perlu membatalkan meeting mu."tolak ibu nya


Briant menatap ibu nya sejenak.


"Apa tidak apa-apa?"tanya nya ragu


Ibu nya mengangguk dan tersenyum padanya.


"Segerelah habiskan makanan mu dan pergilah,ini sudah jam delapan."


Briant melirik jam ditangannya,benar saja jam sudah menunjukkan pukul delapan dan dalam satu jam lagi dia harus menemui klient nya.


Dengan cepat dia menghabiskan sarapannya dan meneguk segelas air putih yang sudah ibunya sediakan.


"Kalau begitu aku pergi dulu."


Briant bangkit berdiri dan meraih tas kerjanya,tidak lupa dia juga memberikan ciuman di pipi ibunya.


Diluar supir pribadi nya sudah menunggu,saat melihat kedatang Briant supirnya segera membukakan pintu untuk bosnya.


"Pagi pak."sapanya.


"Pagi,segera kekantor."perintahnya.


Supirnya mengangguk,saat Briant sudah masuk kedalam supir itu mengikuti bosnya masuk kedalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya.


Saat mobilnya mulai menjauh dari rumahnya tampak seorang wanita sedang berdiri didepan sebuah mobil berwarna merah yang sedikit mengeluarkan asap dipinggir jalan.


Mobil Briant melewati mobil wanita itu dan tanpa sengaja Briant melihat wanita yang sedang mondar mandir kebingungan didepan mobilnya.


"Berhenti."perintahnya


Supirnya segera meminggirkan mobilnya disisi jalan.


Briant segera keluar dari mobil nya dan melangkah menghampiri wanita itu.


"Hai,apa yang terjadi dengan mobil mu?"sapanya.


Jane memutar tubuhnya dan melihat Briant berdiri dibelakangnya.


"Oh my,penyelamat ku."ujarnya


Briant tidak mengerti dengan maksud Jane.


"Kenapa dengan mobil mu?"tanya nya lagi.


Briant melirik kearah Jane sejenak yang tampak panik.


"Kau mau kemana?"tanyanya


"Aku ingin kerumah sakit,entah kenapa hari ini begitu sial."


"Padahal aku sedang buru-buru."


"Bagaimana jika ikut dengan ku saja?"tawar Briant


Jane melihatnya.


"Apa tidak merepotkan hmm...tuan Briant?"tanya nya


"Tidak,sekalian jalan."


"Tolong jangan panggil aku tuan.panggil saja nama ku."


"Aku tidak bisa membatu mu membetulkan mobil mu karena aku tidak mengerti mesin,tapi dari pada terlambat bagaimana jika kau ikut mobil ku?"katanya lagi


"Tentu saja,selama kau tidak keberatan."jawab Jane.dia lega ada yang mau memberinya tumpangan.


Jane segera mengambil barang-barangnya yang berada didalam mobil dan segera mengunci mobilnya.


Dia segera mengikuti Briant masuk kedalam mobil pria itu.


"Kau mau kerumah sakit mana?"


Tanya Briant saat mobilnya sudah mulai berjalan kembali.


"Rumah sakit xx,tidak begitu jauh dari sini."


Briant berpikir sejenak,tapi kemudian dia memberikan perintah pada supirnya.


"Segera kesana."perintahnya.


"Aku sangat berterima kasih kau mau memberi tumpangan dan mau mengatar ku."Kata Jane dengan gembira.dia sangat senang bisa bertemu Briant dan pria itu mau mengantarkan nya.


"Tidak apa-apa,kita ini tetangga harus saling menolong."


Briant melihat ke arah Jane dan wanita itu juga sedang menatapnya.tapi saat Briant melihatnya Jane segera membuang pandangannya.


"Hmm...bagaimana kabar ibu mu?"tanya nya


"Baik."jawab Briant singkat.


Mereka hanya diam membisu,Briant tidak ingin banyak berbicara dan Jane tidak tahu harus berbicara apa.


"Tolong berhenti disini saja."pinta Jane saat mobil Briant sudah hampir tiba dirumah sakit yang dia tuju.


"Disini?tapi rumah sakitnya masih didepan sana."kata Briant


"Tidak apa-apa,aku ada urusan disini.terima kasih kamu sudah mengantar ku."


Jane segera mengambil barang-barangnya dan keluar dari mobil Briant,wanita itu segera berlari kecil naik keatas jembatan penyebrangan jalan.


Briant terus melihat Jane sampai wanita itu hilang dikerumunan orang-orang yang menyebrang jembatan itu.


"Jalan."perintahnya


Mobilnya kembali bergerak untuk menuju kantornya,sebenarnya rumah sakit yang dituju oleh Jane berlainan arah dengan kantornya.


Jadi dia terpaksa memutar jauh untuk tiba dikantornya.


Briant melirik jam dipergelangan tangannya,jam delapan lewat empat puluh lima menit,lima belas menit lagi dia harus menemui klient dan kemungkinan dia tidak bisa tepat waktu.


Dia segera meraih ponsel nya dan menghubungi sekretaris nya.


"Tolong hubungi miss Elin,katakan padanya jika aku akan terlambat menemui nya."


"Baik pak."Jawab sekretarisnya.


"Sekalian katakan padanya,temui aku direstoran."


"Jika dia setuju langsung booking tempat untukku."perintahnya lagi.


"Baik pak,saya akan segera menghubungi miss Elin."jawab sekretaris nya lagi.