I'm Not Barren

I'm Not Barren
di klub



"Nyonya Siska Pranata."panggil seorang suster yang bertugas.


"Iya."Ibu Briant segera bangkit berdiri saat nama nya sudah dipanggil.


Dia segera masuk kedalam ruangan dokter yang akan memeriksanya.


Disana duduk seorang dokter wanita yang sedang sibuk menuliskan sesuatu diatas kertas.


"Nyonya siska?"


Dokter itu mengangkat kepalanya dan kaget melihat ibu Briant yag berjalan kearahnya.


Ibu Briant juga kaget melihat dokter itu.


"Oh Jane,ternyata kau seorang dokter."katanya dengan gembira.


Jane tersenyum melihat tetangga barunya itu.


"Silahkan tante."


Ibu Briant segera duduk didepan nya.


"Apa kau sudah lama menjadi dokter?"tanya Ibu Briant


"Ya begitu lah,apa yang ingin tante periksa?"tanya Jane


"Biasa,penyakit orang tua.kau tahu?"


Jane tersenyum dan segera mengambil alat tes yang ada diatas mejanya dan segera mengambil darah dari ujung jari ibu Briant.


"Tante datang sendiri?"tanya nya


"Tidak,aku dengan pembantu ku."


Jane hanya tersenyum,dia segera menuliskan sesuatu diatas kertas setelah mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan ibu Briant.


"Semua bagus tante,cuma harus hindari makanan berlemak."


Jane menyodorkan kertas yang telah dia tulis pada ibu Briant.


"Terima kasih Jane."Ibu Briant mengambil hasil tesnya.


"Salam untuk anak tante."kata Jane saat ibu Briant hendak keluar dari ruangan nya.


Ibu Briant mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.


Karena kesehatan nya yang sudah membaik sehingga membuatnya tidak memerlukan dokter pribadi lagi.


Dia sangat senang mengetahui tetangga cantik nya itu ternyata seorang dokter.


"Nanti aku akan mengatakan ini pada Briant."pikirnya.


Setelah selesai ibu Briant segera mangejak pembantunya untuk pulang kerumah.


.


.


Sedang kan saat itu Briant sedang meeting dengan Klient nya direstoran yang telah dipesan oleh sekretarisnya.


Karena harus memutar jauh dan terjebak macet sehingga dia terlambat menemui klient barunya itu.


"Bagaimana?apa kau tertarik bekerja sama dengan ku?"


Tanya seorang wanita cantik yang sedang duduk didepan nya.


Briant tidak menjawab dan sibuk melihat berkas-berkas yang terdapat ditangannya.


Dia harus mempelajarinya dengan teliti berkas-berkas itu agar tidak terjadi kesalahan.


"Boleh kau beri aku waktu?"tanya nya


"Oh tentu saja,kau bisa membawa pulang berkas itu dan mempelajari nya."jawab wanita itu.


"Terima kasih,kalau begitu silahkan dimakan hidangannya miss Elin."


Wanita cantik itu tersenyum manis.


"Tuan Briant,bagaimana jika kita pergi melihat proyeknya."


"Mungkin setelah melihatnya kau bisa langsung memutuskan."


"Aku jamin proyek ini tidak merugikan dirimu sepeserpun."kata Elin.


Briant melirik wanita itu sejenak.


"Tidak perlu terburu-buru miss."


"Aku ingin mempelajari berkasnya dulu,jika memang menguntungkan tanpa melihat proyeknya pun aku akan langsung setuju."jawabnya.


Elin melihat nya dengan licik.


"Cih,sepertinya dia begitu hati-hati."pikir Elin dalam hati.


"Tentu tuan Briant,jika kau memang mau begitu aku akan menunggu."katanya


Mereka mulai menyantap makan yang dihidangkan didepan mereka.


"Semoga miss Elin suka dengan makannya."


"Terima kasih."jawab Elin singkat.


Briant meletakkan sendok yang sedang dipegangnya diatas piring dan melotot pada wanita itu.


"Tolong,jangan membicarakan masalah pribadi disini,aku tidak suka?"


Dia tidak suka membicarakan masa lalu nya yang sudah mati-matian ingin dia lupakan.


"Oh...maaf tuan Briant,aku tidak bermaksud menyinggung mu."


"Aku hanya bermaksud mengajak mu minum."


"Bagaimana jika kita ke bar malam ini,sesama single aku harap kau tidak menolak."ajak Elin.


Briant hanya menatapnya.


"Hanya minum segelas,bagaimana?"ajak Elin lagi


"Baiklah,jika itu keinginan miss Elin aku tidak bisa menolak."katanya


Elin tersenyum dengan puas.


"Terima kasih."jawabnya.


Setelah selesai menghabiskan makanan yang terhidang didepan mereka Briant segera meminta bill pada pelayan disana.


"Terima kasih atas hidangannya,nanti malam datanglah ke bar ini."


Elin menunjukkan sebuah kartu nama padanya.


"Kau tidak perlu menjemput ku,kita bertemu disana saja."kata Elin lagi


Briant segera mengambil kartu nama dari tangan wanita itu dan melihat nya.


"Baiklah,sampai ketemu nanti malam."


Setelah membayar dia segera bangkit berdiri,sekretarisnya mengambil berkas yang berada diatas meja dan mengikuti nya keluar dari restoran itu.


"Pak,kenapa anda menerima ajakan minum miss Elin?"tanya sekretarisnya


"Tidak apa-apa,hanya minum"jawabnya


"Tapi pak,anda harus hati-hati padanya,aku mendengar kalau wanita ini begitu licik."


Briant menarik nafasnya sejenak,Dia juga tahu jika klient barunya itu licik.


"Aku tahu."jawabnya singkat.


Mereka segera kembali ke kantor.


Malam nya.


Saat sudah tiba disebuah bar yang dia tuju,Briant segera turun dari mobilnya dan masuk kedalam.


Disana Elin sudah memesan sebuah meja dan menunggunya.


"Tuan Briant."panggil Elin


Perempuan itu telah menantinya dengan segelas vodka ditangannya.


"Maaf membuat anda menunggu."


Briant segera duduk didepan nya.


"Tidak apa-apa,aku suka menunggu apalagi pria tampan seperti mu."goda Elin.


Wanita itu segera menuangkan segelas vodka dan memberikan nya pada Briant.


Briant mengambil gelas itu dari tangan Elin dan tersenyum padanya.


Suara musik klub begitu hingar bingar memekakkan telinga,para wanita mulai bergoyang dilantai klub mengikuti irama musik.


"Mau joget dengan ku?"ajak Elin


"Maaf,aku tidak bisa."tolaknya


"Ayolah,hanya sebentar."ajak Elin lagi.


Tapi Briant kembali menolak,dia tidak terbiasa dengan situasi itu.


Elin segera pergi berbaur dengan orang-orang yang bergoyang mengikuti irama musik.


Briant melihat orang-orang itu sambil meneguk vodka ditangannya,tanpa sadar entah sudah berapa gelas vodka yang dia minum dan kepalanya mulai pusing.


Pandangannya mulai buram dan dia mulai sulit mengenali orang.


"Tuan Briant,apa kau baik-baik saja?"


Elin telah kembali dan melihat Briant yang sudah mulai mabuk.


Briant melihat wanita yang berdiri didepannya itu dengan pandangan buram,dia benar-benar sulit melihat dengan jelas siapa perempuan itu.


Dia segera bangkit berdiri dan memeluk tubuh Elin.


"Claudia sayang,jangan tinggalkan aku."


Briant berkata demikian karena dia sedang mabuk berat.


Elin tercengang mendengar nya.


Tapi kemudian wanita itu membalas pelukan Briant dan tersenyum dengan licik.