Hourglass

Hourglass
Seasone 1 End



Sementara itu di kediaman Briyan.


Briyan pun di beri tahu oleh pengawal yang nernama Satria. Orang yang setia berada di sampingnya lalu dia pun memberikan ponsel nya ke tuan nya. Supaya tuannya tau tindakan Arga.


"Nih!" ucap Briyan sambil memberikan ponsel nya ke pengawalnya lagi.


"Yang terpenting sekarang aku harus mengurus pemakaman orang tua ku dulu," ungkap Briyan.


"Aku ingin para Wartawan jangan sampai tau kediaman saya dan Papa. Saya juga ingin melakukan pemakaman Papa saya secara tertutup."


"Baik tuan. Kita akan atur semua."


Satria pun langsung pergi meninggal kan Briyan yang sudah di samping jasad sang Papa di dalam peti itu.


"Harusnya ini gak bakalan terjadi kalau aku gak melawan Jasson! Gara - gara Jasson! Aku sampai kehilangan Papa ku sendiri."


Briyan pun menyalahkan Jasson atas apa yang tidak pernah Jasson lakukan. Padahal sudah jelas kalau yang membunuh Papa nya adalah adiknya sendiri. Bahkan Briyan pun menyaksikannya sendiri, bagaimana ia membidikkan pistolnya ke sang Papa. Sebelum Polisi meringkus Ailee.


"Ailee. Aku sungguh tak habis pikir dengan mu!" bentak Briyan.


Briyan pun semakin ngamuk tak terkendali dengan masalah yang kini menghantam dirinya.


"Apa yang harus aku lakukan!" teriak Briyan di ruangan tersebut.


***


Sementara itu di kediaman Arga. Semua saling menunggu satu sama lain. Bahkan anak buah Arga yang berada di rumah mewah itu pun ikut menunggu di dalam rumah.


"Dewa. Hari ini mereka akan langsung pulang kan?" tanya si Prisil.


"Kata nya sih iya. Langsung balik setelah dari konfrensi Pers tersebut. Kalau kalian semua capek dan mengantuk tidur lah nanti kalau sudah datang biar aku kabararin aku bangunin maksudku," jelas Dewa.


Semua pun terdiam dan tak menanggapi ucapan Dewa.


"Kau ini! Apa - apaan! Mereka tuh menunggu keluarga mereka," bisik Felix sambil mendekatkan ke telinga Dewa.


"Ya kan kali aja. Aku kan menawari kalau gak mau yaudah."


Arga pun masuk ke dalam rumah nya.


"Daddy!" teriak sang anak yang sudah berada di tangga. Dirga pun lanhsung berlari sementara yang lain mendengar teriakan Dirga langsung menoleh Celine pun berlari ke arah suami.


Ia lun langsung mengendong Dirga saat berhadapan dengan sang anak.


"Kamu gak apa - apa kan?" ucap Celine sambil mengecek keseluruhan badan dan melihat depan belakang tubuh Arga. Serta mengecei kedua tangannya.


"Aku tuh gak kenapa - napa kok," ucap Arga sambil mengelus ubun - ubun Celine.


"Kan aku khawatir."


Sementara Karin melihat Jasson dan tanpa berkata apapun. Mereka saling menghindar dari tatapan masing - masing.


Sementara Leonard pun sama halnya dengan Arga memeluk sang Istri dan menggendong buah hati nya.


Arga pun langsung berjalan ke tengah dan berkata kepada orang tua nya dan mertuanya.


"Semua baik - baik saja Ibu, Mama, dan Papa. Nama perusahaan sudah bersih. Melly mau bersaksi tadi di hadapan Wartawan. Tapi karena kondisi Melly memperhatinkan jadi dia berada di rumah sakit untuk di rawat lukanya. Dia bersama anak buah yang lain. Sudah di jaga juga."


Sang Ibu dan Papa pun hanya tersenyum.


"Kalau begitu istirahat lah semua. Papa sidah mengantuk menunggu kalian," ucap sang Papa.


"Ibu juga mau tidur."


Sang Mama pun hanya menatap ketus ke semua anak dan menantunya.


Mereka pun masuk ke kamar masing - masing.


"Kalau gitu kamu buruan istirahat. Dirga biar tidur juga besok dia sekolah juga."


"Kalian semua selamat istirahat kalian sudah bekerja keras hari ini."


Arga dan Celine beserta anak nya pun berjalan Naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya. Begitu pula dengan Pricil dan keluarga nya. Karin pun juga ikut naik dan masuk ke dalam kamarnya.


Hingga jam telah menunjukkan pukul tiga pagi. Karin pun keluar dari kamar nya dan menuju dapur untuk mengambil minum.


Dia merasa kehausan saat ini. Karin pun menyalakan kembali beberap lampu saat dia di dapur.


Tak lama kemudian seseorang ada yang memeluk nya dari belakang merangkulnya serta menenggelamkan kepala lelaki itu ke bahu Karin.


"Tenanglah, ini aku. Jangan berteriak. Takut yang lain nanti ke bangun."


Karin pun langsung membalikkan tubuh nya dan melihat siapa yang sedang memeluknya.


"Jasson?" ucap Karin.


"Kamu ngapain jam segini ada di dapur?" tanya si Karin kembali.


"Aku menunggu mu keluar kamar. Kau sampai tak peduli padaku. Apa aku melakukan kesalahan?" tanya si Jasson.


"Jelas! Kau melakukan kesalahan. Kau menganggap ku apa! Kau selalu berbuat seperti ini seolah kita ada sesuatu. Tapi di kenyataannya aku tak pernah mendengar mu untuk bilang, aku mecintaimu. Gak pernah aku mendengar itu. Sebenernya apa hubungan kita!" bentak Karin.


"Tenang lah. Nanti semua orang akan tau kalau kita berdua ada di sini."


"Aku butuh kepastian Jasson!" ucap Karin sambil meninggikan suaranya.


"Aku mencintai mu Karin. Sungguh aku sangat Mencintai mu aku baru menyadari nya ketika kemarin aku bersama yang lain sedang mati - matian aku melawan beberapa musuh. Bahkan aku berhadapan dengan Briyan."


Karin pun terdiam terpaku menatap Jasson mengucapkan hal yang tak ia sangka di dalam hidupnya.


"Aku sungguh mencintaimu. Apa hal tersebut patut di utarakan? Seharusnya kan gak perlu juga."


"Bagi aku perlu!" bentak Karin kembali.


"Sekarang aku sudah mengatakannya. Bagaimana dengan mu?" tanya si Jasson.


"Kau sungguh tak menyukai ku lagi? Kau sungguh tak peduli pada ku lagi?" pertanyaan Jasson pun semakin membuat Karin tak bisa mengelak lagi.


"Aku haus. Aku mau minum dan langsung tidur. Siapa tau, ketika aku bangun semua jadi nyata. Ini seperti aku terbangun dalam mimpi."


"Kau sungguh tak mimpi. Ini kenyataan. Bagaiman?"


Karin pun terdiam sejenak dan menatap Jasson.


"Sungguh kau mengatakannya? Ini beneran Jasson? Jasson yang aku kenal? Tapi memang sih Jasson tak bisa sedikit romantis padaku."


"Jadi bagiaman?" tanya Jasson kembali.


Karin pun mengangguk dengan cepat. Jasson pun langsung memeluk Karin dengan erat.


"Aku sungguh tak menyangka Jasson! Kau mengucapkan kata hal indah kepadaku."


"Sekarang kamu balik tidur. Lagi," ucap Jasson.


"Aku mau minum dulu. Aku haus."


Mereka pun kemudian kembali ke tempat masing - masing.


***


Keesokan pagi nya Briyan pun mengubur jenazah Papa nya secara tertutup dan tanpa Awak media yang mengetahui nya.


Karena Briyan sudah meminta untuk anak buah nya mengurus hal tersebut.


Setelah dari pemakaman, Briyan pun langsung menuju restaurant yang kata nya di anggap sang Papa kalau dia ibu kandungnya.


Dirinya hanya perlu membawa kalaung yang terdapat Liontin foto dirinya semasa kecil dan sang Ibu.


Briyan pun langsung menjelaskan semuanya dan memberitahukan soal kalung yang di bawanya. Hingga akhirnya.


Seorang Wanita dewasa bernama Rosalia Malik pun memeluk Briyan dengan sangat erat.


"Kau sungguh anak ku Briyan?" ucap sang Ibu sambil terisak - isak.


Briyan pun menunjukkan foto orang tua Papa angkatnya dan semakin menangis dengan deras dan sejadi - jadinya.


"Aku ingin bersama dengan ibu ku yang selama ini tanpa ku ketahui bagaimana dia," jelas sang anak.


Sang Ibu pun sambil menangis dan memeluk Briyan sambil mengangguk dengan cepat.


Sementara itu di kediaman Arga sama halnya


mereka melakukan hal - hal yang sama mengantar anak nya sekolah dan menjemputnya.


Tak hanya itu Arga pun sambil melakukan pengecekkan perusahaan nya. Karena dia selalu waspada jika ada musuh lagi yang harus di lawannya.


Hourglas Seasone 1 Tamat..