
"Aku sudah tentukan dimana nanti biar Jasson sama Dewa yang antar kalian aku dan yang lain akan buat pengalihan saja," jelas si Arga.
"Aku akan ikut dengan mu," jawab si Leonard.
"Kalau gitu aku dan Kakak akan mengalih kan mereka sementara kalian ikut dengan Jasson dan Dewa.
"Kak Pricil ikut aja sama mereka. Kalau gitu aku akan pangil Dewa dan Jasson."
"Semua ini tergantung Papa dan Mama akan ikut dengan kita atau memang mau disini?" Leonard pun menanyakan hal tersebut kepada mertuanya.
"Kamu gak ada hak! Untuk mengatur saya!" bentak sang Papa.
"Papa! Hentikan! Jangan mikirrin ego Papa! Bisa gak!" Bentak si Arga sembari berdiri menatap ke sang Papa dengan penuh Amarah.
Celine pun meraih tangan Arga untuk tak melakukan hal gila. Arga memang harus bisa mengendalikan emosinya.
"Arga! Tujuan kamu bukan seperti ini ingat kamu," ungkap Celine.
"Tujuan kita kesini untuk membawa orang tua kamu ketempat aman bersama kita semua," ucap Celine kembali.
Orang tua Arga pun langsung bersamaan memandangi Celine. Begitu pula dengan Pricil.
"Saya hanya mengingatkan suami saya jika suami saya lupa akan tujuannya," jelas Celine kembali ke semua yang ada di tempat tersebut.
Peringattan Celine membuat Arga tersadar dia memang tak harus melakukan hal yang tak penting yang harus ia pikirkan adalah musuh yang sudah di depan yang siap menerkamnya.
Arga pun langsung duduk kembali.
"Aku akan menelfon Dewa sekalian membawa orang tua Celine dan Dirga," Arga pun langsung pergi sambil meraih ponsel di dalam sakunya.
"Maff saya ke suami saya sebentar." Celine pun langsung berjalan di belakang suaminya.
Berjalan cukup jauh hingga menampilkan sebuah Piano mewah disana dengan jendela besar yang menghadap langsung ke arah jalanan sebelum dia masuk ke rumah utama tadi.
"Dewa! Kau segera bawa Dirga dan Ibu sesuai rencana kita. Jasson untuk segera menjemput saya ke rumah saya," ungkap Arga di dalam telefon tersebut.
"Em. Soal Jasson sepertinya dia punya masalah."
"Ya tuhan apa lagi!" teriak si Arga.
"Karin. Kamu tau kan pegawai mu itu. Dia diikuti oleh segerombolan musuh yang akan menyerang kita. Aku sudah melihat ponsel Jasson tadi dan memang benar penguntit itu sedang memburu Karin."
"Nanti aku telfon lagi."
Sambungan telefon pun terputus saat itu juga.
"Kenapa? Apa ada hal lain?" tanya sang Istri tersebut.
"Karin."
"Kenapa dengan Karin? Mereka berantem sama Jasson? Apa aku harus menghubungi Karin? Apa mereka-"
"Sudahlah, biar aku fikirkan cara lain."
"Gak bisa! Aku harus telefon Karin kalau dia dalam bahayakan? Aku tadi dengar kamu telfon tadi. Aku akan coba kasih kabar ke Karin."
Celine pun langsung berlari kembali dan mengambil tas nya yang berada di ruangan pertemuan tadi.
Sontak orang - orang yang sedang menunggu kepastian Arga melihat Celine panik begitu membuat semua Khawatir juga.
"Apa ada masalah?" tanya si Pricil sang Kakak ipar tersebut.
"Ach tidak. Ini aku cuman mau menghubungi teman kerja ku saja. Gak ada hubungannya dengan ini, maaf jika membuat kalian panik semua."
Celine pun langsung menuju ke sang suami kembali.
Tak lama kemudian Celine pun langsung menelfon Karin dan mengloudspeaker telfonnya.
Berulang kali Karin memang tak mengangkat nya. Namun pada saat telefon ke dua.
"Karin!" teriak Celine dalam telefon tersebut.
"Ada apa Celine?"
"Kamu di mana! Kasih kabar ke Jasson! Sekarang ini penting! Jasson dalam bahaya jika dia mencari mu di luaran sana. Kita semua butuh dia dan kamu ikut Jasson! Apapun itu aku gak peduli! Kabari dia Karin! Aku minta sam kamu!"
"Tapi Cel-"
Celine pun langsung menutup telefon tersebut. Walaupun Karin bingung dengan perkataan Celine. Namun Karin mengikuti apa kata sahabat nya itu.