Hourglass

Hourglass
9. Pergi



"Berhubung aku gak ada jadwal sekarang kamu ikut saya ke sekolahan nya Putri," tutur Arga.


"Jadi namanya Putri Gadis Cantik itu??" tanya Celine dalam hati.


"Nglamun lagi !!" Bentak Arga.


"Maaf Pak, sa, saya,-"


"APA!!!" bentak si Arga.


"Mau bicara apa kamu!!" bentak Arga kembali.


"Saya hanya ingin selesaikan aktifitas bapak secepatnya. Karena saya-"


"Apa!!! Anak kamu ?? Kepikiran sama anak kamu !! Iya!!" bentak Arga kembali.


"Bagaimana dia bisa tau kalau aku,- aahh sudahlah," Batin Celine kembali sembari mengangguk untuk menjawab pertanyaan Arga tadi.


"Terserah saya !! Mau saya pergi lama atau tidak !! Ngapain kamu ngatur hidup saya !!" Bentak Arga kembali.


Arga pun kemudian berjalan ke Arah mobil mewah nya.


"Tadi ngapain juga tak makek sopir." Batin Arga.


"Lama '- lama kesel juga. Kaya gini terus.!!" Gumam Arga.


Namun Celine tak mendengar kan gumaman Arga tadi


"Apa bener dia memang anak kamu? Apa kamu sudah menikah ??? Tapi bagaimana kamu bisa melupakanku secepat mungkin?? " Batin Arga kembali.


Ia pun kemudian membuka pintu mobil tepat ia nanti menyetir.


"Ngapain !! Kamu duduk belakang !! " Bentak Si Arga kembali .


"Tap..tapi pak - "


" Duduk depan !! Aku bukan sopir disini!!" Bentak nya kembali.


Celine pun hanya menurut saja.


"Entah kenapa celine rasanya kesel sekali jika dia mulai membahas anak nya. Jika saja anak itu anak ku, aku tak masalah, namun jika itu anak orang lain itu membuat ku kesal. " Batin Arga kembali.


Arga pun mendengus kesal. Ia kesal dengan pikirannya sendiri. Sembari menyetir Mobil tersebut.


"Kenapa juga marah perkara duduk depan atau belakang. Bisakan bicara nya nyantai aja marah mulu ga capek apa" batin Celine sembari sesekali memandang Arga sekilas.


"Apakah ini saat nya untuk menjemput putri pak,??" Tanya si Celine sembari membuka lembaran - lembaran dokumen yang sudah di berikan Arga.


"Iya."


Celine pun kemudian diam di dalam mobil tersebut sampai dengan sekolahan Putri.


Celine sempat bengong melihat sekolahan yang cukup mewah dan besar seperti ini.


"Yaa tuhan anak ku sendiri bahkan darah daging ku sendiri saja hanya mampu menyekolahkan sekolahan yang biasa nah dia anak kita sendiri tidak dia perhatikan." Batin Celine sendiri.


"Andai saja kau tau Arga. Kau memiliki anak. Apakau akan memperlakukan aku dan anak ku dengan baik. Kalau pun tidak bisa baik pada ku setidaknya berbaiklah kepada anak mu sendiri," batin Celine yang saat ini Celine memang terlalu banyak membatin dari dalam dirinya.


"Melamun lagi !! Sebenernya ! Apa yang kau fikirkan !! Aku gak mau selama masih jam kerja kamu tidak memikirkan pekerjaan !! Buang pikiran yang lain pikiran mu fokuskan pada pekerjaan !! Ingat !! Ini masih jam kerja, aku gak mau tau itu !!"


"Baik."


Celine pun kemudian ingin membuka pintu mobil.


"Mau kemana kamu!!."


"Saya mau menunggu di depan Pak, lagi pula saya haus mau beli Coffee di depan sekolah."


Arga pun langsung terdiam melihat Celine yang sudah keluar dari mobil nya.


"Tunggu Celine!!," teriak Arga sembari menutup pintu mobil nya dan berjalan ke arah Celine.


"Bapak mau ikut dengan saya ??"


"Saya ikut karena saya suka kopi, kamu tau itu kan," ucap Arga yang langsung berjalan mendahului Celine.


Celine pun hanya tersenyum simpul melihat kebiasaan Arga yang masih sama seperti dulu, hanya saja, sekarang sikap nya berubah kepadanya.


Celine pun kemudian berjalan mengikuti Arga di belakangnya.


"Nanti setelah memesan kopi kita minum di sana, aku takut Putri udah pulang kita gak tau."


"Baik Pak."


Benar saja mereka pun langsung menuju Cafee tersebut.


"Aku ice Coffee Moccachino no sugar," ucap Celine sembari mengambil uangnya di dalam tas.


"Aku Americano satu."


Beberapa saat kemudian


"Ini Americano satu sama Moccachino no surgar satu."


Celine dan Arga pun sama - sama mengulurkan tangan ke penjual untuk membayar pesanan nya.


"Punya saya saja," ucap Celine sembari memberikan uang ke penjual tersebut.


"Maaf ya tuan, cafee ini hanya menerima cash saja karena belom memiliki dompet digital," jelas sang penjual tersebut.


Celine pun kemudian balik lagi menunggu Putri di tempat semula.


"Besok saya akan bayar."


"Tida usah Pak, saya gak masalah kok dari pada saya harus menanggung hutang ke Bapak saya yang tidak enak hati."


Mereka pun kemudiam kembali ke mobil lagi.


"Tunggu di dalam saja," ucap Arga sembari membuka pintu mobilnya yang disusul pula dengan Celine.


* Suara ponsel Celine pun berbunyi.


Celine : Hallo ibuk.. gimana Dirga buk?? Semua baik kan?


Ibuk : Baik Celine sekarang Dirga sudah tidur karena pengaruh obat.


Celine : baiklah kalau begitu aku kira ada apa aku masih belum bisa pulang ya buk, masih ada kerjaan.


Ibuk : cepat pulang ya Celine, Dirga mencari mu terus dan menyebut namamu terus.


Celine : baik ibuk setelah selesai kerja Celine langsung Balik. Titip Dirga ya ibuk.


Ibuk : hati - hati kamu kalau pulang.


Celine : baik buk, ibu kalau sudah mengantuk kunci saja, Celine bawa kunci cadangan kok ibuk.


Ibuk : iya,


Celine pun kemudian menutup telfonnya.


"Anak kamu," ucap Arga sembari meminum kopi Americano yang ia pesan.


"Iya, anak aku. Dia anak yang hebat tampan, tinggi, putih, semua ikut bapak nya, hanya saja sikap nya mungkin mengikuti ku,"ucap Celine sembari tatapannya melihat dengan nanar apa yang ada di hadapannya.


"Kamu udah nikah Celine ??"


"Ngapain Bapak tanya kehidupan pribadi saya. Ini kan kehidupan saya," ucap Celine menatap tajam ke Arga.


"Kamu tau !! Entah mengapa saya membencimu Celine !!."


"Saya tau dan Bapak tidak usah memperjelas lagi."


"Saya paham dengan posisi dan keadaan saya, bahkan saya tidak berpikiran untuk kembali seperti dulu dengan Bapak Arga yang terhormat."


Arga pun diam beribu bahasa. Dia hanya bisa menahan Celine mengucapkan kata yang membuatnya masih terasa sakit hati seperti dulu, saat mereka bersama.


"Siapa dia Celine !!!," ucap Arga yang marah dengan bersungut - sungut.


"Bukan urusan Bapak dengan siapa saya menikah!!" bentak Celine kembali.


Karena dia masih merasakan sakit yang teramat sangat dengan kisah hubungannya dengan Arga ayah biologis Dirga.


Padahal Ayah kandung Dirga memanglah orang yang sangat terpandang.


"Andai aku bisa jujur aku berkata dia anak mu, tapi aku tak bisa melakukan itu," batin Celine kembali.


"Akhirnya Putri sudah dateng setidaknya dia menyelamatkan ku dari suasana yang aneh ini."


Arga pun kemudian membuka pintu nya dan keluar dari mobil. Sedangkan Celine memandang nya dari dalam mobil dan keluar juga dari Mobil.


"Itu siapa pah ??," tanya sang gadis kecil tersebut.


"Halo gadis cantik tante namanya tante Celine, Asisten nya Papah nya Putri, " Ucap Celine sembari tersenyum dan memandang lekat Putri.


Bahagianya kamu gadis kecil, mendapatkan seseorang yang sangat peduli dengan mu, beda dengan Dirga, walaupun Papa nya masih hidup dia tak tau soal keberadaan dan status Dirga.


Mereka pun kemudian mengantar kan putri balik kerumah.


"Papah Arga ayok kita main di mall aku ingin main disana. Bareng tante Celine juga."


"Tapi kamu kan baru pulang sekolah apa gak capek. Papah Arga gak mau lohh kalau kamu sakit."


"Gak, kemaren sudah batal main dengan ku sekarang aku ingin main ke mall. Sekarang!!" Tandas si Putri.


"Ya sudah kita main ke mall."


"Asssiikk makasih Papah Arga. Tante kita bisa main sepuasnya."


"Iya Putri, kita bisa main sama - sama yah senang nya," ucap Celine sembari tersenyum melihat gadis cantik ini.


Mereka pun kemudian main di salah satu mall terbesar dan terlengkap di Jakarta.


Sesampai nya disana benar saja Putri langsung bahagia nampak dari raut wajahnya.


"Aku mau makan Papah Arga."


"Kamu mau makan?? Putri laper??" Tanya si Arga.


Putri pun mengangguk.


Sedangkan Celine hanya menatap nanar Arga.


Dari dulu dia tak pernah berubah, dia masih Arga yang Celine kenal, masih menyukai kopi kesukaaannya dan masih menyukai anak kecil.


Celine pun tersenyum tipis dan menatap mereka dari belakang.


"Ayok tante Cantik !!! Sini!!" Ucap gadis cantik tersebut sembari mengayunkan tangan nya untuk datang padanya.


Arga pun menoleh kebelakang dan menunggu Celine.


"Kamu !! Bisa cepat tidak !! Kalau jalan!! Aku gak mau ya tiba - tiba kamu hilang disini gimana!! Gak lucu !! Tau!!" Bentak si Arga sambil mengendong Putri.


"Baik Bapak Arga."


"Papah Arga jangan marahin Tante Cantik. Tante cantik. Maaffin papah Arga ya," ucap Gadis kecil tersebut.


"Tante gak apa - apa kok sayang," ucap Celine sembari tersenyum dan mencubit gemas hidung Putri.


"Walaupun Papa Arga terlihat seperti ini tapi Papa Arga baik kok tante. Aku ingin Tante sama Papa Arga."


"Putri. kamu itu masih kecil. Jangan bicara yang belom menjadi umur kamu ngerti kan Putri," ucap Si Arga sembari menuju makanan cepat saji.


"Tapi Putri serius Papah Arga. Jangan sama tante Ailee. Dia jahat!!"ucap Putri.


"Ailee?? Siapa dia? Ya tuhan mengapa aku jadi penasaran begini dan Ailee nama perempuan kan?? Mengapa aku jadi syok begini." Batin Celine kembali.


"Sudah sudah sekarang kita makan," ucap Celine.


Arga pun terdiam dan tak menjawab apapun soal Ailee.


Tentu saja ia tak memberikan penjelasan apapun soal Ailee. Karena baginya itu bukan hal yang penting.


Karena ia masih berfikiran bahwa Celine sudah tak mencintai nya kembali.


Arga berhari - hari sudah menyadari bahwa ia masih mengharap kan Celine ketika ia pertama kali bertemu dengan nya kembali.


Namun ia selalu mengelak dan mengelak hingga akhirnya dia benar- benar sadar.


Ketika Celine sudah memiliki anak lelaki. Namun Celine tak pernah memberi tahu siapa ayah dari anak lelaki tersebut.


Hingga akhirnya ini membuat Arga tak nyaman dan ingin mencari tau siapa anak yang bersama Celine. Hingga Celine telah memiliki anak lelaki ini.


Karena setau Arga Celine adalah anak pertama dari kedua orang tua nya atau Anak tunggal.


Setelah mereka makan. Makanan cepat saji benar saja Putri langsung main di ice skating.


"Tante gak ikut masuk ??" Tanya si gadis kecil tersebut.


"engak sayang," jawab Celine sembari membelai lembut ramput si Putri.


"tante gak bisa mainnya gak bisa menggunakan spatu nya jika jalan di sana," ucap Celine.


"nanti papa Arga ajarin kok tante tenang saja."


"iya kan Papah Arga. Bakalan ngajarin Tante Celine kan," ucap Putri kembali.


"Kalau kamu gak mau ikut ya udah kamu tunggu sini. Tapi kalau kamu ikut aku jarin kamu main Ice Skating," ungkap si Arga.


Celine pun mendongakkan mukanya ke atas untuk menatap Arga.


Celine pun tersenyum dan


"iya tante ayok ..!! Papa Arga mau ajarin tante. Biar kita bisa main sama - sama," ucap Putri kembali.


"Ya udah tante mau."


"assikk!!" Putri pun kegirangan mendengar jawaban Celine.


kemudian mereka bertiga pun akhirnya masuk kedalam permainan Ice Skating.


Berulang kali main dan terjatuh namun Arga tetap masih membantu nya berdiri. Sesekali tatapan mereka beradu pandang dan sadar dengan tatapan dari masing - masing mereka.


"maafkan aku, aku tak bisa mainnya."


"kau nanti juga bakalan bisa kalau sering berlatih."


"tante ayok tante pasti bisa," ungkap si putri yang dengan lihai nya bisa bermain dan menikmatinya.


"aku tunggu di luar saja aku capek," ucap Celine.


"kau capek ?? Ya sudah aku antar kau ke depan dulu."


"Tapi Putri gimana??"


"Putri!! Papa Arga anter tante dulu ya di luar tante Celine sudah capek."


"okee!!" Teriak si putri.


Arga pun kemudian membantu Celine untuk duduk di luar.


"Sudah kau kembali saja dengan Putri aku akan menunggu di sini saja," pungkas Celine.


"ya udah kalau gitu."


Arga pun kemudian pergi kembali menyusul Putri.


Celine menatap punggung Arga yang telah menjauh dari pandangannya.


"semua masih sama, aroma tubuh mu, parfum mu, kesukaan mu, kebiasaan mu. Semua sama. Tapi, kenapa kau terkadang berbeda untuk menyikapi ku Arga. Kalau kaya gini gimana aku bisa move on dari mu Arga. Kau jahat !!" Gumam Celine.


Celine pun kemudian mengambil obat dalam tas kecil yang slalu dia bawa. Yaitu obat anti depresi.


Selama bertahun - tahun Celine mengalami hal sulit sehingga membuat nya Depresi. Hingga kadang dia sering berkonsultasi ke dokter.


Namun dokter memberikan obat untuk Celine. Yang harus dikonsumsinya jika gangguan depresi itu slalu muncul.


Tak heran jika Celine selalu membawa obat ini, dia belum bisa lepas seutuhnya dari obat tersebut. Walaupun kadang ada efek samping dari obat tersebut.


Bersambung