Hourglass

Hourglass
Bersiap



"Belom apa - apa udah berantem," ungkap sang Papa.


"Papa jangan seperti itu," Pricil pun mengingatkan orang tuanya.


Arga pun kemudian menenangkan sang Istri.


"Sudahlah. Di depan ada Mama sama Papa. Kita temui mereka."


"Aku-"


"Kenapa? Kamu itu istri ku jangan seperti itu lagi."


Celine pun mengguk sambil menghapus air matanya.


"Kita kasih tau soal Dirga."


Celine pun memgangguk kembali dan Arga mengandengnya.


***


"Kenapa Tuan Arga bisa tau aku ada di sana?" Jasson pun berucap ke dewa yang sudah berdiri di sampingnya.


"Oh aku ingat. Pasti Hendra?"


"Tentu saja! Siapa lagi anak Teknik yang bisa di handalin selain dia. Kalau kamu bilang dan tanya soal bidik pakai pistol atau panah baru bisa ku jawab dengan gamblang dan jelas."


Jasson pun tersenyum.


"Kamu kalau suka ama dia jangan tempattin dia ke buaya lagi."


"Aku tau," jawab Jasson singkat.


"Tau apa kau! orang anak orang kamu bikin baper sekarang di bikin jatoh ke lobang buaya. Kasian bat orang yang udah sayang sama Jasson jatoh ke lobang buaya."


"Udah deh! Mendingan pergi sana! Keluar!" bentak si Jasson.


"Tau deh yang gak mau di ganggu."


Dewa pun tertawa melihat teman nya yang sedah bergalau ria.


"Dewa! Ngeselin!" teriak Jasson lagi.


"Awas kalau kamu teriak dia bisa bangun loh denger teriakan elo," jawab Dewa sambil berjalan keluar kamar.


Sekarang di ruangan itu pun hanya ada Jasson dan Karin yang masih tertidur.


"Ya tuhan! Kamu sampai seperti ini memar di mana - mana. Bekas tamparan dan jambakan itu gak akan aku lupakan itu semua. keluarga Briyan harus habis semua. Jika mereka membalaskan dendam soal kematian Briyan si breng*ek itu akibat ulah tuan, sudah pasti aku yang akan membunuh nya. Aku harus balaskan dendam ini," Jasson pun membulat kan tekat nya saat itu juga.


***


Sang anak buah pun menunggu tuan nya di depan kamar. Ia tak mau jika tuan nya berada di dalam tak mau menganggunya.


"Kamu kenapa disini? Ada apa?" tanya si Arga.


"Semua sudah saya siapkan."


Arga pun terdiam dan mengangguk. Dewa pun langsung berjalan kearah Arga.


"Bawa keluarga ku semua. Bawa sampai keluar dari perbatasan kota ini. Nanti biar si Hendra urus semua nya di sana. Dia udah siap disana.


"Oke."


"Ada apa ini?" tanya sang Papa.


"Apa semua baik - baik saja?" tanya sang Papa kembali.


"Apa semua sudah siap untuk berangkat Arga?" tanya sang Ibu mertua.


Arga pun mengangguk.


"Kalian semua ikut Dewa bersamaan dengan Jasson. Semua mobil sudah siap di depan. Aku akan menggunakan mobil ku yang sering aku pakai untuk mengalihkan mereka semua untuk pergi di kota lain. Sementara anak buah yang lain ikut aku."


"Siap tuan!" seru sang anak buah semua.


"Aku ikut kamu!" teriak Celine saat itu juga


"Aku gak mau ninggalin kamu sendiri di sana."


"ya udah. Kalau kamu mau ikut."


"Arga! Serius kamu mau ajak istri kamu?" tanya si kakak ipar.


"Dirga mau sama Daddy dan Mommy! Dirga gak mau berangkat kalau tanpa kalian!" teriak si dirga juga.


"Tuhkan, kamu liat Dirga jadi ikut."


"Dirga sama omma saja, Daddy lagi melawan musuh jahat yang mau mencelakai kita semua," ucap sang Omma memberikan pengertian ke Dirga.


"Sudah Celine kamu ikut kita saja." ucap sang Mama.


"Mama?" ucap Celine saat itu juga terlepas ia tak sadar kalau dia memanggil orang tua Arga dengan sebutan Mama.


"Aku gak ingin kamu kenapa - napa nanti malah Arga gak fokus. Gak usah berlebihan gitu! Cepat! Kamu ikut kita! Arga sudah memikirkan hal ini kamu jangan bikin ribet!" bentak sang Mama.


Celine pun tersenyum dan memandang Arga sekilas. Arga pun juga tersenyum juga.


"Baik," jawab Celine sekilas.


"Kamu jaga diri kamu! Kamu harus kembali! Kembali dengan utuh dan selamat! Ini perintah! Dari aku!" bentak Celine kembali.


Arga pun langsung memeluk sang istri dan menciumi kening sang Istri.