Hourglass

Hourglass
Siapa cepat dia dapat



Briyan pun langsung kembali ke rumah nya kembali. Pembicaraan sang Ibu tadi membuat nya sedikit berfikir.


"Apa benar Keluarga itu segalanya? Tapi, selama aku hidup aku tak pernah tau apa itu keluarga," ungkap Briyan saat dia sedang arah kembali.


"Kalau di fikir, ibu itu kasihan juga masa lalu nya. Dia sampai kehilangan sang anak. Perkara Ekonomi memang membuat keluarga bisa terguncang. Seperti Hal nya Ibu tadi," Briyan pun bergumam sendiri di dalam mobil nya sambil menyetir.


"Semoga anak sang Ibu masih hidup dan di pertemukan kembali ke orang tua nya. Aku merasa mengobrol dengan nya lebih nyaman dari pada keluarga ku sendiri. Jadi aku kasihan jika sang Ibu sampai harus kehilangan sang anak," ungkap Briyan kembali.


Namun karena Lamunan Briyan membuat briyan hampir menabrak tukang sayur di depannya.


"Bagaimana kau ini! Naik mobil kok begitu!" ucap sang tukang sayur tersebut.


Briyan pun langsung turun dari mobilnya dan berkata , "Maaf pak, saya tidak sengaja. Apa bapak tidak apa- apa? Perlu saya ganti tidak?" ucap Briyan ikut panik juga.


"Gak ada Mas, cuman kalau makek mobil yang benar! Disini ramai!" bentak sang tukang sayur kembali.


"Baik Pak, maaf kan saya."


Briyan pun kemudian melihat sang tukang sayur itu pergi menjauh. Lalu ia masuk kembali kedalam mobil.


"Ya tuhan! Masalah ini sungguh membuat ku beban."


Briyan pun langsung melajukan kembali mobilnya dengan cepat balik ke rumah.


Sesampai nya di rumah Briyan pun berpaprasan dengan Ailee.


"Kau mau kemana?" tanya si Briyan.


"Bukan urusan kakak! Urus aja masalah kakak sendiri!" bentak si Ailee.


Briyan pun langsung meraih tangan Ailee.


"Kamu kenapa sih seperti ini! Apa salah kakak! Kenapa kamu sebenci ini sama kakak!" ucap Briyan


"Kakak masih gak merasa! Waktu itu kakak ngejar Karin sudah berapa banyak anak buah kita mati sia-sia! Hanya karena urusan kakak pribadi!" bentak Ailee kembali.


"Ingat ya kak! Kalau bukan karena Papa ngijinin kakak aku gak akan menyerah kan anak buah itu di tangan Kakak!" bentak Ailee kembali.


"Ingat juga! Kamu seperti ini juga mengejar Arga! Ingat! Kamu. Kamu juga sama - sama mengejar ego kamu! Jangan kamu sok mengurui kakak!" bentak Briyan kembali.


"Kalau saja Mama dulu gak ambil kakak! Kakak! Gak akan hidup mewah! Bersama kita!" bentak Ailee kembali.


"Ailee!" teriak sang Papa, yang tiba - tiba menimpai pembicaraan mereka. Sang Papa pun langsung berjalan ke arah Ailee dan menamparnya.


"Sejak kapan! Kamu berani sama Kakak mu! Ingat! Kamu juga bukan anak dari istri sah saya!" tandas sang Papa.


Ucapan sang Papa pun membuat Ailee dan Briyan juga syok serta terkejut seperti tersambar petir di sore hari.


"Papa berani ngatain Ailee seperti ini!" bentak Ailee kembali.


"Sudah Papa tegaskan! Kalau kita harus fokus ke musuh! Bukan saling berantem seperti ini! Tenaga kalian buat menghabisi musuh! Bukan seperti ini!" bentak sang Papa kembali.


"Maaf kan Briyan Pa. Briyan gak seperti ini lagi."


"Ailee juga Pa. Aku minta maaf juga sama kamu kak!" ucap Ailee.


"Sekarang kita fokus ke rencana awal."


"Sekarang. Kamu mau kemana ailee!" bentak sang Papa.


"Ailee bakalan ketemu sama Melly Pa. Orang suruhan Papa untuk menghancurkan perusahaan Arga waktu itu."


"Melly?" sang Kakak pun bertanya.


"Melly adalah orang suruhan Papa yang ia bayar banyak untuk dia menghancurkan Bossnya sendiri."


"Maksud nya kalian menyuruh orang dalam untuk menghancurkan Arga?" ucap Briyan.


"Begitulah. Terus kamu udah ketemu Melly?" tanya sang Papa.


"Anak buah sudah aku suruh untuk mencari nya dan menahan dia."


"Baiklah. Unting saja Melly cepat kita tangkap kalau tidak bisa - bisa Arga yang akan menemukannya bisa kacau kalau terbongkar."


"Tapi seprti nya Mereka sudah tau Pa. Kalau kita uang menyerang," ungkap Briyan.


Sang Papa pun memerintahkan Ailee untuk mengurusnya, kalau - kalau Arga mencari si Melly.


***


Namun di kediaman Arga. Setelah mereka makan bersama sore harinya. Arga pun menuju ke mess pengawal.


"Hendra," ucap Arga masuk ke dalam mess sambil berjalan ke kamar Hendra. Namun karena Hendra sudah mendengar nya ia pun langsung keluar dari kamarnya dan menyambut boss nya sendiri.


"Kamu udah ketemu?" tanya si Arga.


"Sepertinya kita kehilangan jejak bahkan ponsel yang sudah ku sadap sebelum nya juga sudah berada di salah satu sungai. Anak buah sudah saya suruh untuk mencari ponsel di titik lokasi tersebut," jelas Hendra.


"Jadi maksud kamu, Ponsel yang kamu sadap sudah di buang oleh penggunanya?" ungkap Arga.


"Spertinya Melly sudah sadar kalau saya menyadap telfonnya."


"Sial*n!" umpat si Arga.


Arga pun langsung memijat keningnya dan tertunduk sambil berfikir.


"Seepertinya Melly sengaja membuang ponsel tersebut."


"Aku tau itu. Tapi aku tak mengira kalau dia sadar telfonnya kita sadap."


"Padahal saya juga sudah bermain halus supaya sang pemilik ponsel tidak mengetahuinya," jelas Hendra.


"Sebentar menurut kamu seperti itu. Apa Melly juga di incar dengan yang lain? Kalau penjelasan kamu secara gak langsung orang biasa gak akan tau kalau ponselnya di sadap Hacker. Apa mungkin Melly bisa mengetahui sendiri atau dia bisa jadi di tangkap orang yang menelfonnya juga?" ucap Arga.


"Antara dua kemungkinan itu tuan. Jadi yang menculik Melly dia bisa tau kalau selama ini saya menyadapnya jadi dia menculik Melly."


"Bisa jadi kemungkinan yang kedua," ungkap Arga sambil berfikir dan memegang dagunya.


"Saya akan coba sebisa saya untuk melacak Melly tuan."


"Lakukan yang kamu bisa kerahkan pengetahuan kamu untuk menangkap Melly," Perintah si Arga.


"Baik tuan."


Arga pun kemudian pergi meninggalkan mess namun dia berpaprasan dengan Jasson dan Jasson pun langsung tertunduk hormat.


"Jasson," pangil si Arga. Arga pun kemudian berbalik menatap Jasson.


"Kenapa tuan?" ucap Jasson sambil berjalan ke arah Arga.


"Kamu ikut keruangan saya masuk ke dalam sebentar. Ada hal yang ingin saya tanya kan ke kamu."


Arga pun langsung berbalik lagi dan berjalan ke arah rumah nya.


Arga lun langsung masuk ke dalam rumah nya melewati anak tangga. Begitu pula dengan Jasson ia mengikuti langkah kaki sang tuan.


Ia juga melihat Karin yang berada di taman depan rumah Arga. Bersamaan dengan Dirga.


Jasson pun menatap Karin begitu pula dengan Karin ia menatap Jasson yang masuk ke dalam rumah Arga.


Arga pun terdiam dan berbalik arah sambil saling melihat Jasson dan Karin.


Arga pun tersenyum sekilas dan berkata, "Kenapa kamu diam saja di situ," ucap Arga.


Ucapan Arga pun membuat Jasson membuyarkan pandangannya dan langsung berjalan mengikuti Arga lagi.


"Kita bicara saja di halaman belakang yang ada tamannya juga supaya kamu gak gugup sama saya," ajak si Arga.


"Saya mengikuti tuan saja mau di mana saya bisa mengatasi kegugupan saya," jawab Jasson.


Lagi - lagi Jasson pun langsung berjalan mengikuti Arga dengan kemauan Arga yang tadi ia ucapkan kepadanya.


"Arga? Kamu mau kemana?" ucap sang Mama.


"Saya ada urusan dengan Jasson ma di halaman belakang. Mama bisa main di depan sama Karin dan Dirga."


Arga pun langsung melanjutkan jalan nya kembali untuk menuju taman belakang.