
"Mama! Syukurlah kalau mama mau keluar dan menemui kita," Arga pun langsung menyapa sang mama dan bersalaman dengan sang Mama.
Namun saat Celine hendak menyalami nya tangan sang Mama pun langsung di tarik nya sendiri tangan tersebut. Begitu pula dengan Leonard. Di perlakukan dengan hal yang sama.
Arga pun meraih tangan Celine dan menggengam nya. Memberikan kekuatan Celine disana.
"Its Fine," ucap Celine sembari tersenyum. Walaupun tidak terdengar suaranya, namun Arga tau apa yang di katakan sang istri.
"Papa?, gak ikut keluar?" tanya si Pricil
"Apa Yang akan kalian rencanakan?" ungkap sang Mama langsung pada inti masalah tersebut.
"Apa? Jawab Mama langsung!" bentak sang Mama.
Mereka pun langsung duduk kembali di sofa tersebut.
Sambil Leonard menjelaskan apa rencana Arga kali ini.
"Aku dan Papa kalian ikut kalian? Untuk apa! Semua ini kenapa! Kenapa banyak musuh! Arga! Sejak kapan kamu memiliki musuh!" teriak sang Mama.
"Ini masih kemungkinan Ma, Arga belom bisa pastikan. Namun di lihat dari cara menyerang Arga, itu dari orang tua Ailee. Sudah jelas Ailee karena Arga membatalkan Pernikahan dengan dirinya."
"Sudah Mama bilang kan! Untuk menikah saja dengan Ailee Gadis yang sudah jelas - jelas kaya dan terhormat! Sekarang kenapa wanita ini ada disini! Ada di rumah Mama!" teriak sang Mama sambil menunjuk - nunjuk Celine.
"Dia adalah Wanita Hina! Gak pantas buat mu Arga! Wanita miskin dan hina gak pantas! Bersanding dengan mu!" teriak sang Mama.
Celine mendengar itu semua hanya bisa menahan rasa sakit dan nyeri di dalam dadanya. Menahan pula untuk Air matanya supaya tak terjatuh.
"Dia istriku Ma! Hargai dia! jika aku tak mendengar kan kata Istriku! Aku tak akan mungkin memikirkan kalian! Jika kalian tak bisa menghargai Istri ku! Sama saja Kalian tak menghargai aku sebagai anak kandung kalian!" bentak si Arga.
Arga pun memandangi sang Istri sedangkan Celine hanya bisa menggeleng kan kepalanya saja.
"Jangan Arga, Kita harus fokus ke masalah utama kita," bisik Celine ke telinga sang suami tersebut.
Arga pun langsung mengendalikan emosi nya dan teringat akan hal besar yang harus di hadapu oleh keluarga Pamungkas.
Sang Papa pun langsung keluar dari kamar nya dan berjalan ke ruang tamu berkumpul pada semuanya.
"Apa rencana kamu Arga," tanya sang Papa tiba - tiba.
Semua pun langsung terbelalak dan mencari sumber suara tersebut.
"Seperti yang di katakan kakak. Kita semua harus keluar dari sini dan pindah ke tempat lain. Aku yang akan menghadapi musuh beserta anggota lain."
"Apa maksud mu," tanya sang Papa kembali yang masih belom paham dengan rencana Arga.
"Aku sudah menyiapkan rumah di sebuah kota terpencil dengan kondisi tanah yang lebar namun memeliki tiga bangunan yang saling menyalur."
Semua pun terheran dengan ucapan dan usulan Arga tersebut.
"Lebih baik kita langsung berangkat. Supaya musuh tak mengenenaliki kita," jelas si Arga.
"Aku yang akan mencoba mengakali musuh di luaran sana. Aku akan pancing mereka keluar dari wilayah ini. Supaya kalian bisa menujuk lokasi yang sudah aku tetapkan dan kalian akan di antar oleh dewa atau pun Jasson."
...