Hourglass

Hourglass
Teringat masa lalu membuat nya pulih



0"Pa, Apa maksud perkataan Ailee dan ucapan Papa tadi. Apa hanya aku yang tak mengetahui hal ini?" Briyan pun bertanya kepada sang Papa.


"Kau mendengar nya ya?" ungkap sang Papa.


"Katakan padaku!" ungkap Briyan kembali.


"Akan aku katakan tapi tidak sekarang."


Sang Papa pun kemudian pergi dan masuk ke dalam kamarnya.


Sang Anak buah bernama Staria Alfaro. Yang sering di sapa dengan Satria pun kemudian menghampiri Briyan.


"Kenapa?" tanya si Briyan.


"Sebaik nya Tuan Briyan melihat nya sendiri."


Briyan pun langsung mengambil sebuah tablet yang di bawa satria. Ia pun langsung meraihnya dan melihat.


"Kenapa bisa begini! Kenapa perusahaan Arga bisa naik saham!" bentak si Briyan.


"Bukannya dia lagi masa sembunyi?" tanya si Briyan kembali.


"Seperti nya dia sudah menyuruh atasan baru nya."


"Maksud kamu? CEO baru? Kenapa tidak melakukan pengumuman di muka umum ya? Biasanya kan mereka melakukan hal tersebut," Briyan lin bertanya kembali.


"Mungkin ini di lakukan dengan cara yang tiba - tiba. Jadi jauh hari seperti nya Arga telah menyiapkan ini semua tuan," ungkap Satria.


"Benar juga kamu."


"Biarkan saja. Yang penting Melly sudah bersama kita."


"Baik tuan," ungkap Satria.


Satria pun kemudian pergi dari hadapan Briyan.


***


Sementara di kediaman Arga.


Celine pun mencari seluruh orang di dalam rumah besar tersebut.


"Ibuk, kemana yang lain?" tanya si Celine.


"Kalau Arga dia sedang bicara dengan Jasson. Jangan sedangkan Mertua kamu di depan bersama Karin dan Dirga."


"Terus ibuk kenapa disini sendiri? Kita keluar saja toh sidah ada yang beressin Ibuk," ajak Celine untuk menemui sang anak dan ibu mertuanya.


"Yaudah kalau begitu."


Celine dan sang Ibu pun langsung berjalan keluar menghampiri mereka. Celine melihat sang Ibu memandang Dirga. Namun ia tak memedulikan atau memegang anak tersebut. Sedang kan karin sedang asik bermain dengan Dirga.


"Kamu ngapin berdiri aja disini," ungkap sang Kakak.


"Eh kak, halo Putri!" sapa si Celine.


"Ayok lah turun, Kesana."


Mereka pun kemudian ikut bergabung dengan mereka dan putri bermain dengan Dirga.


Celine lun kemudian berjalan ke arah Karin. Celine pun berkata, "Karin. Ikut lah dengan ku, aku ingin bicara dengan mu," ungkap Celine.


Celine pun membawa pergi Karin dari yang lain. Mereka duduk di taman depan dekat jalanan menuju mess pengawal.


"Kenapa Miss Celine."


"Udah biasa aja bicara sama aku. Seperti saat kita makan bareng." Celine pun tersenyum memandang Karin. Begitu pula dengan Karin ikut tersenyum juga.


"Kenapa kamu pangil aku dan ajak aku bicara disini?" tanya si Karin.


"Aku langsung saja ke intinya, karena aku tak bisa berbasa - basi orangnya."


"Apaan sih. Kamu bikin aku takut Celine!" seri si Karin.


"Gak kok, ini obrolan santai," Celine pun langsung memulai pembicaraan inti. "Sebenernya aku gak ingin ikut campur soal masalah kamu. Tapi aku perlu tau soal masalah kamu ini sebelum nya maafin aku kalau aku terkesan ikut campur tapi kamu ada hubungan apa dengan Briyan?" pertanyaan Celine pun langsung muncul dalam ucapannya.


"Jadi kamu udah tau ya?" ungkap Karin.


Celine pun mengangguk dan berkata,"Arga sudah bercerita padaku. Kalau yang menyerang kita waktu itu Briyan."


"Dia mantan aku Celine."


Akhirnya Karin pun menceritakan masa di mana dia kenal dengan Briyan.


"Awalnya aku gak tau Celine kalau dia kejam seperti itu. Hingga akhirnya, aku tau dia menghantam dan menusuk tubuh seseorang. Lalu aku pergi dan meninggalkan dirinya hingga suatu ketika Jasson dateng saat aku sudah pergi menjauh dari lokasi itu tak lama saat kejadian itu Briyan sudah berada di sekitar Jasson. Jasson tak mengetahui pergerakan Briyan hingga akhirnya ketika aku ingin membantu aku terpental dengan salah satu pengawal Briyan yang bertubuh besar. Membuat ku hilang ingatan beberapa tahun." Jelas Jasson.


"Terus gimana kamu bisa dekat dengan Jasson? Padahal kamu sendiri lagi hilang ingatan begitu," tanya Celine kembali.


"Aku dan Jasson berteman sudah dari awal kuliah. Tapi sepertinya dia tak menyukai ku hanya menyukai ku sebatas teman saja tak lebih," ungkap Karin.


"Terus gimana kamu bisa ingat?" tanya Celine kembali.


"Dia yang secara tidak langsung mengingatkan memory itu."


"Terus di awal kalian kenal aku tau aku, kalian juga saling salaman berkenalan kan?" ungak Celine kembali.


"Iya aku baru mengingatnya. Saat itu ingatan aku belum pulih sepenuhnya. Saat ingatan itu pulih ketika aku bersama Briyan di sebuah hotel itu."


"Jadi baru - baru ini kamu menginggatnya?"


"Sepertinya begitu. Pasti karena aku ya. Masalah kalian dan pak boss jadi begitu rumit. Kamu pasti kaget kan Celine."


"Tentu saja aku terkejut kehidupan ku sebelumnya belom pernah seperti ini. Tapi kalau suami ku menghadapi hal ini sudah pasti kan aku harus menemaninya?" ungkap Celine.


"Aku gak menyangka. Kalian dan Pak Arga termyta emang udah jodoh dari dulu," ungkap Karin dan berjalan duduk kembali ke samping Celine.


"Aku sama hal nya mengalami hal sulit seperti ini Karin. Sebelum aku sampai ke titik ini aku juga pernah mengalami hal terburuk. Untung saja aku masih hidup. Kalau saja, Ibu aku sendiri tak menemukanku sudah pasti aku tak berada di sini dan sudah pasti pula aku berada di alam lain," ungkap Celine menatap Karin dengan nanar.


"Semua punya kisah dan cerita masing - masing Karin. Begitu pula dengan aku. Aku tidak selalu bahagia terus pasti ada hal yang bikin aku sedih begitu juga sebaliknya, aku tak selama nya bersedih terus, nanti pasti akan bahagia. Aku sampai di titik ini juga karena perjuangan ku juga Karin. Begitu pula dengan kamu Karin."


Karin pun langsung memeluk Celine saat itu juga. Saling memberikan kekuatan satu sama lain melalui pelukan tersebut.


Tak lama Jasson pun menatap Karin yang sedang memeluk Celine.


Celine pun langsung melepas pelukannya dan menatap Jasson.


Seolah sadar dengan keadaan yang terjadi Celine pun pamit pergi meninggalkan Karin dan Jasson di sana.


"Aku akan ke anak aku dulu," ungkap Celine.


Karin pun mengangguk. Ia juga berpaprasan dengan Jasson. Jasson pun langsung menunduk hormat dan Celine pun tetap berjalan pergi.


"Kamu sedang ngapain! Di mess para lelaki?" ungkap sang Mama mertua.


"Aku sedang berbicara dengan Karin Ma. Takut kalau bicara disini Karin tidak bisa berucap dengan jujur."


"Tapi kenapa harus mendekati Mess itu! Itu tempat lelaki kamu itu perempuan! Jadilah wanita terhormat! Jangan kau dekat di mess para pengawal."


"Mama! Cukup!" Arga pun langsung menimpali ucapan sang Mama.


"Hargai istri aku Ma!" bentak sang Mama kembali.


"Mama hanya memberi tau supaya istri kamu tidak di mess lelaki."


Arga pun langsung menoleh ke arah Celine.


"Aku tadi bersama Karin. Aku menanyakan sesuatu kepada dia, aku takut kalau bicara di sinj membuat Karin tak bisa leluasa berbicara kepadaku. Aku hanya duduk di taman arah mau ke jalan Mess bukan di messnya." Jelas Celine.


"Aku hanya ingin berbicara dengan Karin secara Pribadi. Soal kemaren yang kamu bilang. Hanya itu gak lebih," sambung Celine kembali.


"Oma! Jangan bentak Mommy Dirga!" ungkap Dirga.


"sayang sini!" ucap Celine.


"Oma tidak membantah Mommy kok! Sekarang kita masuk yuk, Dirga pasti capek kan?" ucap Celine. Celine pun langsung membawa masuk sang anak. Sedangkan sang ibu sedang bersama kakak ipar Celine.


"Ma! Kalau mama gak mengahargai istri Arga, berarti mama juga gak menghargai aku. Dia istri aku Ma! walau kami belom resmi hanya menikah siri. Tapi tetap saja dia istri aku. Tolong mama Hargai itu!" bentak Arga.


Celine pun terdiam berhenti di anak tangga dan melihat kejahuan Arga dan sang Mama.


"Ayok Momy!" ajak Dirga.


Ucapan Dirga pun membuat Celine tersadar akan apa yang di lihatnya.


"Dirga mau capek? Mau tidur kan?" ungkap Celine.


"Pokoknya hari ini Momy nemenin Dirga."


"Oke!" ucap Celine sumringah.


Arga pun kemudian menyusul Celine dan anak nya masuk ke dalam rumah tersebut.