
"Maff jika saya tiba - tiba masuk seperti ini," ungkap Jasson.
"Apa maksud mu minta maaf Jasson. Saya kan lagi membereskan ruangan pak Arga karena kotor?" ungkap Celine.
"Ah, iya. Harus nya saya tau," ungkap jasson sambil menahan tawanya.
"Kalau begitu saya akan membereskan ini sekalian mau bikin kopi." ucap Celine.
Celine pun kemudian kekuar dari ruangan Arga. Walaupun yang di bereskan Celine hanya beberapa sampah Plastik disana.
"Untung saja Jasson langsung percaya! Dasar Arga! Bisa - bisa nya seperti itu!" ungkap Celine sambil memancungkan bibirnya.
Celine pun langsung berjalan dan menghentakkan kaki nya di lantai berjalan menuju Pantry.
"Duduklah," printah Arga.
"saya hanya menginfokan kalau saya akan memesan orang untuk mematai pegawai yang menurut saya berkhianat di perusahaan ini."
"Apa harus ambil tindakan seperti itu?" ungkap Arga.
"Saya akan berusaha sebaik mungkin walaupun sebenernya saya juga tak suka dengan cara ini," Jelas Jasson.
"Saya ingin lakukan dengan rapi saja." Jelas Arga
"Ah, dan jangan sampai diketahui oleh is-, eh Celine! Maksud saya jangan sampai dia tau. Bisa- bisa saya kena amuk dia."
Jasson pun menahan tawanya lagi. Entah mengapa kejadian ini membuat Jasson menahan tawa nya berulang kali.
"Ngapain kamu! Ketawa segala!" bentak Arga.
"Kan saya juga secara gak langsung sudah mengetahui kalau anda sudah menikah dengan Celine mengapa Bapak sembunyika-"
"Kamu melawan saya!" bentak Arga lagi.
"Maaf, tidak lagi Bapak Arga," ungkap Jasson sambil tertunduk.
"Kerjakan dengan baik. Kembali lah bekerja."
"Te, terimakasih!" ucap jasson langsung berjalan keluar ruangan Jasson, berbarengan dengan Celine yang akan masuk ke ruangan.
***
"Bagaimama ini Pak? Jika saya ketahuan? Kata pak Jasson disana terdapat CCTV?" ungkap Melly yang sedang berbicara dalam telefon tersebut.
"Bagaimana kamu tidak melihatnya! Kalau disana ada CCTV? Apa kamu gak mengeceknya! Kenapa bisa kamu ketahuan begitu! Ceroboh sekali kamu!" bentak seseorang yang ada di dalam telefon tersebut.
"Bagaimana ini Pak jika-"
"Sudah! Kamu tetap bekerja seperti biasanya di sana!" ungkap seseorang dalam telefon tersebut dan telefon tersebut pun langsung mati ketika orang itu berkata seperti itu.
"Halo! Halo! Pak!" ungkap Melly.
Melly pun melihat kalau orang yang di telfonnya sudah menutup telefon tersebut.
"Harusnya aku tidak menerima tawaran itu, tapi bagaimana lagi jika aku tak menerima tawaran tersebut. Ibuk pasti tidak dapat dana untuk berobat ke rumah sakit." jelas Melly lagi.
"Kamu ngapain disini Melly?" tanya salah satu temennya.
"Eh, em Sorry tadi aku sedang menelfon Ibuku mengecek bagaimana keadaan nya."
"ohh, yaudah kamu gantian jaga depan yak banyak yang angkat barang soalnya pembeli rame banget, aku mau makan siang nanti stlah itu gantian kamu yang istirahat."
"Oke."
***
"Biarkan saja Ma, anak kita pergi semua toh mereka juga gak tau di untung semua!" bentak sang Ayah.
"Kalian! Yang membuat batasan semua ini! Jika pola pikir kalian tidak seperti itu! Anak kalian pasti akan betah! Tinggal disini!" bentak Pricil.
"Kalian selalu membatasi anak kalian!" bentak Pricil lagi.
"Aku sengaja kembali ke mas Leonard karena aku sadar setelah melihat Arga adik aku sendiri membuat ku sadar bahwa dia lebih nyaman hidup bahagia bersama orang terkasih! Selama ini aku menyia - nyiakan suami ku sendiri tapi kini aku sadar bahwa aku hidup di sini hanya bagaikan boneka kalian!" Bentak Pricil lagi.
"Kalau kamu ingin pergi! Silahkan! pergi dari rumah ini!" bentak sang Ayah.
Pricil pun langsung angkat kaki dari rumah tersebut. Sedangkan putri anak kandungnya dia telah bersama Leonard ayah kandungnya sendiri.
Kini Pricil kembali bersama Leonard dan buah hatinya.
"Aku seneng Mama, kita kembali lagi sama Papa," ungkap Putri.
"Putri gak masalahkan kalau nanti putri hidup nya sedikit berbeda," tanya sang mama.
"Gak masalah, yang terpenting Putri bisa kembali sama Papa." jelas Putri.
Putri pun langsung di peluknya dan di ciumnya saat itu juga. Tak hanya itu Pricil pun langsung mengurus kepindahan sekolah sang Anak.
"Kau yakin bakalan memindahkan Putri ke sekolah lain?" tanya sang suami Leonard.
"Aku yakin, karena kalau kitangak memindahkan Putri bagaimana manti kita akan membayar sekolahnya. Sedangkan aku saja sudah Tak bekerja lagi. Mending untuk hal lain kan uangnya." Jelas Pricil.
Leonard pun merasah bersalah dengan mengajak nyansang istri beserta anaknya untuk hidup di sampingnya.
"Sudah, gak usah merasa bersalah, Aku dan Putri juga gak mempermasalahkan hal itu kok," jawab Pricil.
Dia tau melihat suaminya yang tiba - tiba terdiam dan murung pasti menyalah kan dirinya sendiri jadi, Pricil pun langsung menjawab hal tersebut.
"Oma, aku tadi ketemu temen. Dia baru saja pindahan?" ungkap Dirga.
"Wahh siapa itu? Memang ada teman baru di kelas?" tanya sang Oma.
"Ada Omma, dia cantik rambutnya panjang dan putih. Sepertinya anak orang kaya," ungkap Dirga murung.
"Kenapa kamu murung kan bagus kalau ada teman baru." Jelas sang Oma.
"Iya Oma, Ayok pulang Omma aku ingin cepat sampai di rumah aku ingin menyambut Mommy dan Daddy," jelas Dirga sambil melompat - lompat kegirangan.
"Iya deh iya, ayok buruan pulang cepet- cepet." jelas Oma.
***
Jam pun sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Ayok pulang," ajak Celine.
"Udah jam segini masih belom selesai juga?" ungkap Celine kembali sambil berjalan ke meja Arga.
"Iya deh tunggu sebentar aku akan membereskannya dulu biar aku bisa kerjakan di rumah." Jelas Arga.
"kalau udah pulang ya sudah gak usah ngerjain pekerjaan."
"Ya sudah, bentar. Aku tetap harus bawa dokumen ini." ungkap Arga.
Setelah itu Arga pun tak lupa untuk mengunci pintu ruang kerja nya.
Bersambung