Hourglass

Hourglass
Perbatasan Kota.



"Gak bisa kalau kayak gini terus aku harus cari cara."


Arga pun seketika langsung berfikir musuh langsung menyerang ke kemudi mobil.


"Ya tuhan! Sia*!" Arga pun langsung mengumpat.


"Kenapa aku gak kepikiran."


Arga pun langsung menembakkan ban mobil milik musuh sesuai dengan berbagai hujanan peluru yang datang.


Arga hanya memiliki waktu 10 detik untuk senjata musuh memerlukan waktu mengisi amunisi tersebut.


"Baiklah! Aku hanya lunya waktu sepuluh detik."


Arga pun langsung menoleh melihat musuh yang sekiranya sedang mengisi senjata tersebut.


"Dapat!"


Arga pun langsung melesatkan peluru tersebut di ban mobil bagian belakang. Sedangkan musuh yang lain berhasil melukai lengan Arga.


Namun ia tak peduli soal itu. Tak lama bantuan pun datang. Mereka anak buah Arga yang baru datang itu langsung menghabisi musuh beserta orang yang menjalankan mobil nya.


"Kalian! Kenapa disini!" Arga lun berteriak walaupun mengunakan alat kemonusi kasi jarak jauh tetap saja teriakkan Arga terdengar oleh mereka.


"Kami di suruh tuan Dewa."


"Aku yang menyuruhnya Arga," Dewa pun menyahut pembicaraan itu.


"Gaes ini gimana belakang belom terkondisi. Tuan marah nya nanti saja lah kita di ambang kematian," kekeh salah satu anak buahnya bernama Felix.


"Kau bantu Felix dan yang lain!"


Arga pun masuk ke dalam mobil kembali dan melewati perbatasan. Arga langsug terduduk di belakang mobil.


"Tenang lah. Kau jangan seperti ini. Kalau kau seperti ini kau tak bisa mengendalikan pikiranmu," sang Kakak ipar pun menjelaskan ke Arga.


"Bagaimana aku gak kepikiran. Mereka keluarga ku dan di sana ada kakak dan orang tua ku semua bahkan istri kamu dan anak kamu disana. Kalau mereka-"


"Kalau kau seperti ini, berarti kau belom bisa mempercayai mereka yang sangat royal sama kamu. Mereka udah ikut kamu lama kan. Harusnya kamu tau sifat dan watak mereka. Mereka gak akan mungkin mengkhianati kamu. Cobalah percaya dengan orang lain yang sudah jelas baik dan royal bahkan mereka mau menyerahkan nyawa demi kamu dan keluarga."


"Aku tau kau susah untuk menerima ini, tapi semua orang gak seperti anak buah mu dulu yang mengkhianati kamu. Lihat lah mereka tadi mau berjuang demi hal ini. Padahal kalu di pikirkan ini masalah kamu. Walau pun mereka kamu gaji tapi liatlah. Anak buah kamu pun menganggap kamu keluarga juga. Dia gak mikir keselamatan mereka tapi dia berusaha menjadi yang terbaik demi kamu. Dia rela melakukan hal ini demi kamu dan keluarga kamu. Kalau mereka melakukan nya dengan materi. Sudah pasti mereka tak akan mau melakukan hal bodoh ini."


"Hari ini kau banyak bicara sekali kak. Sial*n!" Arga pun tersenyum.


"Kau juga hari ini banyak mengumpat.


Leonard pun tertawa. Sedangkan sang anak buah mendengar percakapan mereka pun ikut tersenyum.


"Kita melakukan ini demi kau dan keluarga tuan!" Seru si Felix dan yang lain.


"Kalian mendengar ku berbicara! Kenapa kalian mendengarnya!" Arga pun berteriak kembali.


"Siala*!" Arga pun mengumpat kembali.


"Heh! Breng*ek! Kau lupa matikan alat komunikasi mu!" kekeh si Dewa.


Jasson pun ikut tersenyum pula.


"Kenapa kalian tersenyum! Bagaimana Arga!" Celine pun bertanya.


"Gara- gara kalian! Panikkan istriku!" Arga pun menyahut.


"Sudah biar aku aja yang jawab."


Dewa pun langsung menenangkan Celine.


"Kalian tetep harus fokus! dan kau Jasson! Dan Dewa! Fokus kalian! Saat ini kalian sedang sendiri jangan santai! Ingat itu!"


"Tenanglah. aku sendiri pun udah masang anak - anak di sini juga. Emang aku g mikir rencana apa."


"Jangan bilang kau-" ucapan Jasson lun terhenti saat dewa akan menjawab ucapannya.


"Iya. Aku menyewa anak buah lain, pintarkan aku untuk menjaga daerah kita yang akan keluar dari kota ini."


"lagian kita yang disini juga akan keluar dari batas kota. Kita ketemu di tempat biasakan?"


"Oke. Aku percaya Kalian."