Hourglass

Hourglass
Sisi Lain Briyan Adijaya



"Papa kenapa gak nyuruh anak buah Papa cari lewat satelit dimana Arga."


"Arga sudah pasti membuang ponsel nya," jawab sang Ayah.


"Siapa tau beberapa anak buahnya? Ada yang memakai ponsel kita bisa lacak," ucap Ailee kembali.


"Coba aja kita suruh temen Papa yang Jago dama Teknologi untuk carikan Arga, Boleh juga ide kamu tadi. Papa malah gak kepikiran kesana," jelas sang Papa.


"Kamu jika soal Arga langsung nyantol," ucap sang Papa kembali.


"Tentu saja Arga akan selamanya jadi milik Ailee siapapun wanita yang bersama Arga harus pergi dari kehidupan Arga sekarang juga!" bentak Ailee.


"Makanya Papa bantuin aku juga," ucap Ailee kembali.


"Tentu saja Papa akan bantuin kamu anak perempuan Papa satu - satunya."


Ailee pun memeluk sang Papa sambil tersenyum puas.


"Apa - apa selalu Ailee. Seperti tak di anggap saja aku ini," Briyan pun langsung berjalan menjauh dari ruangan sang Papa.


Ia pun kemudian masuk ke dalam sebuah ruangan. Ruangan rahasia yang di miliki Briyan.


"Karin, seandainya kamu masih bersama ku. Apakah Jasson sangat berarti buat mu saat ini? Atau tak ada lagi kah ruang untuk ku?" Briyan pun bergumam sendiri sambil menatap Foto Karin yang masih di simpannya.


"Aku tau, Aku gak pantas untuk ini. Tapi sejujurnya aku sudah jatuh hati sungguhan kepada mu Karin! Maffkan aku yang dulu mempermainkan kamu dan membuat taruhan soal kamu. Seharusnya aku ga melakukan itu dan aku juga harus jujur kepada kamu se utuhnya saat itu. Tapi aku sendiri yang membuat mu ragu akan aku."


Briyan pun masih menatap Foto Karin tersebut. Semua indah sebelum Jasson datang di kehidupan Karin.


"Apa kau sungguh mencintai nya?" ucap Briyan kembali.


Suara ketukan pintu pun terdengar dan membuat lamunan Briyan terbuyarkan. Ia pun langsung memasukkan foto itu kembali.


"Masuk!" teriak Briyan.


Sang Anak buah Briyan pun masuk dan memberitahukan bahwa Sang Papa datang menghampirinya.


"Jadi selama ini kamu disini?" ucap sang Papa sambil berjalan masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Kenapa kamu disini!" bentak sang Papa


"Briyan ingin sendiri saja Pa," jawab si Briyan.


"Apa kau sedang memikirkan Karin! Kau masih saja mencintai nya! Apa untungnya dengan gadis miskin itu!" bentak sang Papa.


"Pa! Dia wanita baik pa!" Briyan pun ikut meninggikan suara nya juga ke sang Papa.


"Kamu soal Karin berani membantah Papa bahkan kamu berani meninggikan suaramu! Terbukti dia bawa pengaruh buruk ke kamu! Briyan."


"Kak! Harusnya kakak jangan suka sama Karin! Ailee gak suka! Dia bukan wanita baik Kak!" Ailee pun ikut menyanggahnya pula.


Briyan pun kemudian berjalan ke arah Ailee membuat Ailee berjalan mundur dan menghindari sang kakak.


"Sejak kapan kamu lancang! Mengurus kehidupan pribadi ku! Sejak kapan pula aku mengurussi kehidupan pribadi mu soal Arga si breng**k itu!" ucap Briyan.


"jangan kau sentuh kehidupan pribadi ku! Karena aku tak pernah mengurusi hidup mu Ailee! Sekalipun kamu adik aku!" teriak Briyan ke sang Adik.


"Sudah cukup! Kalian. Kalian itu kakak dan adik jangan berantem! Yang perlu kalian lakukan adalah taklukan musuh! Taklukkan Arga dan anak buah nya! Bukan saling berantem seperti ini!" bentak sang Papa kembali.


"Buat apa Kalian berantem seperti ini!" bentak sang Papa kembali.


"Aku mau pergi keluar kalian semua jangan ganggu aku!" bentak Briyan kembali.


Briyan pun langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia langsung melewati sabg adik dan Papa yang ada di depannya.


"Richard! selama aku pergi anak buah yang lain jangan mengikuti ku! Kalian ikuti perkembangan mereka berdua Papa dan Adikku," perintah si Briyan.


"Baik tuan."


Richard pun hanya mengikuti perintah sang Briyan. apa yang disuruh nya dan di perintah nya ia putuhi.


Sedangkan sang Papa pun hanya menghembuskan nafas kasar.


"Ailee kita balik sekarang."


Briyan pun langsung mengemudikan mobil nya dengan sangat kencang dan meninggikan kecepatannya.


Lalu ia berhenti di salah satu tempat makan kecil di kota Larnwick.


"Buk saya pesan pasta Ogli o lio. Dan minum nya yang terbaik aja di sini yang enak," pinta si Briyan ke sang Ibu penjaga restaurant tsrsebut.


Restauran kecil ini memang sudah jadi langganan Briyan saat dia bersekolah dulu.


Serta sang Ibu pun juga masi menjajakan pastanya dengan enak. Walaupun sang pemilik restauran ini memiliki pegawai ia juga sering terjun langsung melayani pembeli nya.


Terutama jika Briyan datang sang pemilik restaurant ini pun merasa senang dia seakan memiliki anak lelaki nya lagi. walaupun sekian tahun anak nya pergi di ambil orang tua angkat nya yang sekarang ia sendiri tak tau karena kehilangan kontak nya.


Terakhir sang Ibu itu datang menghampiri ke kediaman orang tua angkat nya tapi mereka semua sudah pindah. Karena rumah tersebut telah di sita oleh bank.


Menjadikan sang Ibu berpisah dengan anak kandung nya sendiri. Ia sungguh merasa bersalah saat itu. Karena kondisi ekonomi membuat nya dia kehilangan anak nya yang tak tau kemana.


Sehingga ia bertemu dengan Briyan membuat sang Ibu merasa ia memiliki anak lelaki nya lagi. Kebetulan sang Ibu itu juga memiliki anak lelaki juga. Sang Ibu pemilik restauran ini bernama Rosalia Malik.


"Sudah lama kamu gak datang kesini Briyan." ucap sang ibu itu sambil membawakan pesanan Briyan.


"Iya, kebetulan saya sibuk banget jadi gak sempat mampir. Maaf ya Ibuk."


Briyan pun tersenyum dan menatap sang pemilik restaurant tersebut.


"Kalau mau pesan lagi bisa pangil Ibu ya," ucap sang Ibu tersenyum pula dengan Briyan.


"Ah, ibu. Tunggu. Bisakah saya bicara sebentar dengan Ibu?" ucap Si Briyan.


"Ada apa? apa makanan nya kurang enak? Kamu kurang porsi nya? Biar ibu tambahin kok beneran," ucap sang Ibu sambil mengambil pesanan Briyan kembali. Namun Briyan menahannya.


"Bukan. Bukan masalah makananya. Tapi saya mau cerita soal Ibu."


"Cerita? soal apa?" tanya sang Ibu kembali sambil duduk ke depan Briyan.


"Saya benci dengan keadaan di rumah. Saya capek. Kehidupan saya tidak seperti orang pada umumnya. Saya harus melawan banyak musuh menggunakan senjata ini dan itu. Bahkan memimpin anak buah saya. Saya lelah. Bahkan karena hal ini saya kehilangan sosok wanita yang sudah saya cintai," Briyan pun berkata apa yang ada di dalam hatinya selama ini.


Hanya dengan bersama Ibu bernama Rosalia Malik. Briyan bisa mengungkapkan perasaannya di dalam keluarga nya sendiri.


"kamu mau dengar kisah Ibu?" ucap sang Ibu.


"Sepertinya kamu perlu tau juga kisah saya. Karena sejelek - jelek nya keluarga dia akam tetap menjadi keluarga yang melindungi kamu dengan cara nya yang berbeda."


"Kenapa bisa seperti itu?" Briyan pun bertanya sambil memakan pasta yang dia pesan.


Sang Ibu pun mulai bercerita.


"Dulu sebelum saya memiliki restaurant ini dan belum memiliki pelanggan. Ibu dulu hidup susah. Bahkan untuk menghidupi diri sendiri saja susah apalagi harus menghidupi seorang anak lelaki."


"Ibu memiliki anak lelali? Kok saya gak pernah melihat."


Sang Ibu pun betcerita kembali ke Briyan.


"Dulu anak ibu saya taruh di keluarga kaya. Ibu lakukan itu supaya anak ibu bisa hidup enak akan tetapi itu menjadikan sebuah kesalahan saya. Seharusnya saya tak membuang anak ibu dan sekarang saya sudah tak bisa bertemu dengan anak Ibu. Keluarga angkat nya sudah pindah dan rumah nya sudah di sita bank. Kemungkinan kalau dia hidup dia seperti dirimu."


Briyan Adijaya jaya pun masih mendengar kan perkataan sang Ibu pemilik restauran tersebut



Briyan Adijaya melihat sang Ibu itu yang mendadak menjadi bersedih.


"Maafkan saya Ibu."


"Makanya kamu gak boleh benci dengan keluarga kamu. Sudah makan kembali ibu akan membantu yang lain kasian mereka."


Sang Ibu pun langsung buru - buru meninggalkan Briyan yang duduk termangu memandang dirinya.