Hourglass

Hourglass
Tertusuk Duri Bunga



"Ngapin kamu bantu aku!" bentak Melly kembali.


"Aku tidak membantu mu hanya saja aku mementingkan diri ku yang gak mau di pecat karena kau mati," ucap sang pengawal tersebut.


"Aku akan beri kamu perban supaya darah gak keluar terus."


"Gak perlu!" bentak Melly kembali.


"Aku gak perlu hal itu! Memang sudah seharusnya aku Mati!"


"Kematian seseorang bukan kamu yang tentukan."


"Aku sungguh bodoh! Sudah mengkhianati Boss Arga," ucap Melly dia sudah tersadar dengan kesalahan yang ia perbuat sendiri.


"Aku sungguh malu. Aku tak brani menemui Boss Arga, jika aku masih di beri nyawa dan di kasih liat boss Arga kembali."


"Aku yakin dia bisa memaafkan mu."


"Kenapa kamu berucap Seperti itu!" Melly pun membentak lelaki yang ada di hadapannya ini.


"Karena kamu adalah pegawai dia. Kalau dia tau kamu berada di posisi sekarang ini apalagi kamu kunci dari masalah ini. Pasti Tuan mu akan mencari mu dan menyelamatkan mu."


"Aku sungguh tak pantas untuk di selamatkan oleh tuan Arga. Aku Malu bertemu dengannya," Jelas Melly kembali.


"Kau cepat atau lambat pasti akan bertemu dengan Arga kembali. Ingat itu. Emang kamu mau, terus - terussan berada disini?" tanya sang pengawal tersebut.


Melly pun menjawab nya dengan menggelengkan kepala nya saja.


"Kalau pun Arga tidak menolong mu. Aku juga bisa menolong mu keluar dari sini."


Melly pun terkejut dan terbelalak mendengar ucapan lelaki yang ada di depannya kini.


"Aku melakukan ini karena aku tak tega dengan mu. Kau jangan salah sangka!" bentak sang Pengawal itu kembali, sambil membalut luka yang memar itu.


"Kau sungguh baik. Tidak sama dengan yang lainnya."


"Sudah ku bilang kamu jangan salah paham dengan ku!" bentak sang pengawal itu lagi.


"Aku memang sungguh tak tega melihat seorang wanita seperti ini."


'Ditambah satu hal lagi, kau sangat mirip dengan Andrea mantan kekasih ku dulu. Tapi sudah lama sekali dia meninggal sejak tragedi kebakaran mematikan itu,' batin sang pengawal itu lagi.


"Kenapa kau lama sekali melihat ku! Kau melamun!" bentak Melly kembali.


"Gak, aku cuman teringat seseorang saja."


"Seseorang? Siapa dia?" tanya si Melly kembali.


Sang pengawal itu pun duduk di hadapan Melly yang seorang tawanan bagi Ailee.


"Kalau kau gak mau cerita sih juga gak masalah buat ku."


"Seseorang yang pernah saya sayangi."


"Seseorang yang pernah kamu sayangi? Tunggu kamu bilang, Pernah?" ucap Melly kembali untuk memastikan hal yang di dengar nya benar atau tidak.


Sang pengawal itu pun mengangguk dan tertunduk lesu.


"Kalau pernah dia mantan kamu donk?" tanya Melly kembali.


"Entah ini bisa di katakan dengan sebutan mantan atau apa aku juga gak tau."


"Kenapa? "Tanya Melly kembali. Sambil menahan rasa sakit akibat sang pengawal memberikan obat antiseptik ke lukanya.


Sang pengawal itu pun cukup terdiam lama, hingga membuat Melly tak enak hati telah banyak bertanya soal kehidupan pribadinya.


"Maaf jika aku sudah lancang menanyakan hal pribadi ke kamu. Gak seharusnya aku menanyakan hal itu."


Sang pengawal itu pun hanya tersenyum dan bilang, "Dia telah tiada," pungkas nya sambil menutup luka Melly yang ada di kaki nya.


Melly yang mendengar hal itu pin seketika syok dan terkejut lagi. Ia dibuat terkejut oleh sang pengawal yang ada di depannya.


"Aku sungguh minta maaf soal pembahasan ini."


"Tak apa tenang lah, lagian aku juga harus menjelaskannya secara detail kan? Supaya kamu gak salah sangka sama aku."


Sang pengawal itu pun membereskan kotak P3K itu sambil tersenyum. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan Melly yang masih duduk terikat di ruangan tersebut.


"Ya tuhan! Apa - apaan sih kamu Melly! Kau itu lagi di sekap di jadiin tahanan sama Ailee. Masih aja kepo in urusan orang ya tuhan!"


Melly pun mengomel - ngomel sendiri dengan dirinya itu.


"Sekarang. Aku harus berfikir gimana aku bisa kabur. Masalah pengawal tadi jadikan intermesso saja," ungkap Melly sambil tertawa dan menahan sakit.


"Awas aja kau Ailee dan seluruh keluarga mu itu! Tunggu pembalasan Arga. Biar tau rasa kau di binasakan oleh boss Arga. Sungguh kessal aku kepada dia," keluh Melly kembali.


"Untung saja aku di selamatkan oleh lelaki itu tadi, coba kalau gak mungkin aku sudah tinggal nama," ucap nya tertunduk kembali.


Namun langkah kaki terdengar dari pendengaran Melly yang masuk ke dalam ruangannya. Melly pun menganggat kembali kepala nya sambil melihat dan menunggu siapa, pengawal yang akan datang lagi diruangannya.


Setelah mengangkat kepalanya Melly pun melihat bahwa yang datang adalah sang pengawal tadi. Dengan membawakan beberapa makanan disana.


"Makan lah!" ucap sang pengawal tersebut sambil menaruh nya kasar di hadapan Melly.


Sang pengawal itu pun melepaskan ikatan tali yang berada di tangan Melly supaya iya bisa makan dengan mudah.


"Mengapa kau membarikan makan kepada ku, bahkan kau melepas ikatanku?" tanya si Melly kembali.


"Karena memang sudah waktu nya makan. Tuan Briyan yang menyuruhnya. Lagian kalau kamu gak ku lepas ikatan ini apa kamu bisa makan?" ungkap sang pengawal tersebut.


"Kalau kamu berfikiran aku menyuapi kamu. Itu gak bakalan mungkin terjadi. Paham kamu!" bentak pengawal tersebut.


"Aku makan disini juga untuk menjaga kamu, supaya kamu gak kabur. Toh kalau kamu kabur aku bisa dengan mudah menangkapmu. Walau di depan juga ada penjaga."


Melly pun hanya tersenyum sekilas dengan ucapan sang pengawal tersebut.


"Ngapain kamu senyum - senyum! Gak jelas kamu!" bentak sang pengawal itu lagi.


"Iya, yaudah maaf kalau gitu di lanjut makannya."


***


"Besok Dirga dan Putri akan mulai sekolah biar Daddy carikan yang bagus. Terus kalian juga di jaga sama pengawal kalian. Nanti biar Daddy yang bicara sama Kakak nya daddy ya Dirga."


Dirga pun mengangguk.


"Kamu akan sekolah kan Dirga? Memang siapa anak kecil itu! Dia bukan anak kamu kan! Baru saja menikah sudah besar begitu anak nya!" ucap sang Mama Culas. Sambil melipat kedua tangan nya di dada nya sendiri.


"Dirga sini nak! Ikut Mommy ke atas yuk. Udah waktunya Dirga istirahat kan?" ungkap sang Mommy.


"Kamu Celine! Memang kamu siapa disini! saya belom memberikan kamu restu terhadap anak saya!" bentak sang Mama.


"Ibuk tolong bawa Dirga ke kamar ya Buk," ungkap Celine meminta bantu ke sang Ibu.


"Ma!"


"Arga, ada Dirga. Jangan kamu marah - marah tahan emosi kamu," ucap Celine memberikan peringatan ke Arga.


"Aku mohon jangan marah dulu," bisik Celine ke Arga.


"Kalau bukan karena Celine! Arga gak akan ajak Mama dan Papa! Kesini. Karena kalian gak bisa ngehargain istri aku, jadi kalian gak menghargai aku juga."


"Apa yang perlu di hargai. Dia mengandung anak kecil itu bukan dari kamu! Lagian sejak kapan Mama dan Papa menyetujui kalian tapi kalian masih saja menikah siri seperti ini! Celine itu hanya istri siri kamu! Arga."


"Ma! Udahlah jangan kayak gitu! Mama juga gak menyetujui aku menikah dengan Leonar juga. Kita juga sama menikah siri. Kenapa menikah siri karena ini keegoisan kalian berdua!" bentak sang kakak tiba - tiba saja ikut menyahut.


"Terserah kalian! Mama capek dan pusing mikirrin tingkah laku kalian! Kalian itu sama saja gak pernah bisa jadi kebahagiaan Mama dan Papa!" bentak sang Mama.


"Terserah Mama mau bilang apa! Yang jelas kebahagiaan Arga ada di Celine. Sedangkan kebahagiaan kalian hanya soal harta dan tahta serta kedudukan!" bentak si Arga kembali.


"Arga jangan seperti itu," Bisik Celine kembali.


"Puas kamu Celine! Semua anak ku membela kamu! Puas! kamu!" teriak sang Mama kembali.


Kemudian Mama pun naik ke atas dan masuk ke kamar nya. Karin yang baru saja masuk kedalam rumah dan mendengar hal tersebut membuat Karin terkejut.


Ia merasa kasihan terhadap temannya yaitu Celine. Ia selalu disalahkan atas hal yang tak di inginkan oleh kedua orang tua Arga.


Karin pun menatap sendu Celine. Sedangkan sang Kakak Pricil pun langsung memeluk Celine.


"Jangan kau masukkan hati atas ucapan Mama. Maafkan Mama ya Celine. Aku yakin kamu gadis baik," ucap sang Kakak sambil memeluknya.


"Kalau begitu aku mau ke kamar bersama putri," ucap sang kakak sambil melepas pelukannya terhadap Celine.


Taklama ponsel Arga pun berbunyi dan melihat di layar kalau yang menelfon adalah Hendra.


"Hendra? Kamu udah ketemu Melly ada di mana? Ah, iya mending aku yang ke Mess saja," tutur Arga kembali.


"Udah buruan selesai in dulu."


Arga pun langsung berjalan keluar dan bertatapan dangan Karin lalu berkata, "Tolong ajak bicara Celine."


Karin pun mengangguk dan Arga langsung pergi ke Mess para pengawal.