
"I'm oke Karin."
Celine pun berusaha tersenyum sebisa dia dan semampu dia. Ia tak ingin orang lain merasakan sakit yang Celine hadapi.
Karin pun tau kalau Celine sedang tidak baik - baik saja. Maka dirinya hanya bisa memeluk Celine.
"Menangislah jika kau ingin menangis Celine. Aku slalu temani kamu."
Seketika ucapan Karin membuat Celine terbawa suasana itu dan ia menangis sejadi - jadinya dalam pelukan Karin.
Arga yang masuk ke rumah kembali mendapati istri nya menangis seperti itu merasa sangat bertahan.
'Ya tuhan, Kau telah berikan aku Istri yang begitu baik. Saking baiknya aku bahkan tak berada di sisinya di saat dia sedang terjatuh,' batin Arga.
Celine pun menatap lurus di balik punggu Karin. Ia melihat bahwa suaminya telah berdiri tepat di hadapannya.
"Arga," ucap Celine.
Celine pun segera melepas pelukan Karin dan menghapus air mata nya.
Karin pun menoleh dan menghadap ke balik punggungnya.
"Kalau gitu aku masuk kamar, aku mau istirahat dulu."
Karin pun langsung meninggalkan mereka berdua, karena merasa ia memang harus pergi dan memberikan waktu berdua dengan mereka.
Arga pun langsung berjalan dan memeluk nya lagi. Namun lagi dan lagi Celine pun menangis sejadi - jadinya.
"Maafin aku Arga. Aku menangis seperti ini, seharusnya aku-"
"Udah, gak masalah. Lagian bener kata Karin, menangislah kalau kamu ingin menangis. Sudah seharusnya aku mendampingi kamu. Ingat? saat sehat mau sakit. Suka mau pun duka, atau bahkan di saat bahagia maupun sedih. Kita harus tetap bersama. Saling menguatkan."
Celine pun langsung memeluk suami nya kembali dengan erat dan menangis saat itu juga di dapur.
"Maafin aku juga. Karena orang tua aku, kamu jadi seperti ini."
Celine pun menggeleng dengan cepat.
"Aku akan tetap hormat dengan orang tua kamu Arga. Aku akan mencobanya untuk menjadi yang terbaik."
"Jangan paksakan diri kamu sendiri. Aku sungguh gak mau kamu terbebani Celine. Sudah biarkan saja Mama dan Papa. Gak usah kamu pedulikan."
"Gak baik Arga. Bagaimana pun dia orang tua kamu. Tanpa meraka aku gak bakalan bisa ketemu kamu sampai di titik ini. Hargai dia selagi masih hidup."
"Tapi aku gak mau melihat mereka menindas kamu seperti ini! Mereka sama saja gak menghargai aku Celine. Kamu itu istri ku, jika mereka berlaku kasar sama kamu, sama saja dia gak berlaku baik sama aku," ungkap Arga. Ia sungguh menyampaikan apa yang ada di isi hati nya.
"Udah gak masalah, aku aja gak apa kok."
Celine pun tersenyum dan memandang lekat sang suami yang ada di hadapannya.
"Kasihan kamu Celine. Sejujur nya aku gaj tega dan gak terima kamu di perlakukan seperti ini," ucap sang Ibu. Ia melihat dari lantai atas.
"Semoga kamu bisa kuat dan sabar menghadapi mertua kamu. Ibu, hanya bisa mendoakan kamu yang terbaik Celine. Sungguh pernikahan kalian memang sedang di uji. Semoga apa yang kalian impikan dan kalian mau, bisa tercapai dan dengan ada nya masalah seperti ini semoga bisa mendewasakan kalian dan kuat menghadapi cobaan dalam rumah tangga kalian," doa sang Ibu sambil masih melihat Celine dan Arga berada di dapur.
"Tadi kenapa langsung keluar begitu." tanya si Celine.
"Ah, iya. Tadi Hendra hubungin aku. Katanya, dia tau keberadaan Melly."
"Hah! Serius?" Celine pun terkejut mendengar berita hal tersebut.
"Iya. Dia bilang kalau dia berada di sebuah gubug di perhutanan. Aku mengira kalau ini pasti di sekap oleh keluarga nya Ailee."
"Jadi, maksudnya? Kaa. Kamu akan kesana?" Celine pun dengan ragu mengatakan hal yang tak ia inginkan. Ia sungguh tak ingin suami nya datang kesana. Karena tak ingin suami nya terluka."
"Maafin aku. Tapi aku harus kesana. Ada anak buah aku juga di sana nanti aku akan bilang sama Dewa dan kak Leonard. Untuk menyusun rencana."
"Hay, sayang. Tenanglah," ucap Arga sambil menyeka air mata Celine yang sudah jatuh di kedua pipinya.
"Tenanglah, disana ada banyak yang akan melindungi aku."
"Tapi tetap saja, kamu juga yang harus keluar melawannya duluan."
"Mau bagaimana lagi. Karena aku harus melindungi semuanya. Bahkan Melly adalah salah satu kunci kita. Kunci perusahaan kita. Aku sudah mengusulkan CEO baru disana. Aku sengaja tak melakukan siaran besar - besarran, karena aku gak ingin musuh tau apa rencanaku. Sekarang mereka sudah tau kita punya CEO baru di perusahaan. Sudah satu bulan dia bekerja di sana saat kepergian kita."
"Tapi aku takut, aku takut kalau kamu seperti waktu itu. Aku g bisa liat kamu dengan keadaan penuh luka itu Arga. Tolong lah. Hentikan saja, aku gak mau hidup kita gak tenang karena terlalu banyak masalah. Kita bangun saja usaha kita dari awal dikota Greenwild ini."
"Tetap saja aku tak bisa Celine. Kalau musuh tidak di habiskan sampai di akar - akar nya dia akan tetap tumbuh dan masih bisa merambat. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah menghabisi musuh saat itu juga."
"Tapi aku ingin hidup seperti manusia normal yang lain Arga."
"Aku tau apa yang kamu ingin kan Celine. Aku akan berusaha mengabulkan permintaan itu. Aku juga ingin hidup sederhana bersama keluarga kecil kita," ungkap Arga.
"Tapi mau bagaimana lagi. Hidup aku masih penuh misteri. Masalah selesai muncul lagi. Aku juga lelah, makanya aku sedang berusaha menghabisi musuh yang tersisa dan ini juga dalam bentuk usaha aku untuk mewujudkan kehidupan yang kamu ingin kan Celine."
"Kalau gitu. Kapan kamu akan berangkat?" Tanya Celine kembali.
"Kemungkinan besok. Untuk pulang nya nanti aku kasih kabar lagi. Aku masih belum bisa memastikannya."
Celine pun memeluk kembali suaminya itu. Sedangkan sang Ibu yang sedari tadi memerhatikan mereka kini ia pun turun, menuruni anak tangga.
Sang Ibu pun sudah sampai kemereka berdua dan berkata, "Ibu tak sengaja sudah mendengar kan percakapan kalian. Maaf kan ibu kalau Ibu mendengarkan pembicaraan kalian."
"Ibu?" ungkap Arga.
"Ibu hanya ingin beri tau kalau kamu harus hati - hati, kamu ada keluarga yang selalu menunggu kedatangan kamu. Apapun rintangan nya kamu harus pulang dengan keadaan baik."
Arga pun mengangguk seolah dia memang tau kalau semua khawatir dengan dirinya.
"Aku akan berusha kembali untuk keluarga aku Ibu," jawab Arga.
"Sekarang Ibu mau masuk ke kamar. Dirga sudah tidur di kamar nya." jelas sang Ibu.
"Makasih Ibu," ucap Celine.
Sang Ibu pun kemudian naik kembali menju kamarnya yang berada di lantai dua.
"Jadi kamu gak ikut aku nganter Dirga Sekolah ketempat baru?" tanya Celine kembali.
"Enak aja! Aku juga ikut lah," ucap Arga sambil tertawa. Begitu pula dengan Celine.
"Ya, aku kira sih gak ikut. Makanya kan aku tadi tanya."
"Tetep ikut, berangkat nya setelah aku mengantar Dirga. Begitu pula kak Leonard dia ingin melihat anaknya juga. Aku juga sudah mengutus mereka untuk menjaga Dirga, Putri dan kamu serta kakak."
"Kok banyak banget! Orang yang mau jaga?" tanya Celine kembali.
"Udah gak masalah kok. Anak buah aku juga banyak. Jadi tenang aja."
"Bukan itu maksudku apa gak aneh kalau kita di kawal banyak orang begitu."
"Udah biarin. Gak masalah juga supaya aku bisa tenang juga, kalau aku meninggalkan kamu juga dan Dirga."
"Yaudah deh."
Mereka pun kemudian masuk ke dalam kamarnya.
Tak lama setelah Celine dan Arga masuk. Jasson pun masuk kedalam rumah tersebut. Ia sengaja menunggu Celine dan Arga pergi. Jasson juga masuk melalui pintu belakang.