Hourglass

Hourglass
Rumah Baru



Mereka pun akhirnya masuk di rumah baru tersebut. Semua orang terpana kecuali Dewa dan Jasson. Karena mereka semua sudah mengetahui rumah Arga sebenernya.


Rumah yang di bangun dengan keringatnya sendiri bahkan usaha dia sendiri dia bisa membangun rumah bak istana.



Sekali masuk halaman tersebut mereka sudah di sambut dengan rumah yang seperti mansion yang begitu mewah.


"Arga! Sejak kapan kamu memiliki rumah seperti ini" sang Mama pun bergumam sendiri di dalam mobil tersebut.


"Gak nyangka Arga bisa punya rumah seperti ini," ucap sang Papa juga.


"Kamu sudah tau apa belom tau juga Celine kalau adik ku punya rumah sebesar ini?" tanya sang Kakak Ipar.


"Aku sama sekali belum mengetahui nya Kak," ucap Celine.


"Kamu beneran gak tau Celine?" tanya sang Ibu kembali.


Namun Celine pun hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Sedangkan Dirga tertidur dalam pangkuannya sendiri.


"Dewa! Kamu tau?" tanya si Celine


"Terus kamu juga tau juga Jasson!" tanya Celine kembali.


Mereka berdua pun mengangguk bersamaan.


"Arga kerja mati - matian makanya Dia banyak musuh di luaran sana. Dia hanya ingin membangun rumah besar supaya bisa menampung semua keluarganya. Bahkan dia bermimpi hidup bersam kamu Celine di dalam rumah itu."


Celine pin terkejut mendengar penjelasan dari Dewa.


"Aku sama sekali gak tau soal ini Dewa."


"Intinya Arga sudah memikirkan semuanya, kamu tinggal percaya sama dia dan dukung dia."


"Jangan sampai kejadian di Amerika terulang kembali," timoa si Jasson.


"Apa itu?" Celine pun bertanya kembali.


"Biar tuan yang bercerita sendiri Nyonya Celine."


"Nyo? Nyo-. Nyonya?" ucappan Celine terbata - bata ia tak biasa di pangil Nyonya.


"Apa suami ku juga tau soal ini?" Si pricil pun bertanya juga.


"Suami anda tidak mengetahui nya Nyonya Pricil."


Pricil pun terkejut juga. Betapa Arga berani keluar dari lingkupan sang Papa dan bisa membangun rumah sebesar ini tanpa sepengetahuan keluarga nya sendiri.


Mereka pun kemudian turun dari mobil.


Arga langsung menghampiri Celine dan membawa sang anak dalam gendongannya.


"Kamu terkejut?" ucap sang Suami sambil tertawa.


"Tentu saja! Aku baru tau ini. Kau tak pernah memberitahu ku!" ucap Celine.


Sang Ibu pun berjalan bersama dengan kedua orang tua Arga. Namun seperti biasanya mereka slalu menjaga jarak.


"Aku akan ceritakan semuanya nanti," tandas si Arga.


Celine pun menganguk dengan cepat.


"Ayok masuk semuanya," ajak Arga.


Celine dan Arga pun kemudian berjalan masuk kedalam rumahnya.


"Dirga masih tidur ternyata," ucap Arga kembali.


"Dia sepertinya kelelahan."


Mereka pun langsung masuk dan di sambut dengan pemandangan yang tak kalah jauh dari depan rumahnya.



Berbagai barang mewah dan interior mewah terpajang disana.


"Udah kamar nya pada di lantai atas. Kalian bisa naik saja."


"Kalau begitu saya balik ketempat saya tuan Arga," ucap Jasson.


"Oiya Karin! Ya tuhan aku melupakan dia. Dia pasti bingung," ucap Celine.


"Karin sudah masuk di dalam nyonya Celine," sahut Jasson.


"Oke makasih ya."


"Kamu yakin kamu udah tau kamar nya ada di mana?" kekeh si Arga lagi.


"Belom. Yaudah yang mana." ucap Celine.


"Kamu temui Karin dulu aja nanti kamu aku anter setelah aku nidurin Dirga." jawb Arga.


Celine pun mengangguk dan memghampiri Karin.


"Karin!" ucap Celine karin yang sudah berada di pintu masuk tadi.


"Aku ini ikutan tidur di sini Celine?" ucap Karin bertanya dengan ragu - ragu.


Jasson pun menghampiri mereka berdua yang masih berbicara di depan pintu utama.


"Kamu ikut dengan Tuan Arga. Aku gak bisa ngawasin kamu kalau kamu di luarran sana. Aku akan kembali ketempatku," tutur Jasson.


Celine pun melihat kekhawatiran Karin. Entah seberapa lama mereka menjalani hubungan itu Celine tak mengetahui nya pasti.


"Sudah jelas dia khawatir dengan mu Karin."


"Aku? dia? Khawatir sama aku? Kayak nya gak mungkin Celine," ucap Karin.


Arga pun kemudian turun dan menghampiri Celine Juga. Sementara yang lain sudah di antar oleh pelayan yang ada di rumah.


Pelayan si Arga ini mengantar orang tua Arga dan Celine. Sedangkan yang lain sudah mengantar sang Kakak dan kakak ipar beserta dengan sang anak.


Pelayan dalam rumah tersebut memanglah banyak dan masing - masing juga tugasnya.


"Aku akan tunjukkan kamar kamu Karin, benar kata Jasson kamu ikut dengan kita."


Arga pun menjelaskannya kepada Karin.


"Tapi saya gak pantas berada disini bapak Arga. Saya hanya-"


"Sudah kamu kan udah di serang musuh juga sudah pasti kamu gak aman di luaran sana bener kata Jasson biar dia bisa ngawasin kamu dan jaga kamu!" kekeh si Celine.


"Tenang aja rumah ini Luas bahkan kalau kamu ingin menemui Jasson juga bisa tapi jangan menuju ke kamar lain. Karena itu kamar khusus anak buah saya. Kamar laki- laki gak mungkin kan kamu berada disana. Mana tega saya taruh kamu di sana. Yang ada kamu yang jadi makanan mereka," jelas si Arga.


"Arga! Kamu ya! Jangan bercanda terus kasihan Karin liat muka dia," Celine pun memperingat kan suami nya.


"Iya maf. Ya udah ayok naik."


Mereka bertiga pun naik mengantar ke kamar Karin.


"Ternyata ini rumah yang berisi tiga bangunan? Aku baru menyadarinya. Awal nya aku ga tau. Eh tau nya beneran rumah dengan tiga bangunan," jelas Celine.


"Kan aku suami yang jujur setia baik hati pula," kekeh si Arga sambil memuji dirinya sendiri.


"Karin ikut yang mana? Ibu sama Bapak?" ucap Celine.


"Karin kamu ikut dengan orang tua kita ya, soalnya di tempat kakak nanti kamu bisa kena omel kakak."


"Saya di manapun bisa Bapak Arga."


"Yaudah kamu di kamar dekat orang tua kita saja. Soalnya kakak suka sering mengomel takutnya kamu kebrisikan."


"Arga!"


"Kan emang bener apalagi kalau sedang marahan ama suami nya sendiri ya sudah."


"Udah Karin kamu masuk aja! Jangan dengerin Arga!"


Karin pun tersenyum dan masuk kedalam kamarnya yang sudah di tujukan oleh mereka untuk Karin.


"Kamu ya! Jangan kaya gitu sama kakak kamu di depan orang," ucap Celine.


Mereka pun memutuskan untuk kembali menuju kamar nya kembali.


"Kan aku jujur," ucap Arga


"Tetep aja jangan begitu. Aku tau kamu bercanda cuman gak etis."


Celine pun kemudian masuk ke dalam kamarnya beserta suaminya.


"Dirga sudah kamu taruh kamar kan?" Tanya Celine kembali.


"Udah, mau liat Dirga?" tawar si Arga.


"Besok aja aku capek, aku mau bebersih mau mandi."


Namun Celine pun masih berjalan melihat kamar nya yang begitu besar bahkan cendela nya yang menghadap langsung ke jalan masuk yang di lewati tadi. Setelah itu Celine pun kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Segera dia langsung mandi dan membersihkan dirinya secepatnya supaya dia bisa langsung tidur di malam ini.