
Setelah selesai makan malam baru lah Arga menelfon Dewa.
Ponsel Dewa akhirnya berdering.
"Halo Dewa! kamu kamana aja sih?" tanya si Arga dalam telefon tersebut.
"kamu ngapain tanya aku? Kangen?" jawab dewa sembari cengegesan.
"Nyebelin!"
"Iya - iya deh sorry. aku beberapa hari pergu ke Paris."
"Ha! Ngapain?"
"Main lah jalan - jalan."ungkap Dewa.
"Ohh ku kira ada apa perjalanan Bisnis atau apa tau nya luu mau liburan aja?"
"Iyalah, aku mau liburan ya, nyenengin diri sendiri gak masalahkan ya. aku juga butuh hiburan." jelas Dewa.
"Btw dewa, aku punya masalah."
"masalah apa? Kerjaan?" jawab Dewa.
"iya, ada yang sabotase perusahaan ku, parah nya lagi karyawan ku sendiri juga ada yang berkhianat juga." jelas Arga.
"terus kamu nyuruh aku gimana?" tanya si dewa lagi.
"Cari tau diluarran sana siapa yang lagi ngintai aku dan Celine pokoknya kalau udah dapet kabar apapun itu kasih tau ke aku." tegas Arga.
"Iya deh iya aku bantu, bakalan ku cari tau siapa yang emang lagi ngintai kamu Arga. Btw kamu udah nikah ama Celine? Kok ngak ngundang?"
"iya maaf soalnya juga nikahnya dadakan banget jadi gak sempet buat mangil orang - orang terdekat." jawab Arga.
"Dih! Nyebelin. Masak aku sendiri temen dari kuliah gak di ajakkin."
"kamu sendiri juga tiba - tiba ngilang. Gak ada kabar, sekali nya telefon udah balik dari Paris. Kan ngeselin juga." ucap Arga
"iya deh Sorry ga, aku ke Paris juga karena ada kesibukan dadakan juga."
"terus napa kamu mau nelfon bukannya lagi makan sama keluarga?" sahut Dewa lagi.
"Udah selesai makan. Besok ketemu gimana, sekalian ada yang mau di bahas ama kamu dan aku mo minta tolong juga," jelas si Arga di dalam telfon tersebut sambil duduk di kursi tamu.
"Tumben mau minta tolong ke aku. Emang ada masalah besar apa? Kalau bisa gue bantu ya gue bantu kalau gak bisa ya aku minta maaf ga," jelas Dewa lagi.
"Besok aja lah di jelasinnya lebih enak ketemu langsung soalnya." ungkap Arga.
"Sekalian ajak anak kamu Ga, kan kangen juga ama Dirga."
"Iya deh, percaya. Lagian kenapa juga gak mangil aku di acara pernikahan kalian sih."
"sorry juga semua juga serba dadakan Dewa. aku ingin semua langsung clear aku juga ga mau nunda nunda lagi, mau sampai kapan aku nunda lagi. Ini udah saat nya aku bersama dengan Celine lagi. Aku sendiri juga gak mau pisah lagi dengan dia." jelas Arga.
"iya deh yang udah bucin ama Celine," ledek Dewa sambik tertawa.
"Pan sih main ledek- ledek aja."
"kan aku juga tau gimana kamu di Amerika dulu betawa galau dan sedih nya kehilangan Celine. Ngaku deh."
"iya, puas kamu!" bentak Arga.
"Dahlah, mending gue tidur sekarang, besok juga kerja lagi." ungkap Arga.
"iya deh, yang udah ada temen tidur."
Arga pun langsung menutup telefon tersebut. Mendengar dirinya di olok Dewa terus membuat Arga malu sendiri.
***
"gimana ya Pa, anak kita keluar semua dari rumah," ungkap sang Mama semakin risau dengan ke adaan sang anak.
"Mama khawatir mereka hidup layak apa tidak," ungkap sang Mama kembali.
"Sudahlah Ma, lupakan nanti juga mereka bakalan kesini. Kalau mereka ingat kita." tandas sang Papa.
"Kok kamu bilang kayak gitu sih Pa!" ungkap sang Mama.
"Sudahlah Ma, Papa mau tidur. Papa capek." ucap sang Papa sambil beranjak dari duduk nya tadi.
Sementara itu.
"Bagaimana? Apa kata boss besar? Apa kita masih memantau kedua orang tua disini?" ungkap Clein Andesta.
Clein Andesta adalah salah satu orang yang memimpin anak buah yang memegang para anggota tembak. Dia sering di sapa dengan pangilan Clein.
Anggotanya hampir semua bisa menembak dengan jitu.
"Sepertinya Kita sudahi ini, karena kita di suruh mencari keberadaan Arga." ungkap Ricard.
Celin pun langsung memandu anak buah nya untuk kembali berputar arah.
"Kita harus cari Arga saat ini. Paham kan kamu!" bentak Ricard.
Clein pun langsung mengangguk dan mengiyakan.
Bersambung