
"Kau bilang apa Pricil?" ungkap Leonard dalam telefon tersebut.
"Aku ingin Putri ikut dengan mu, aku sungguh tak tega dengan Putri jika dia terus mendengarkan hal pertengkaran seperti ini." Jelas Pricil kembali.
Leonard pun terdiam cukup lama menanggapi telefon dari sang Istri.
"Kamu kenapa diam saja Pa?"
"Kau ikut lah dengan kita, kita bangun keluarga kita bersama?" ucap Leonard.
Kata- kata Leonard membuat Pricil terkejut kembali.
"Apa kau masih mempertahan kan hidup mu yang seperti itu?" ungkap Leonard kembali, "Aku memang suami miskin yang tak bisa menghidupi mona muda Pricil. Tapi apa kau tak ingin bergabung hidup bahagia dengan sederhana? Sampai kapan kau akan bertahan jika hati mu sudah tak kuat menerima cobaan itu?" ungkap Leonard kembali.
Namun, sekarang gantian Pricil yang terdiam cukup lama untuk menanggapi pembicaraan Leonard melalui telefon tersebut.
"Apa kau masih membutuhkan Waktu kembali?" tanya Leonard lagi.
"Kita akan bisa hidup bersama dengan bahagia. Tengok lah adikmu, dia berani ambil keputusan itu. Demi wanita yang di cintai nya."
"Tapi, bagaimana dengan kehidupan orang tua ku, jika aku tak ada disini? Bagaiman mereka akan menjalani hari - hari nya? Aku harus apa Leonard?" tanya Pricil kembali.
"Kau masih bisa mengunjungi nya Pricil. Kau masih bisa itu, aku tidak melarang mu, bagaimanapun juga mereka orang tua kamu dan orang tua aku juga. Jadi aku gak ada hak untuk melarangmu menjenguk mereka, Ini demi Putri Pricil. Anak kita." ungkap Leonard kembali.
"Kalau kau masih ragu dengan keputusan ini, aku akan tetap menunggu biar kan Putri bersama mu Pricil. Dia yang akan menghiburmu dia yang akan menemanimu Pricil, bukannya aku tak mau untuk merawat anak kita, tapi bagaimanpun juga anak kita butuh ibunya." jelas Leonard kembali.
"Aku akan selalu memberikan mu waktu Pricil, ingat kita masih sah menjadi suami dan istri." ungkap Leonard kembali.
Mereka pun mengakhiri telefonnya saat itu juga.
'Benar kata Leonard Putri pasti akan membutuhkan aku walaupun dia bersama Papanya. Tapi jika memang aku harus pergi dari sini aku akan menuruti apa kata suami ku, seharusnya aku sadar kalau kata suamiku lah yang harus aku anut bagaimana pun aku seorang istri yang akan patuh perkataan suami jika perkataan suami ku sendiri selama perkataan nya masih dalam wajar,' batin Pricil sambil berjalan ke arah balkon kamarnya.
Malam itu malam yang sangat dingin malam yang menusuk tubuh Pricil seperti perkataan orang tua nya yang sangat menusuk dalam hatinya.
Saat itu malam yang menusuk itu tak membuat Pricil kedinginan.
Pricil pun kemudian menelfon sang Adik Arga saat malam itu juga.
"Halo kak? Ada apa?" ucap Arga dalam telefon tersebut.
"kamu kenapa gak pulang?" ungkap Pricil.
"Aku,. Emb aku?-"
"Sudahlah, aku sudah tau, kau membuat onar di mall kemaren. Aku bersama Leonard dan anak ku juga tau kau di sana bareng gadis yang slalu kau ceritakan padaku itu kan?" ungkap Pricil.
"Jadi? Kakak udah tau? Kenapa kakak diem aja gak nyamperin aku?" ucap Arga.
"Buat apa? Emang ada hal apa sampai kamu sekarang gak pulang lagi ke rumah? Apa ini karena wanita itu?"
"Nama dia Celine Kakak, Celine! Bukan wanita itu tapi Celine!" Bentak si Arga.
"iya maafkan kakak Iya deh iya Celine. Apa karena Celine kamu gak pulang ke rumah?"
"Apa maksud kamu!" bentak sang Kakak.
"Celine telah mengandung anak ku bernama Dirga, saat dia melahirkan anak ku, aku malah pergi ke Amerika. Itupun atas rencana orang tua kita sehingga aku berpisah cukup lama dengan Celine. lagi pula aku sudah mengetahui Dirga anak aku lima tahun lalu kita memang melakukan hubungan tapi aku malah pergi meninggalkan Celine. Masa yang sangat tersulit bagi Celine tapi aku malah meninggalkan nya kala itu. Kini, aku harus memperjuangkan hidupku bersama keluarga kecil ku. Aku gak mau berpisah lagi dengan kekasih sekaligus ibu dari anak ku. Aku kini sudah menikah dengan Celine kak. Maaf kan aku yang tak megabarimu selama ini." jelas si Arga.
"Kenapa kamu tak kasih kabar aku! Kamu gak anggap aku ini kakak mu!" bentak Pricil saat itu juga.
"Maaf kak, kakak jaga diri ya jika masih di rumah itu, aku harap kakak bisa bersama lagi dengan Kak Leonard, bersamalah dengan nya kak. Dia lelaki baik dan bertanggung jawab. Jangan sampai kau sia- siakan suami mu. Berkat dia kau juga sudah memiliki Putri. Pikirkan Putri kak, dia juga pasti ingin hidup bersama Papa nya. Kau juga berbahagialah kak dengan keluarga kecilmu. Aku hanya bisa mendoakan dan menyampaikan kata - kata itu yang tulus dari dalam hati ku," ungkap Arga.
"Daddy!! Ayok tidur dongeng in aku sebelum tidur Daddy! " Teriak Dirga sehingga suara tersebut biaa masuk dalam telefon mereka.
"bentar ya nanti Daddy susul ke kamar Dady mau telefon dulu sebentar," ungkap Arga sambil memberikan Isyarat terhadap Celine kalau dia sesang bertelfon dengan kakak nya.
"Dirga Ayok sama Mommy. Nanti Daddy bakalan nyusulin Dirga yuk!" ucap Celine.
"Bener ya Daddy! Dirga tunggu di kamar bareng Mommy!" teriak Dirga kembali.
Dirga pun kemudian masuk ke dalam kamar dengan sang Mommy.
"Dia yang nama nya Dirga," tanya sang Kakak.
"Iya kak, dia anak aku bersama Celine. Kurang lebih lima tahun yang lalu Celine mengandung Dirga kak, kapan - kapan kalau kita ketemu aku akan kenal kan ke kakak." ucap Arga.
"Sepertinya kamu bahagia hidup bersama mereka ya Arga. Untunglah Adik kecilku ini bisa bahagia," ungkap sang Kakak yang sudah mengetahui kebiasaan adiknya mulai dari dia seneng dan sedih Pricil sang Kakak selalu tau kebiasaan Adiknya itu.
"Tentu saja kak, aku bahagia bersama mereka. Aku akan lalui apapun demi keluarga ku. Aku harap kakak segera berkumpul dengan kak Leonard. Dia baik kak. Jangan sia- siakan suamimu." ungkap Arga.
"Sekarang aku tau aku harus berbuat apa Arga. Aku menelfonmu jadi tau apa itu sebuah keluarga. Aku dan Putri akan kembali ke Leonard suami dan juga Ayah bagi anak ku." ucap Pricil.
"Terimakasih Arga kau sudah memberikan hal yang indah untuk kakak sehingga kakak bisa mengambil sebuah keputusan. Aku menelfon mu terus terang saja aku sedang gundah harus menghadapi seperti apa. Tapi setelah denger pernyataan mu hari ini bahkan mendengar anak kalian kini aku paham Arga." jelas sang Kakak.
"berjuanglah kalian, demi Putri. Karena kebahagian dari kita pasti anak kita kak. Aku akan tetap menjenguk Mama dan Ayah kak. Walaupun aku sudah bersama Celine, aku akan tetap menghargai mereka karena, tanpa mereka aku juga tak bisa bertemu Celine. Bahkan Celine terus mengajari ku untuk slalu menghargai orang tua kita, aku dan Celine akan terus berjuang demi mendapat kan restu. Ntah kapan mereka akan merestuinya, setelah kita di restui barulah kita mendaftar kan pernikahan kita secara sah dari pemerintah juga. Jadi Celine juga tak melarangku untuk menjenguk orang tua kita sendiri kak." Jelas Arga kembali.
"Sebenernya pemikiran Leonard dan Celine itu sama Arga. Ya sudah kamu tidurlah dengan anak mu dan istrimu kalau begitu, selamat malam." ungkap sang Kakak.
"Aku dan Celine kapan- kapan akan menjenguk mu juga kak. Selamat malam untuk mu juga."
"Baik aku kan menunggu hal itu," ucap sang Kakak.
Mereka pun kemudian menutup telefon tersebut. Arga langsung berjalan ke kamar dan tidur bertiga disana dengan Dirga yang berada di tengah di antara Arga dan Celine.
Sedangkan sang kakak pun langsung menuju ke kamar sang anak sambil membelai lembut ramnut sang anak.
Putri ternyata sudah tertidur pulas sedari tadi.
"Maafkan Mama ya sayang, mama masih belum bisa menjadi orang tua yang terbaik buat kamu," ungkap Pricil sambil mencium kepala sang anak dan menyelimuti nya.
Pricil pun kemudian tidur bersama dengan sang anak di kasur tersebut.
Bersambung.