
"Celine!! Kamu ikut dengan ku hari ini," ungkap Arga.
"tapi pak, hari ini bapak tidak ada acara di tempat lain." ungkap Celine.
"saya tau karena jadwal kamu yang atur, tapi saya ingin kamu ikut." ungkap Arga sembari membawa bukti beberapa helai rambut Dirga yang langsung ia sembunyikan di balik Jas nya.
"memang nya kenapa pak??" tanya Celine kembali.
"saya ingin tau beberapa obat yang kamu konsumsi" ungkap Arga.
"ini urusan pribadi saya pak !! kenapa bapak ikut campur !! Kalau bukan masalah pekerjaan saya tak akan ikut!!" bentak Celine lagi.
Arga pun kemudian mengambil tas milik Celine namun Celine menolaknya tak memperbolehkan Arga mengetahuinya.
"saya bisa loh laporkan bapak!! Karena bapak tidak sopan membongkar barang pribadi saya." Ancam Celine namun ancaman Celine seperti tidak ada gunanya bagi Arga.
"kamu lupa ini sudah bebas jam Kantor !!" bentak Arga.
"kamu kenapa masih menyimpan foto kita?? Kalau bukan karena foto itu aku tak akan peduli dengan mu Celine sekalipun saya masih mengharapkan mu kembali!!" bentak Arga.
"terserah bapak mau bicara apa!! saya mau pulang!! Saya tak ingin ikut dengan bapak!!" teriak Celine.
Arga pun tersenyum dan langsung mendahului Celine.
"kalian gak berantem kan??" ungkap Karin.
"maksud elo apa dengan ucapanmu itu? Memang aku terlihat ada hubungan dengan Pak Arga?" tanya Celine sembari berjalan keluar kantor.
"iyaa maaf deh maaf jangan marah - marah napa si??" ungkap Karin
"gak gue gak marah, tenang aja ayok pulang, gue mau pulang," ungkap Celine.
"*kok Arga kelihatan buru - buru banget dia mau kemana yah??" batin Celine.
"aach apaan sih aku tadi di ajak aku tolak sekarang malah aku yang pengen tau, udahlah bodok amat deh," batin Celine kembali*.
"nglamun aja, elo kenapa sih?" tanya Karin di Halte bus.
"ga, aku gapapa kok cuman ada pikiran tapi gak penting ko tenang aja," ucap Celine sembari menunggu bus bareng karin di halte bus.
...****************...
"aku harus tau mumpung kemarin sudah membawa rambut Dirga, jadi biar sekalian tau siapa Dirga itu." gumam Arga sembari menyetir mobil nya.
"Aku harus tau semua nya Celine maaf kan aku jika aku harus lancang ke padamu. Aku harus tau semua ini." gumam Arga.
Arga pun langsung melajukan mobil nya menuju rumah sakit. melajukan mobilnya dengan keceoatan di atas 100km/jam.
"untung gak terlalu macet hari ini, jadi aku harus cepat," gumam Arga kembali.
*ponsel Arga pun berbunyi.
Arga langsung meraih ponsel tersebut, terdapat nama di layar yaitu sang Mama.
"mama??" ungkap Arga sembari bingung harus mengangkat nya atau tidak.
Namun Arga memilih untuk mematikan ponsel nya itu dan menaruhnya kembali di tempat semua dan melanjutkan kembali perjalanan nya dengan mobil yang dia bawa.
"bagaimana Ma?" tanya sang Ayah.
"gak di angkat dan sekarang telfonnya mati gak aktif." jelas sang mama.
"dasar anak itu!!" ucap sang Ayah.
"papa akan nunggu Arga sampai pulang malam ini juga."
Tak lama Pricil dan Putri pun masuk ke dalam rumah.
Namun Pricil sudah memperingatkan anak nya untuk tak membahas kalau mereka bertemu dengan Ayah kandungnya.
"dari mana kalian!!" bentak sang Ayah.
Putri pun ketakutan dan hanya bersembunyi di balik tubuh sang Mami nya.
"ayah, jangan begitu kasian putri," ungkap Pricil.
"Pricil benar kau jangan membentak nya," ungkap sang Mama.
"Putri sama Omma yuk?," ungkap sang Omma.
Putri pun kemudian berjalan menuju sang Omma.
"tadi putri sama Mama kemana?" tanya sang Omma.
Namun, Putri pun menoleh ke sang Mama, dan Pricil pun memberikan kode untuk sesuai dengan perjanjian Awal sebelum masuk rumah.
"tadi Putri sama mama lagi makan Ma, di luar soalnya kata Mama, mama ingin makan bersama Putri di luar karena hampir tidak pernah mengajak Putri akibat kesibukan sang Mama." jelas Putri.
"untung saja Putri mau di ajak kerja sama dan langsung paham dengan apa yang kusuruh tadi, aku memang sudah menduganya kalau ini bakalan terjadi." batin Pricil.
"jadi Putri sama Mama sedang pergi tadi, kenapa tak ajak Omma.?" ungkap sang Omma lembut ke Putri.
"itu tadi mendadak Ma, kebetulan aku agak longgar gak terlalu sibuk jaga Swalayan tadi." ungkap Pricil yang langsung menjelaskan ke sang mama.
Putri pun kemudian berlari ke mamanya dan langsung naik ke atas setelah menjelaskan hal itu kepadanya.
"anak pinter," puji sang Mama Putri pun kemudian tersenyum.
"buruan mandi ya nanti langsung tidur." ungkap sang mama yang sudah berada di kamar anaknya.
"Ma, besok kita ketemu Papa lagi ya,? " ungkap Putri kembali, namun Pricil pun hanya tersenyum dan mengangguk.
"anak kita sayang sama engkau mas, tapi aku masih belum bisa melepaskan karirku, aku takut kalau rekan kerja ku meningalkan ku," batin Pricil.
"Mama kok diem aja??" tanya Putri.
"ach.. Gak kok sayang, mandi ya nanti Putri pakai baju yang sudah mama siapkan di kasur Putri." ungkap sang mama.
"Baik Ma, Oiya ma, Papa Arga belom pulang juga ma?? Sudah jam segini," ungkap Putri.
"Mungkin Papa Arga masi sibuk sayang, udah buruan Mandi, nanti tidur bareng Mama biar kamu gak terlambat sekolah." ungkap sang mama kembali.
"baik ma."
Pricil pun kemudian balik kekamarnya untuk bebersih badannya yang sudah lengket sedari tadi.
...****************...
Sementara itu Arga telah sampai ke rumah sakit. Rumah sakit yang berurusan dengan masalah DNA.
"bapak Arga kenapa malam - malam datang kesini?? Ada yang perlu saya bantu?" ucap sang Dokter Ridwan Prawira. Dokter tersebut memang kenal baik dengan Arga Pamungkas. Bisa di bilang mereka saling dekat karena Ridwan adalah teman dia sewaktu masih bersekolah di Jakarta.
"apaan sih kamu!! Jangan sok formal banget!! Pangil gue Arga aja kali!!" ucap Arga sembari duduk di ruangan Ridwan.
"nih," ungkap Arga sembari memberikan bungkusan Ziplock putih tersebut.
"ini apa mo nyantet orang? Bukan disini kalik," ungkap Ridwan sembari tertawa.
"lah kan kamu ngurus persoalan DNA."
"iya, iya aku tau canda aja aku tu, maksudku ada apa dengan ini??" tanya Si Ridwan.
"kamu cek dulu deh, nanti aku isi data dirinya." ungkap Arga.
"iya deh iya."
"tapi kayaknya butuh Waktu seminggu untuk mengetahui hasilnya." jelas sang Dokter.
"kalau boleh tau kenapa Arga. Dilihat dari espresi muka kamu kok sepertinya ini penting sekali?" tanya sang Dokter Ridwan kembali.
"ini penentu Ridwan, penentu apakah anak ini, anak gue atau bukan, kalau dia anak gue setidaknya gue tau."
"kenapa gak tanya langsung ke ibunya atau ke anak ini."
"ibunya mantan gue, dan dia gak mau kasih hal info apapun soal anak itu, dan anak itu masih kecil wan," tutur Arga sembari melipat tangan nya di dada dan tubuhnya ia senderkan ke sandaran kursi terrsebut.
"makanya aku ingin tau banyak soal anak ini." ungkap Arga kembali.
"intinya aku harus tau Ridwan,"
"ini pasti soal Celine mantan yang kamu tingal ke amerika itu," ungkap sang dokter.
"nah itu elo inget, aku masih mencintai nya Ridwan terakhir aku tau dia konsumsi obat depresi ku pikir dia hidup bahagia tanpa ku, tapi setelah aku tau itu dan aku membawa dia kekamar dia yang tertidur akibat efek obat itu aku melihat foto, foto sebelum aku dan dia berpisah Ridwan, dia masih menyimpannya. Jadi aku langsung menyatakan cinta ke dia tanpa aku harus berpura - pura lagi." jelas Arga.
"baiklah, aku tau perasaan mu, aku akan coba meneliti DNA ini semoga lekas keluar hasilnya secepat mungkin." ungkap Ridwan.
"tolong aku Ridwan hanya kau yang bisa membantu ku selama ini kalau aku meminta dokter yang lain aku bisa kenak amuk orang tua ku, kau tau kan aku harus bertunangan dengan Ailee."
"baiklah, aku paham. tenang kan diri mu aku tak akan membocorkan hal penting ini." jelas sang dokter.
"baik terimakasih, kau teman ku yang sangat mengerti aku," ungkap Arga.
Arga pun langsung menjabat tangan Ridwan dan berpamitan pulang saat itu juga.
Setelah dari Rumah sakit dan memint tolong temannya Arga pun langsung balik pulang ke rumah menggunakan mobilnya.
Arga kemudian mengaktifkan ponsel nye kembali dan terlihat banyak sekali panggilan dari sang Mama, Ailee, dan Dewa.
"Dewa? Kenapa dia nelfon tadi??" gumam Arga sembari menyetir mobil.
telfon pun sudah di angkat oleh Dewa.
"ada apa?? Napa nelfon? Ada hal penting?" tanya Arga di dalam percakapan telefon tersebut.
"kamu tuh ya gak balik kemana aja ?? Orang tua kamu tuh nelfonin aku terus, kan aku gak mgerti juga kamu kemana." ungkap Dewa.
"ak-u, ak.., aku dari -"
"kalau aku bilang ke rumah sakit nanti dewa bakalan Curiga lagi sama aku. Lebih baik aku diam saja tak usah mengatakan hal lain toh dia juga sangat membela Celine kalau aku jawab bisa kacau rencana ku," batin Arga
"lah malah diem aja, dari mana elo," tanya Dewa kembali, karena pertanyaan Dewa sama sekali belom di jawab oleh Arga.
"owh aku ad urusan tadi tiba - tiba aja ada muatan dadakan jadi aku nunggu in barang itu selesai di muat di gudang" dusta Arga.
"yaudah buruan balik di cariin orang tua elo tuh, ya udah ya gue lagi di luar nih,"
"oke,.. Oke baay thanks infonya yah sorry ganggu elo " ungkap Arga.
telfon pun berakhir.
"sudah aku duga pasti nelfon Dewa juga, lagian kenapa sih aku tuh udah gede masi aja di beginiin kaya anak kecil. Ini pasti atas tekenan dari Ailee. Sial bener tuh gadis." umpat Arga.
"andai saja gue gak mengikuti saran Celine buat ke Amerika, gue pasti gak akan kejebak sama permainan orang tua gue sendiri." gumam Arga.
Arga pun langsung menanjapkan gas mobil nya dengan kencang dia sudah tak peduli lagi dia berjalan di jalan raya berapa kilo meter lagi.
"Celine elo kanapa coba ninggalin gue, andai aja gue tau alasannya. Apa ini alasan yang tak elo sampaikan karena elo udah punya anak dari lelaki lain." gumam Arga kembali dia membawa mobil nya dengan kencang dengan pikiran yang masih kalut akibat hal yang dia fikirkan sendiri.
"kalau pun itu bukan anakku, aku masih tetep suka sama kamu Celine, aku gak ingin kita berpisah lagi. Bertahun- tahun aku pisah dengan mu ini sangat membuat ku gila dan gak bisa berfikir dengan Jernih Celine. Kamu bagaikam obat candu dalam hidup ku. Setidak nya kalau aku tau dia anak ku aku bisa menunjukkannya tanpa dia harus menghindar dari ku lagi." ungkap Arga.
Arga pun langsung fokus menyetir kembali dengan kecepatan yang sangat tanggi.
...****************...
Sementara itu di kediaman Celine.
"kamu sudah pulang Celine??" tanya sang ibu.
"Dirga kemana Ibu?" tanya Celine.
"ibuk ngak ngejual Dirga kan bu!!" teriak Celine.
"apa- apaan sih kamu mana ibu tega membuang anak mu, dia sudah tenang di kamarnya, ada ada aja kamu ini!! Kenapa tiba - tiba berkata mengerikan seperti itu, kamu ya, paling gak sebelum kamu tanya di mana Dirga, kamu Cek kamar dia, masih ada atau tidak nya paham!!" Bentak sang Ibu.
"iyaa, maafin Celine buk,"
"Celine akhir- akhir ini kecapean soal kerjaan," ungkap Celine.
"ya tapi, masa iya kamu bicara seperti itu ke ibu kamu sendiri sih tega kamu" ungkap sang ibu.
"iya ibu, Celine kan udah minta maaf, " ucap Celine, sembari Celine memeluk sang ibu yang sedang berdiri.
"kalau kamu mau ketemu Dirga mandi dulu, kamu habis aktifitas di luar rumah," saran Ibu.
"iya ibu, Celine tau kok, Celine mau mandi dulu habis itu main sebentar ama Dirga, dan langsung Celine tidur beristirahat untuk aktifitas besok pagi lagi," ungkap Celine.
"bagus kalau gitu, soalnya kasian Dirga dia masih kecil masih sangat Rawan," ucap sang ibu menasehatinya kembali.
"iya ibu, Celine paham ya udah Celine mau mandi dan bebersih dulu." ungkap Celine.
"ya sudah jangan lupa nanti kamu makan kalau kamu laper, kita semua udah makan Celine." ucap Sang ibu.
"Celine tau ibu!!" teriak Celine sembari berjalan menuju kamar mandi.
Celine pun kemudian bergegas membersihkan diri nya sendiri setelah selesai aktifitas di luar sana tadi.
"dasar kamu Celine. Slalu saja sifat mu tak berubah dari dulu, melihat mu sekarang semoga kau bisa terlepas dari masa lalu mu dan berdamai dengan masa lalu itu, untuk kedepannya jika kau masih mencintai Arga aku tak akan melarang mu dan semoga kau bisa kembali dengan Arga walaupun aku tau irang tua nya melarang itu, tapi aku ingin kau bahagia Celine. Aku tau kau masih mencintai Arga," gumam sang ibu yang tadi masuk ke kamar Celine dan masih terlihat foto anak nya bersama Arga, papa biologis Dirga.
"kasihan kamu Dirga masi kesecil sudah mengalamami masalah rumit sepertu ini," gumam sang ibu kembali sembari melihat anak nya yang sudah masuk dalam kamar mandi.
Walau pun di Kantornya menggunakan AC, tali tetap saja, cuaca di Jakarta sangat lah panas dan banyak polusi.
Celine pun bersiap mandi dan bermain sebentar dengan sang anak. setelah itu barulah dia beristirahat dan juga sang ibu pula menyusulnya.
Bersambung