Hourglass

Hourglass
Rumah Baru



"Tetap Awasi jalanan Dewa! Kita cepat saja ketemu di temoat biasa," Arga pun memberikan komandonya.


"Oke."


"Gimana Dewa masih Jauh?" ucap Si Pircil.


"Tenang lah kita udah keluar kota jadi aman. Tapi aku akan tetap mengawasi."


"Felix! kita langsung saja di rumah," ucap Arga kembali.


"Oke."


Dengan keadaan mobil yang hancur mereka pun masih melakukan perjalanan nya menuju rumah yang akan di tinggali nya.


Jasson pun tanpa sadar melihat Karin yang duduk di belakanag bersamaan dengan Dirga.


Dewa sadar akan hal itu.


"Kenapa liattin Karin?" Dewa pun mengucapkan hal tersebut.


"Makanya lain kali kamu jangan bikin dia jatuh ke lubang buaya. Ribet kan kamu sekarang. Gue liat itu tadi anak buahnya si Briyan yang ngikuti kita."


"Loh berarti nambah donk."


"Ya kan sesuai yang ku ucapin tadi," kekeh si dewa.


"Ya mana aku tau kalau mantan dia psycho begitu," Jasson pun langsung memfokuskan kembali ke jalanan setelah rambu berwarna hijau.


"Kamu kalau salah tingkah selalu kayak begini. Dasar gak berubah si Kang Es."


"Maksudnya? Apaan nih!"


"Kan kamu emang kang Es gak pekaan , bego. Lengkap lah sudah. Tapi heran juga kenapa cewek bisa tergila - gila ama kamu ke timbang aku!" keluh si Dewa.


"Ya mana ku tau!" ucap Jasson.


"Hey kalian! Lupa ama yang di suruh boss kita untuk waspada? Apalagi kamu Dewa. Lupa kamu? Eh malah berantem soal perasaan masing - masing. Lagian kamu ya Dewa. kamu tuh cowok bisa baper juga ternyata," ucap Si Felix.


"Emang kalau aku cowok masalah gitu? Cowok juga manusia jangan salah."


"Makanya buruan deh cari cewek dari pada kamu baper sendiri," kekeh si Felix.


"Canda ich! Tuhkan udah di bilang mending cari cewek langsung deh biar gak Baper kamu Dewa!" kekeh Si felix lagi.


"Inget yak! Kamu juga jomblo! Inget itu sesama lelaki jomblo jangan menghina lah udah."


"Tuhkan Baperran lagi," kekeh si Felix.


"Kalian ngomong kayak gini boss kalian denger loh gak malu apa!" ucap Jasson.


"Udah deh gak usah ikuttan sok - sok galak keg boss kita gak pantes kamu bentak- bentak atau ngomel begitu, apalagi marah - marah sampai teriak," jelas si dewa


Felix dan Jasson pun tertawa.


"Jadi maksud kamu aku begitu Dewa! Gak nyangka loh kau menusuk ku dari belakang sungguh syakit hati ini," ucap si Arga sambil melogatkan omongannya sendiri.


"Jijik! ich jijik tau gak! Geli aku! Udah lah hentikan. Udah di bikin baper sekarang di rayu bosss gue sendiri. Kalau cewek masih mending ya, lah ini boss gue udah tuir , lakik lagi. Gak ada hiburan sama sekali!" keluh si dewa.


"Bener - bener temen lakn*t kamu dewa!" bentak si Arga.


"Bodok amat, bosen aku ketemu nya kamu lagi dan lagi sekali - kali lah aku seneng - seneng ama cewek gak sama boos Arga ini."


"Serah deh serah. "


"Ngambek gitu aja ngambek. Marah, nanti ngadu ke Bini," Dewa pun menjadi mengolok - olok si Arga.


"Loh kok jadi Bawa aku! Kenapa kalian!" teriak si Celine. Celine pun mendekati Dewa dan berkata, "Apa yang kalian bicarakan?" tanya si Celine.


"Oh kita cuman bicara kalau kita akan sampai ke tempat tujuan bentar lagi kita sampai kok."


"Bentar lagi apa! Udah dari tadi nih bentar lagi terus!" keluh si Kakak ipar.


"Ya maaf, si Arga minta nya juga jauh juga. Salahkan lah dia. Aku dan yang lain cuman menuruti perintah nya aja."


Akhirnya mereka pun masih melanjutkan perjalanan nya menuju rumah besar yang sudah di bangun Arga dari beberapa tahun lalu, dan baru kali ini mereka menempati rumah tersebut.


"Ngomong - ngomong kalian kalau udah sampai pasti kaget. Karena rumah nya guede jadi udah gak bingung soal kamar dan lain - lain."


"Udah diem aja nanti biarkan mereka tau sendiri aja," tandas si Jasson.