
Mereka bertiga pun menuju ke rumah Arga. Setelah itu barulah Jasson membuka ponsel tersebut.
Terdapat Chat dengan nomer tak dikenal. Jasson pun langsung mengklik Foto yang di kirim oleh pengirim itu.
"Karin!" Jasson pun berteriak dan bangkit dari duduk nya tersebut.
"Kamu kenapa?" Dewa pun ikut panik dan menanyakan apa yang terjadi.
"Karin!! Karin!"
"Hay tenang lah! Bicara yang lebih spefisik lagi kenapa dia."
Jasson pun langsung memberikan ponsel nya dan memperlihat kan isi chat tersebut.
"Kamu yakin ini Karin? Salah mungkin."
"Aku gak bakalan lupa dewa! Dia itu makek Jaket aku! Jaket ku berikan pada dia tadi, sewaktu aku bertemu."
"Beneran? Coba deh kamu hubungin Karin dulu." Jelas Dewa.
"Gak bisa."
"Kenapa emang nya." Dewa lun bertanya - tanya kembali ke Jasson.
"Kalian kenapa? Ada masalah?" tanya si Dewa kembali.
"Aku mengakhiri dan menyuruh nya untuk menjauhi ku," Jasson pun menjawab dengan lemah saat mengungkit kembali masalah nya dengan Karin.
"Sebenernya, aku mengakhiri hubungan dengan nya supaya dia tak kena masalah atau tak kena teror dari para musuh. "
"Jawab pertanyaan ku dengan jujur Jasson! Kau menyukai nya kan!" bentak si Dewa kembali.
Dewa pun menunggu jawaban Jasson, namun Jasson cenderung tak menjawab nya. Dia memang terkenal dengan cowok tertutup tentang masalah pribadinya.
"Jawab Jasson! Jangan jadi pecundang! Begini kamu jago mainkan Panah dan tembakan! Tapi kenapa soal dia! kamu bodoh!" bentak Dewa kembali.
"Kalau kamu peduli dan sayang dia. Jangan tingalin dia ke musuh!! Jasson! Bodoh! Kamu!" bentak Dewa kembali.
"Sejak kapan Tuan besar kita melarang kita memiliki kekasih? Dan sejak kapan Celine melarang kita memilili kekasih! Dan sejak kapan anak buah kita melarang kita memiliki kekasih juga! Kapan Jasson! Jawab aku!" dewa pun semakin berteriak ke Jasson melihat Jasson seperti pecundang sangat membuat nya risih sekali baginya.
"Kalau kau peduli dan sayang! jangan pernah tinggalkan orang yang kau kasihi itu ada di tangan musuh!" Tandas Dewa.
"Paman Dewa kenapa marah ke Paman Jasson?" tanya si Anak kecil tersebut.
Dewa pun sadar kalau Dirga masih bersama dengan nya. Ia sangat tak bermaksud menunjukkan sisi buruk nya ke Dirga. Maka Dewa pun meminta maaf ke Dewa.
"Paman Dewa minta maaf ya, Dirga." ucap si Dewa.
"Paman Jasson, jangan seperti kejadian Mama Nýa Dirga. Papa Dirga dulu meninggalkan Mommy ketika Dirga masih kecil. Mommy Dirga mengalami kesulitan di masa itu saat mengurus Dirga." Dirga pun menjelaskan.
Tak lama Sang Omma pun keluar dan mendengar pembicaraan Dirga.
"Momy Dirga dulu sangat tertekan saat Papa Dirga meninggalkan Mommy. Jadi Dirga tau bagiamana rasa nya di tinggal Karena Dirga selalu melihat Mommy yang mengalami kesulitan. Dirga memang masih kecil tapi Dirga masih bisa mendengar dan melihat serta Dirga juga masih punya rasa kasihan sama Mommy. Walaupun Omma dan Mommy menutupi semua nya, tapi Dirga hanya bisa diam. Jadi maksud Dirga disini. Paman Jangan tinggalkan orang yang paman Suka." Dirga pun menjelaskan sambil memegang tangan Jasson.
'Celine, Dan kamu Arga seandainya kalian mendengar anak kalian bicara seperti itu, anak kalian sungguh sangat perasa sampai dia harus menutupi rasa yang dia rasakan sebenernya waktu itu.' Batin sang Omma.
"Hubungi saja dia Jasson tanyakan bagaimana keadaannya. Kamu jangan keras kepala apalagi kamu meninggikan egomu. Selama ini kalian kan sudah lama ikut dengan Arga kan? Dan Arga jiga tak mempermasalahkan urusan pribadi kalian kan?" ucap sang Ibu.
"Bener kan apa yang aku suruh. Pedulilah sama Karin Jasson."
"Memang Tuan Arga tak mempermasalahkan semua nya yang dia pentingkan hanyalah bagimana menjaga semuanya dari para musuh ini."
"Terus? Apa lagi yang kamu pikirkan?" tanya sang Ibu kembali.
"Baiklah. Kalau begitu saya akan menghubungi Karin. Lahi pula tadi juga dia telah menelfon saya berulang kali. Namun saya tak angkat karena pertemuan dengan bapak Arga tadi."
***
"Ini gak masalah kalau aku datang? Aku kyaknya gak pantas dan pasti gak boleh masuk" Celine pun bertanya kepada sang suami yang berada di sampingnya.
"emang kenapa? Kamu itu istri aku! Siapa yang gak bolehhin? Emang kamu gak bolehin kak!!" teriak Arga sambil menatap kebangku belakang melihat kakaknya.
"Kenapa aku di bawa - bawa. Aku gak ngapa- ngapain lagian juga baru hari ini juga ketemu sama Istri kamu."
"Arga! Kamu apaan sih malu tauk!" bentak Celine kembali.
"Habis tadi kamu bicara seperti itu, disini kan hanya ada aku, kakak dan sang supir. Apa kamu juga pak yang menyuruh istri ku tidak boleh bertemu orang tuaku!" teriak Arga kembali.
sang sopir pun terkejut dengan bentakan Arga dan menjawab dengan tergagap - gagap, "ti..tii tiidak! Tuan!"
"Arga ich! Ngeselin! Aku serius!"
"aku juga serius menanyakan ke mereka. Tidak ada kan yang menyuruh untuk seperti itu."
"Arga!"
"Udah deh, kalian tuh berantem nya nanti aja yang penting ini, masalah kita bisa membawa orang tua kita apa tidak soalnya kalau masi di sana takutnya musug datang menyerbu mereka. Bagaimanapun mereka juga orang tua aku. Aku tau apa yang kamu pikirkan Celine, karena aku pin berada di posisi yang sama seperti dirimu." jelas Leonard.
"Sekarang kita fokus dulu ke masalah utama. Bukan berarti masalah kalian gak penting. Cuman ini kan soal Mama dan Papa pasti sangat lah mendesak. Bahkan kita saja pergi sampai menyamar seperti ini." Jelas Leonard kembali.
"Iya deh iya." ungkap Celine.
Celine pun menunggu mobil tiba sampai ke rumah Arga.
"Semoga kita di terima baik ya," Jelas Arga.
"Semoga saja," jawab Leonard.
"Amin," Timpa Celine kembali.
"Kalau nanti berhasil aku akan membawanya jauh dari kota ini dan membawa mereka ketempat yang sudah aku buat." jelas Arga.
"Apa sehalaman luas yang berisi tiga rumah? Kamu sudah menyiapkan itu semua Arga?" tanya Leonard kembali.
"Tentu saja, yang penting Bisnis dan Mall ku berjalan lancar aku bisa memiliki pasokan uang."
"Dasar yang sombong! Gak boleh kamu begitu!" Celine pun mengingatkan suaminya.
"Iya maaf lupa." ungkap Arga.
Leonard pun menahan tawanya dan di sadari oleh Arga.
"Kenapa ketawa kau Kak!"
"Kau mengingatkan ku saat kau di Amerika betapa kau galau dan jahat kepada musuh tapi sama Celine kau bisa sebucin ini." ungkap Leonard sambil terkekeh.
"Udah deh! Diem! Gak Dewa gak kakak gue sendiri ngeledek aja kerjaan kalian!" bentak Arga.
Celine pun menahan tawa dan melihat pemandangam luar lewat jendela mobil.
"Kau juga tertawa Celine! Udah deh ledek aja terus kalian!"
"ich ngambek gitu aja terus," ungkap Celine Yang akhirnya tertawa juga. Ia pun tak bisa menahan tawanya kembali. Karena melihat suaminya yang sedang marah dengan dahi yang mengernyit dan kedua tangannya yang ia lipat di dadanya beserta mulut nya yang manyun begitu.
"Dah! Dah! Udah aku bilang. Fokus dulu! Dasar Arga!" ungkap Leonard yang masih tertawa.
Bersambung