
"Gimana? Ketempat biasa kumpul?" Jasson pun bertanya untuk melanjutkan arah mobilnya.
"Iyap."
"Gimana Arga pasti ikut kan?" Celine pun bertanya.
Belom sempat Dewa menjawab sang kakak ipar pun bertanya juga, "Gimana Leonard, gimana suami ku?" tanya sang Kakak kembali.
"Tenanglah suami kalian baik - baik aja."
"Terus sekarang kita gimana?" Celine pun bertanya kembali.
"Bertemu tempat biasa."
Jasson pun langsung melajukan mobil nya sengan cepat.
Ponsel Dewa pun berbunyi kembali. Ia melihat layar ponsel tersebut.
"Kenapa?" Dewa pun langsung mnegucapkan hal tersebut.
"Kau tak merasa ada yang mengikuti?" ucap sang anak buah bayaran tersebut.
Dewa pun langsung mencari ke seisi jalanan yang ia lewati.
"Aku tak melihatnya," sahut si Dewa kembali.
"Kenapa?" Jasson pun bertanya juga.
"Biar kita yang selesaikan kalian buruan lewat perbatasan."
Dewa pun langsung menutup telefon tersebut. Kemudian Jasson mulai bertanya, "Ada apa?" tanya si Jasson.
"Dewa! Kau baik - baik saja kan Fokuslah! Keluarga ku ada di kamu!" teriak si Arga.
Jasson dan Leonard pun ikutan panik.
Sedangkan Dewa hanya terdiam dan melihat kesekelilingnya. Bahkan melihat melalui kaca spion mobil.
"Breng*ek!" Dewa pun mulai mengumpat.
"Kenapa kamu!" tanya sang Kakak Ipar.
"Paman Dewa kenapa?" Dirga pun mulai bertanya.
"Apa kita akan kebut - kebutan kembali seperti tadi? Dirga Suka melihat Paman Jasson yang cepet bawa mobil!" ucap Dirga yang Antusias.
"Dirga. Jangan begitu."
Namun orang tua Arga pun hanya terdiam. Dirga pun mendekati orang tua Arga.
"Kalau Dirga udah besar Dirga akan menjaga semua nya sebisa nya Dirga!" teriak Si Dirga.
"Kamu masih kecil! Belom paham urusan orang dewasa," jawab ketus sang Papa.
"Omma dan kakek. Dirga sayang kalian, Dirga gak tau kenapa Dirga bisa merasa sayang dengan kalian."
Dirga pun langsung kembali ke pangkuan si Mommy nya.
Karin yang satu deret dengan orang tua Arga pun terdiam dan terkejut mendengar ucapan Dirga. Seperti orang yang sudah dewasa.
'Memang perasaan anak kecil itu polos dan masih bersih.' batin si Karin.
Dewa pun langsung bilang ke Jasson untuk segera mengencangkan mobilnya.
"Nanti sesampai nya di perbatasan mereka sudah tak mengikuti."
"Apa!" ucap Jasson terkejut.
"Tenanglah."
Jasson pun mengikuti arahan Dewa dan berusaha dengan tenang.
"Gak usah gugup kau pernah mengalami ini. Ingat! Tuan Arga percaya dengan kita. Bahkan disini kita membawa orang penting dalam hidup tuan kita."
Jasson pun menatap Dewa dan mengangguk.
"Jangan terlalu cepat tetap tenang. Aku gak akan membiarkan mereka menyakiti kita semua."
Jasson pun mengangguk begitu saja dan memfokuskan kembali ke jalanan.
Dewa pun langsung mengambil senjata yang dia siapkan di sampingnya. Senjata bernama Makarov. Senjata buatan asal Rusia.
Dewa selalu berjaga - jaga jika musuh sudah mulai mendekatinya.
Ia slalu tak ingin memulai duluan melainkan biar musuh yang akan memulai nya. Tugas Dewa adalah memancing. Jika musuh sudah terpengaruh barulah Dewa beraksi.
"Kau kenapa Dewa?" tanya si Arga. Karena alat komunikasi jarak jauh mereka memang belom di matikan jadi Arga bisa mendengar itu.
"Tenang lah. Aman sudah. Aku pun juga sudah menyuruh para anak buah suruhan. Percayalah."
Arga pun terdiam.