
"Ayolah Ma, Pa. Kalian jangan seperti ini keluar lah sebentar, kita semua berkumpul loh," jelas si Arga sambil berteriak di depan kamar orang tua mereka.
Namun sang Pengawal semakin maju menahan Arga yang akan menerobos masuk ke kamar orang tua Arga.
"Kalau Mama dan Papa gak mau keluar. Oke akan Arga jelaskan disini. Aku ajak kalian suoaya kalian aman. Karena musuh Arga sudah mengintai kalian di luarran rumah sedangkan Aku sudah ajak kakak untuk ikut aku. Sekarang giliran kalian. Kalau kalian masih disini aku sungguh masih tak tenang."
Terdiam sejenak.
"Kita tunggu saja sampai mereka keluar saja Arga," jelas Sang Kakak ipar.
"Gak bisa aku harus menjelaskan seperti ini biar mereka paham. Aku masih tak tenang Kak, jika mereka masih disini. Aku bingung harus ngapain."
"Kita tunggu saja dulu Arga. Mungkin mereka butuh waktu kan?" ucap Leonard.
"Baiklah kalau kalian gak mau keluar aku dan yang lainnya akan menunggu di ruang tamu sampai kalian keluar!" teriak si Arga.
Mereka berdua pun kemudian menuju ke ruang Tamu.
"Gimana?" Celine pun bertanya ke sang suami sambil mendekatinya. Begitu pula sang Kakak ipar.
"Mereka seperti yang kalian liat, gak mau keluar. Bahkan kita saja di jaga pengawal untuk tak masuk lebih dalam lagi ke kamar Papa dan Mama," jelas sang Kakak ipar.
"Apa bener begitu Arga?" celine pun bertanya kembali ke sang suami. Sedangkan sang suami hanya mengangguk begitu saja.
"Terus kita harus ngapain sekarang?" Pricil pun bertanya juga.
"Aku mengusul kan untuk menunggu Mama dan Papa. Karena Arga sudah tak bisa berfikir Jernih untuk saat ini," tutur Leonard.
"Aku gak tau harus berbuat Apa padahal aku ajak kalian semua di tempat aman kalau aku bertempur bagaimana dengan Papa dan Mama yang masih disini, memang bener rumah ini banyak para pengawal. Tapi aku tak bisa melepaskannya begitu saja. Padahal kan tujuan ku supaya tidak ke deteksi musuh," Arga pun sambil menyangga kepala nya dengan menggunakan tanggannya.
"Aku lelah," ucap Arga sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
Sementara itu orang tua Arga yang berada di dalam kamar sedang membicarakan untuk keluar kamar atau tidak.
"Bagaimana Pa? Kita keluar tidak?" tanya sang Mama.
"Mama memang marah sama anak- anak kita yang sudah di atur. Tapi Arga masih memikirkan nasib kita Pa."
"Bagaimana kalau kit keluar sebentar mebicarakan apa yang memang harus di jelaskan. Selama ini kan memang kita di teror Pa."
"Tapi Ma, Papa itu masih belum bisa menerima mereka semua. Semua itu menantu miskin bagi kita Ma."
"Mama tau Papa sangat sebal begitu pula dengan Mama Pa, tapi mau bagaimana lagi. Kita kan coba untuk mendengar kan usulan Arga. Mereka semua kesini untuk memikirkan kita loh Pa," bujuk sang Mama kembali.
Sebenernya mereka sudah menerima sebuah ancaman yang di lempar dan di tujukan ke mereka, namun mereka enggan untuk membicarakan nya kepada Arga dan yang Lain.
Karena suatu gengsi yang tinggi membuatnya ia tak bisa merasakan hal yang sebenarnya.
"Gimana Pa? Kok Papa diem aja?" tanya sang Mama kembali.
"Mama itu Aneh kemaren gak mau bertemu mereka, tapi sekarang? Malah bujuk - bujuk Papa."
"Karena Mama juga takut akan teror itu Pa. Jadi lebih baik kita turuti apa kata Arga anak lelaki kita Pa."
Sang Papa pun terdiam dan masih berfikir apakah ia akan membahas teror yang dia dapat sebelumnya atau malah diam saja?.