Hourglass

Hourglass
Menunggu sebuah persetujuan



Pernikahan itu akhirnya sudah selesai dan mereka sudah menjadi pasangan suami istri walaupun pernikahan mereka masih siri.


"Kamu kenapa minta Siri?" tanya si Arga


"Kan kita bisa nikah secara resmi?" ungkap Arga kembali.


"Bagaimanpun aku akan tetap menunggu orang tua kamu merestui aku Arga."


"Aku akan menunggu itu, aku bahagia menikah dengan mu tapi aku akan tetap menunggu restu dari orang tua kamu, apapun itu aku akan menunggu nya Arga."


"Sampai kapan kamu akan menunggu nya Celine mereka akan tetap seperti itu tidak merestui kita, bahkan kakak ku saja sampai harus berpisah rumah karena ego orang tua ku sendiri!" amuk si Arga karena merasa kesal dengan prilaku orang tua nya sendiri.


"Kamu jangan seperti itu Arga, bagaimana pun mereka orang tua kamu. Tanpa mereka kamu gak akan seperti ini. Kamu gak akan pernah ketemu aku Arga," jelas si Celine.


"Paman Tinggi!" teriak Dirga ketika akan menghampiri paman tingginya.


Arga yang awalnya kesal kini sedikit luluh ketika melihat jagoan kecilnya menghampiri dirinya.


Dirga pun langsung memeluk Arga saat itu juga hingga membuat Arga tersenyum lebar. Sedangkan Celine pun melihat Dirga bersama Ayah biologisnya.


"Kok masih pangim Paman Tinggi. Paman tinggi kan sudah menikah dengan Mommy nya Dirga. Jadi pangil Paman tinggi dengan sebutan Daddy! Gimana? Setuju?" ungkap Arga.


"Jadi Dirga pangil paman tinggi dengan sebutan Daddy?" tanya si Dirga tersebut.


"Kamu memangil nya Daddy sayang," ungkap Celine yang sudah berada di hadapan sang anak.


"Karena Paman tinggi sudah menikahi Mommy jadi Paman tinggi adalah Daddy nya Dirga orang tua Dirga."


"Bener seperti itu Mommy Paman tinggi sekarang jadi orang tua Dirga!" teriak sang anak karena saking bahagianya mendengar berita tersebut.


"Tentu saja Dirga," ucap sang Oma.


"Oma! Dirga punya orang tua baru!" teriak Dirga sambil menghampiri sang Oma.


"Dirga seneng kan punya Daddy sekarang."


"Dirga seneng Oma sekarang Dirga bisa menjawab ejekan temen - temen Dirga yang gak punya Papa. Sekarang Dirga punya Daddy baru! Assikkk!" teriak sang Anak sambil meronta - ront kegirangan di pelukan sang Oma.


Semua pun tersenyum bahagia melihat Dirga bahagia bahkan Arga pun bahagia merasa dirinya sudah bisa bersama Celine kembali seutuhnya.


Arga pun langsung memeluk Celine saat itu.


"Daddy! Sekarang Daddy sudah jadi orang tua buar Dirga kan mommy!" teriak sang anak kembali sakin senang nya sampai memastikan kembali.


"iya sayang," ungkap Celine.


"Sekarang Dirga juga anak Daddy yang paling ganteng! dan jadi superhiro nya Mommy saat Dady gak ada!" ungkap Arga.


"Dirga selalu jaga Momy Daddy. Mommy jangan sampai menangis lagi seperti dulu. Kalau Mommy menangis pasti Dirga ikuttan sedih melihat Mommy bersedih."


"sekarang kan sudah ada Daddy, jadi semua akan baik- baik saja Daddy akan selalu berjuang demi Dirga dan Mommy. bahkan Oma keluarga kecil kita Dirga." jelas Arga.


"Yasudah kalau begitu kalian buruan ganti baju, kan itu masih pakaian Pernikahan jadi ganti baju kalian." pinta sang Oma.


"Baik Ibu," ucap Arga.


"Dirga jangan lupa nanti kerjakan tugas rumah, yang sudah di beri oleh guru," ucap Celine.


"Baik Mommy."


***


"Bagaimana ini Ayah, Arga sudah berhari - hari sudah tak pulang ke rumah," ungkap sang Mama yang sudah mulai khawatir.


"Seharusnya kalian merestui hubungan Arga kalau memang Kalian khawatir padanya," ungkap Pricil sang kakak.


"Kamu! Dasar anak gak tau diri! Masi mending kamu tidak aku suruh untuk kalian bercerai!" teriak sang Mama.


"Tapi kalian memisah kan Aku dengan Ayah Putri! Itu sama saja! Sama saja kalian membuat ku berpisah dengan keluarga kecil ku juga Mama!" teriak Pricil.


"Aku tak ingin lagi mendengar pertikaian lagi! Sampai kapan pun aku tak akan menyetujui Arga dengan wanita miskin itu!" ucap sang Ayah.


"Kalian lebih memilih kedudukan dari pada memilih kebahagian anak kalian sendiri!" teriak Pricil dan pergi dari meja makan tersebut dan menuju ke kamar sang anak.


"Pricil! Dasar! Kamu anak durhaka! Berani kamu melawan orang tua mu sendiri!" teriak sang Mama.


Pricil pun langsung terhenti dari jalan nya dan berbalik menatap sang Mama.


"Iya! Aku memang anak Durhaka! Aku lebih menyetujui si Arga yang berani mengambil tindakan bukan orang macam aku! seperti pecundang yang masih mengikuti aturan kalian!" teriak Pricil.


"Pricil!" teriak sang Mama.


Sang Ayah pun kemudian meletakkan koran yang ia baca di taruh ke atas meja makan dan menghampiri Pricil.


Sungguh sangat tak di sangka, sang Ayah berjalan ke Pricil dan melesatkan tangan nya ke Pipi sang Anak.


Pricil pun terkejut beserta sang Mama. Karena tindakan sang Ayah yang sudah menampar anak nya sendiri.


"Ayah?" gumam sang Istri.


"Aku menamparmu supaya kamu tau! dan sedar! Kamu sedang berbicara dengan siapa!" bentak sang Ayah.


Pricil pun langsung memeganggi pipinya dan menangis dengan tindakan sang ayah tersebut. Ia merasa kecewa atas tindakan Ayah nya tersebut.


Seumur hidupnya Pricil baru merasakan sebuah tamparan dari sang Ayah kandung nya tadi.


"Ayah tega! Sampai ayah berani menamparku! Hanya sebuah kedudukan dan kasta! Kalian menistakan anak kalian sendiri!" teriak Pricil kembali.


Pricil pun berlari dan menaikki anak buah tangga untuk menuju ke kamarnya. Ia tak jadi menuju ke kamar sang anak.


Ia takut jika sang anak berfikiran macam - macam soal Mamanya yang sedang menangis.


Pricil pun langsung membanting pintu kamarnya tersebut dengan kencang dan menangis sejadi - jadinya di balik pintu tersebut.


Ia berusahaa manangis tanpa suara supaya sang anak tidak mendengarkan tangissannya tersebut.


Berjam - jam Pricil pun masih menangis di dalam kamarnya.


Hingga dirinya pun terfikir dengan sang anak nya.


"Sepertinya Putri lebih baik hidup dengan Papa nya. Dari pada dia berada disini yang juga bisa saja merasakan tertekan," gumam Pricil di sela - sela tangis nya sambil menghapus airmata nya yang sudah membasahi seluruh mukanya.


"lebih baik Putri bersama dengan Papa nya. Aku yakin Leonard pasti bisa bertanggung jawab dengan anak nya sendiri. Setelah itu aku akan menyusul mereka jika urusan ku disini sudah beres." ungkap Pricil di dalam benak nya tersebut.


Pricil pun kemudian menghubungi Leonard suami sahnya.


Mereka pun sama saja menikah secara siri bersamaan dengan Celine dan Arga.


Leonard pun sama hal nya dengan pikirian Celine. Mereka akan sama - sama menunggu hubungan mereka di restui hingga akhirny mereka bisa meresmikan pernikahan mereka tersebut.


Pricil pun kemudian berdiri dang mengambil ponsel yang ada di kasurnya dan langsung saja melakukan pangilan ke Leonard saat itu juga.


"Halo leonard?" ucap Pricil di dalam telefon tersebut.


"Kamu kenapa Pricil? Apa kamu habis menangis? ada apa kamu kenapa?" ungkap Leonard yang panik dalam telefon tersebut.


"Dengar kan ucapan ku Leonard." ungkap Pricil yang tertahan di dalam rongga dadanya karena untuk mempersiapkan omongannya kembali.


"Bawa Putri!"


"Apa! Apa maksudmu."


"aku, ingin-"


Bersambung.