Hourglass

Hourglass
Rumah Sakit



Mereka semua pun akhirnya sampai ketempat titik temu mereka kembali setelah sekian jam Mereka menempuh perjalan itu.


Celine pun langsung keluar dari pintu mobil dan berlari ke arah Arga. Ia pun memeluk nya dan menatap sang lelaki yang mengecek seluruh badannya.


Begitu pula sang orang tua Arga menatap nya sedari kejauhan. Tak lupa ia menatap sang menantu lelaki nya itu juga.


"Aku baik - baik aja Pa. Ma." Sahut si Arga saat dia mengetahui kalau orang tua nya melihat dirinya.


"Lengan kamu! Arga." udah gak masalah. Aku sudah mengambil peluru itu di bantu sama Kakak Ipar."


"Tapi tetap saja dong gak bisa kayak gini. Pokok nya kita ke rumah sakit."


Celine pun mulai khawatir dengan keadaan Arga saat itu.


"Sekarang Kita ke rumah sakit dulu aja kalau kalian ada yang terluka kita langsung periksa."


Celine pun menegaskan seperti itu ke semuanya.


"Beruntunglah kalian! Bisa di perhatikan oleh istri ku sendiri," ucap Si Arga.


"Paan sih kamu!" Celine pun tersipu mendengar sang suami berkata seperti itu.


"Udah deh mendingan sekarang kita langsung bergegas aja, takut kalau mereka menemukan kita di sini," tutur si Arga.


"Jangan lupa kita ke rumah sakit!" tandas Celine kembali.


"Kita ke rumah sakit milik Andreas Jhony aja. yang dulu nya dia juga mantan mafia juga," Jelas si Dewa.


"Apa?" Pricil pun bingung dengan ucapan Dewa.


"Iya dulu nya dia Mafia juga. Mafia obat, pengedar juga dia mendirikan rumah sakit itu juga berkat bisnis dia."


"Udah jelasinnya jangan disini! Lagian biar saja itu urusan mereka yang penting sama kita semua dia baik," tandas si Arga.


"Yaudah pokoknya aku pengen kamu sembuhin dulu luka kamu!" bentak si Celine lagi.


"Iya."


Mereka semua pun akhirnya menuruti perintah Arga dan segera bergegas pergi meninggalkan lokasi tersebut.


Arga pun masih menggunakan mobil yang tadi dia kenakan saat melawan para musuh.


Mereka langsung menancap kan pedal gas tersebut.


Saat sudah di dalam mobil Arga pun langsung meminta Hendra untuk melihat Melly.


"Hendra! Tolong kamu Cek Melly yang bekerja di gudang kita." ucap si Arga dalam percakapan telefon tersebut.


Hendra yang sedari tadi sudah berjaga di rumah. Mendengar perintah baru dari boss nya sendiri ia pun langsung mengerjakan tugasnya itu.


Ia langsung mencari keberadaan dan informasi soal Melly. Berbagai cara Hendra temluh bahkan sampai membobol sebuah internet hanya untuk mencarinya.


Namun memamg membuthkan waktu yang lama untuk mencari informasi tersebut.


***


Kediaman Ailee.


"Bagaimana bisa gagal?" ucap sang Papa.


"Bukannya Papa bilang untuk jangan gegabah menyerang mereka. Arga itu jago memainkan Pistol dan Mobilnya. Apalagi dia punya anak buah yang tak kalah Pintar juga! Kita serang nya secara perlahan."


"Seperti memainkan bisnis mereka jangan kau asal menyuruh anak buah ku begitu saja! Sekarang kamu liat kan! Anak buah kita kehilangan banyak orang! Ini karena kamu Briyan!" bentak sang Papa.


"Ailee udah jelasin ke Briyan Pa. Tapi dia sakit hati sama mantan nya."


"Apa! Karena wanita kamu gak bisa berfikir jernih! Jangan terang - terangan menyerah mereka. Sama saja kalian menyerahkan anak buah kita ke musuh untuk di babat habis! Kalau sudah seperti ini gimana? Papa lagi kan yang mikir untuk alur kedepannya."


"Kita mainnya halus saja. Kita sabotase apa yang dia punya," ungkap sang Papa kembali.


"Tapi Briyan udah gemas sekali untuk segera menghancurkannya," ucap Si briyan.


"Perlu kamu ingat, Arga dia punya berbagai cara untuk melawan musuh nya. Tapi kita harus cari kelemahan dia. Jangan kau asal serang," ucap sang Papa kembali.


"Sepertinya Ailee tau maksud Papa," ucap si Ailee sambil menyeringai dan melipat tangannya di dadanya sendiri.


"Adik mu saja tau apa yang harus di lakukan. Papa begini sama kamu supaya kamu gak gegabah lagi," ucap sang Papa.


***


Arga pun kemudian ke rumah sakit untuk di balut luka yang terkena tembakan tersebut.


"Ini gak parah kan dok?" ucap Celine dengan risau.


"Untung nya gak begitu parah pelurunya sudah di ambil dan sudah di balut," jelas sang Dokter.


"Tuhkan udah di bilang aku gak kenapa - napa kok. Jangan khawatir begitu."


Semua pun menunggu Arga keluar. Untuk melihat kalau boss nya sendiri baik - baik saja.


"Apa anda tidak menghubungi Andreas bapak Arga?" tanya sang Dokter.


"Kalau tau Bapak Arga ke sini pasti tuan Andreas akan menyambut kedatangan Bapak," ucap sang Dokter.


"tidak udah. Lagi pula keberadaan saya tidak ingin di ketahui." ucap Arga bergegas berdiri dan memegang tangan sang istri untuk berjalan keluar.


"Ternyata kau terkenal juga di kota Efferville ini."


Arga pun hanya tersenyum mendengar ucapan Celine.


"Kau tau Sayang. Aku dulu hidup seperti ini, tapi aku tak berniat untuk menghargai hidup."


"Kamu bilang apa sih aku gak paham," Celine pun mengaruk kepalanya dan hal itu membuat Arga tertawa kembali.


"Kamu gak berubah setiap kamu bingung gak tau apa yang kamu lakukan trus gak ngerti lagi hal yang gak bisa kamu cerna kamu selalu melakukan seperti itu."


"Melakukan Apa!" Celine pun mulai memancungkan mulutnya sambil mengerutkan dahinya.


Namun suami nya malah tertawa dan menjawab," Tuh garuk - garuk kepala sambail manyun begini. Masih sama seperti dulu kan."


Celine pun langsung melemah dan tersenyum. "apaan sih! Tadi pertanyaan ku belom di jawab! Apa coba!" omel Si Celine kembali.


"Aku hidup memang seperti ini Celine selalu banyak musuh di luaran sana. Tapi aku tak pernah memikirkam kehidupan ku. Kalau aku mati ya sudah cuman begitu saja. Cuman sekarang aku ada kamu dan Dirga aku berusaha untuk slalu hidup. Aku baru menyadari apa itu hidup."


"Apaan sih kamu! Bikin aku melayang terus."


"Ya biarin donk suami nya gombalin istri sendiri dari pada gombalin wanita lain, emang mau?" goda Arga kembali.


"Awas aja kamu kayak gitu! Gak bakalan boleh kamu masuk kamar! Tidur luar!" bentak Celine.


"Bercanda."


Arga pun tertawa dan memeluk Celine. Tanpa mereka sadari di balik tembok sana ada sang Papa melihat adegan seperti itu.


"Papa kalau khawatir sama anak kita tadi masuk saja," ucap sang Mama membuyarkan pandangan sang Papa.


"Mama! Bikin kaget aja!" bisik sang Papa.


Sang Mama pun berusaha memandang apa yang di lihat sang Papa.


"Ternyata Papa melihat mereka."


"Ayok Ma kita kumpul ke lainnya nanti ketahuan bisa panjang urusannya," ucap sang Papa.


Sang istri pun hanya berjalan mengikuti suami di belakang nya.


"Sejujurnya aku tak suka melihatnya namun aku sedang berusaha menerima takdir ini dalam kebimbangan ku." ucap sang Mama.


Sang Papa yang mendengar itu hanya terdiam saja. Ia tau apa yang di rasakan sang Istri sama hal nya dengan dirinya yang masih ragu.


Namun dengan kejadian di depan matanya sebenernya membuat nya tersentuh hanya saja masih belom bisa mengakui seutuhnya.


"Kita ke yang lain yuk. Kasian mereka menunggu kita."


Arga pun mengangguk.


"Aku gak nyangka kamu bisa punya musuh seperti ini. Aku sebenernya takut Arga," ucap Celine sambil berjalan menyusuri lorong rumah sakit.


"Aku tau ini pertama bagi kamu, tapi kedepannya bakalan menghadapi banyak musuh Celine." ucap Arga.


"Makanya aku bilang aku takut, tapi mau bagaimana lagi. Suami ku sudah seperti ini."


"Maafkan aku membuat hidup kamu seperti ini Celine. Aku sungguh minta maaf. Aku benar - benar akan berusaha melindungi keluarga kita."


"Aku tau, aku percaya itu," ucap Celine sembari tersenyum dan memandang suami nya itu.


"Aku cuman berharap kamu jangan lelah sama aku," ucap Arga.


"Iya. Aku yakin kita bisa hadapi semua ini."


Mereka pun kemudian berkumpul ke yang lainnya.


"Tuan Arga baik - baik saja?" ucap Jasson.


Karin pun memandangi Jasson dari kejahuan. Sedangkan Celine menatap Karin ia lun ikut menatap apa yang di pandang Karin.


"Dasar Karin," ucap Celine pelan.


Celine pun kemudian berjalan ke arah orang tua Arga.


"Mama sama Papa baik - baik aja kan?" ucap Celine.


"Maaf jika Celine tadi gak memerhatikan kalian." ucap Celine tertunduk.


Namun orang tua Arga hanya melengos tak melihat Celine yang ada di depannya.


Arga pun langsung menghampiri Celine dan akan menegur orang tuanya sendiri. Namun di cegah oleh Celine.


"Mendingan sekarang kita langsung pulang. Kamu gak liat mereka semua pada Capek apalagi Dirga. Sudah tertidur disana," jelas Celine.


"Baiklah," ucap Arga sambil menahan kekesalannya.