
"Kenapa Rin? Kok panik gitu?" Briyan pun bertanya dan mendekati Karin.
"Dia kelihatan panik banget soal Jasson. Sepertinya emang Jasson lagi mencari ku. Aku akan kasih kabat ke dia."
"Aku angkat aja, saat dia telefon."
"Maksud kamu! Apa hak kamu angkat ponsel aku!" bentak Karin.
Briyan pun langsung Membuang makanan yang di beli nya tadi. Ia buang begitu saja di atas meja tersebut.
"Apa yang kamu lakukan Briyan! Kenapa kamu begini?" Karin pun mulai ketakutan dengan sikap Briyan yang berubah kepadanya.
"Kau tau! Seberapa peduli nya Jasson sama kamu! Aku tanya! Gak ada kan! Tapi kenapa kamu, masih mengharapkannya ketimbang sama aku!" bentak Briyan saat itu juga sambil memojokkan Karin sehingga Karin sudah tak bisa bergerak kembali.
Disaat yang sama Jasson pun menelfon Karin dan ponsel Karin pun berdering.
Briyan langsung meraih ponsel Karin saat itu juga. Namun kekuatan Karin tak sebanding dengan kekuatan Briyan. Hingga Briyan pun langsung mengangkat ponsel tersebut.
"Langsung aja dateng bakalan aku kirim lokasinya."
Briyan pun langsung menutup ponsel tersebut dan mengirimkan lokasi yang tepat ke Jasson.
"Briyan?" ungkap Jasson.
Jasson lun langsung menuju ke lokasi dengan kecepatan penuh dengan menggunakan mobilnya.
"Karin! Kenapa bisa sama Briyan! bodoh! Seharusnya aku gak ninggalin gitu aja! Gue lelaki Bodoh! aku aargh!!" Jasson pun melampiaskan amarah nya di jalanan menggunakan mobil yang di pakainya.
Tak lama kemudian Dewa pun menelfon ke ponsel Jasson.
Jasson pun hanya mengamatinya saja.
"Sial!" umpat Jasson saat itu.
Jasson pun langsung melajukan kembali mobil nya sesuai petunjuk Maps.
"Karin, maaffin aku! Maffin aku! Seharusnya aku tak pergi meninggalkan kamu begitu saja! Aku minta maaf Karin. Aku memang lelaki bodoh! Sangat bodoh!" ungkap Jasson sambil mengacak rambutnya sendiri karena Jasson sampai tak bisa berfikir jernih. Pikirannya tertuju kepada Karin.
Hingga Jasson pun sampai menerabas lampu merah. Walaupun dia tau di depannya ada sebuah Truk besar ia tetap trabas truk besar tersebut.
Kaca mobil pecah hingga kaca spion mobil pun terpental. Sebisa mungkin Jasson mengendarai dengan mobil seperti itu.
Dia sudah tak bisa lahi memikirkan nyawanya sendiri sampai dia harus menerabas Truk besar tersebut. Jika dia tak bisa melaju dengan capat lambat sedetik saja sudah pasti Jasson pun terlindas dengan Ban truk yang besar tersebut.
Hal tersebut pun tak Jasson pikirkan yang ia pikirkan ia harus cepat sampai di mana Karin dan Briyan berada di hotel tersebut.
***
"Ya tuhan Jasson! Angkat telefon aku!" bentak Dewa.
Berulang kali Dewa menelfon Jasson hingga akhirnya.
"Hendra! Iya Hendra!" ungkap Dewa.
Dewa pun langsung menelfon Hendra.
"Hendra! Cek Pak Jasson sekarang. Dia aku telfon gak angkat soalnya! nanti klu udah dapet info kabarin aku!" ungkap Dewa langsung menutup telfon tersebut.
Tak lama kemudian Arga pun menelfon Dewa.
"Kita akan balik sekarang. Kabarin Ibuk sama Dirga," ungkap Arga.
"Maksud nya apa? Jadi semua bakalan disini?" ungkap Dewa lagi dalam telefin tersebut.
"Iya. Aku dan Kakak sudah berhasil memastikan semuanya."
"Yaudah kalau gitu aku kabarin yang ada di sini."
"Gimana Jasson?"
"Aku telfon dia gak ada kabar sama sekali sampai aku harus menghubungi Hendra buat nge heck dia berada di mana."
"Terus pantau Jasson aku akan segera kembali. Setelah itu sebisa mungkin kita harus cepat berangkat."
"Baik."
Mereka pun memutus obrolan di telefon tersebut.