Hourglass

Hourglass
Penguntit



Karin pun kemudian balik dari Cafe tersebut Cafe yang di manan Karin bertemu dengan Jasson.


"Bodoh! Semua ini bukan soal makanan atau minuman Gratis! Tapi soal kenapa ninggalin aku gitu aja! kamu emang gak punya perasaan banget Jasson!" ungkap Karin di sepanjang jalan nya ia pun juga sambil menghentakan kaki karena sakin kessal dan sakit hati nya.


"Aku gak menyangka kamu bisa se tega ini dengan ku!" ungkap Karin kembali.


Karin pun kemudian berjalan di tempat Halte bis. Dia menunggu bis jurusan kerumahnya. Tak hanya itu ia pun disana juga dengan lelaki berjaket kulit hitam. Menggunakan topi masker dan kacamata hitam, serta tas punggung berwarna hitam pula.


semua Serba hitam, Namun karin masih tidak menyadari bahwa lelaki tersebut telah menguntit Karin dari Cafe dimana dia bertemu dengan Jasson tadi.


Bus jurusan ke daerah Karin pun telah tiba Karin kemudian masuk ke dalam Bus tersebut bersama dengan lelaki serba hitam itu juga.


"Dasar Jasson! Gue benci! Benci! Ama dia." ungkap nya. Sambil menyenderkan kepalanya di bangku tersebut.


Di beberapa perjalan penumpang sudah pada turun, hanya tersisa Karin dan sang lelaki tersebut.


Karin pun menatap kembali kaca yang ada di samping nya ia duduk.


'kok lelaki ini tiba - tiba saja selalu di belakang ku?' batin Karin.


Kini Karin mulau risau dengan ke beradaan sang lelaki tersebut.


'gila, aku gak boleh balik ke kontrakan, yang ada dia malah tau aku tinggal di mana. Aku harus cari cara.' batin Karin kembali.


Tak lama ia kepikiran untuk menelfon Briyan untuk bertemu di salah satu taman kota.


Karin pun menelfon Briyan.


'Ayo briyan angkat! Lama banget kamu angkat nya! Briyan!!' batin Karin kembali.


Namun Briyan terus saja tak menjawab panggilan Karin.


'gak mungkin aku chat Jasson.'


Tak lama ponsel Karin pun berbunyi dan tertera dengan nama Briyan.


"Briyan! Kamu gak lupa kan kalau kita ketemuan di taman Deket kota aku tunggu yah! Bye!" ucap Karin lalu ia menutup telefon tersebut dan kemudian menekan tombol buss stop.


Bus pun kemudian berhenti dan kari benar berjalan ke taman kota. Ia pun berjalan dengan tenang walaupun dalam hati nya masih berdetak tak karuan.


'*Semoga Briyan paham dengan kode dan ucapan gue.' batin Karin kembali.


'Untung taman kota slalu ramai tak heran jika ramai karena dekat di kota besar, semoga gue bisa aman di sana beberapa jam untuk menunggu Briyan*."


Karin pun sampai tak berani menoleh kebelakang karena dia tau bahwa lelaki itu membuntuti nya kembali.


'Aku harus tenang gak boleh panik, kalau panik bakalan kebaca langkah ku.' batin karin kembali


Hingga akhirnya Karin pun duduk di bangku taman tersebut. Di taman itu memang ada beberapa permainan anak kecil di mainkan, bahkan telah di buat juga alat fitnes.


"Briyan, elo cepetan datang," ungkap Karin sambil berbisik.


Ia pun risau juga dan memandang ponsel tersebut.


Setelah menunggu setengah jam lelaki itu pun masih bersama Karin dari ke jahuan.


Tak lama Karin pun melihat Briyan yang membawa sebuah kantong plastik besar.


"Gila Briyan sampek bawa makanan gitu, udah lah yang penting dia dateng semoga dia mau bantu aku." gumam Karin.


"Karin! Sorry yak lama, aku pesen makanan dulu buat kita makan bareng juga."


"Sampek beli makanan begini kamu, tuh kita makan di hotel aja."


"Ha?" ucap Briyan yang terheran dengan ucapan Karin tadi. Kenapa tiba - tiba saja dia mebgajak nya ke hotel.


"Udah ayok!" geret Karin.


Mereka pun kemudian masuk ke dalam mobil Briyan dan menuju Hotel.


Di dalam perjalanan Karin pun langsung menjelaskan apa yang terjadi hingga dia sampai menelfon Briyan.


"Tapi Sepertinya dia udah gak ngikutin kita Karin." ucap Briyan


"Udah deh yang menting kita sampai hotel dulu, aku gak mau dia tau tempat tinggal kamu karena aku Briyan. Makanya aku ajak kamu ke hotel. Jangan mikir macem - macem ya kamu!" jelas Karin.


"Siapa juga yang mau ama elo Karin! Dasar elo kepedean."


Hingga beberapa jam telah di lewati, karena jalanan begitu macet. Jika normalnya dia hanya menumpuh sekitar setgah Jam.


Karena macet jadi dua atau tiga jam sampai. "Gila emang padat banget Jakarta." tandas Karin sambil turun dari mobil nya dan membawa makanan yang di beli Briyan.


Briyan pun kemudian berjalan masuk ke Loby hotel bersama dengan Karin, dan langsung memilih kamar.


Kebetulan kamar yang tersisa ada King Size otomati Kasur yang bisa muat dengan dua orang.


Mereka pun tanpa pikir panjang langsung mengiyakan tanpa mikir soal budget.


"Udah deh buruan kita ke lantai habis itu kamu makan. Makanan yang aku bawa ini." ungkap Jasson sambil masuk bersamaan dengan Karin dan petugas hotel yang membawakan barang bawaan mereka berdua.


"Silah kan masuk dan semua sudah di persiapkan, kalau begitu saya tinggal hari ini. Semoga kalian seneng." Jelas Sang staff.


***


"Sial!" umpat salah satu dari perundung Karin tadi.


Bersambung.