Hourglass

Hourglass
Semua ini nyata



Tak lama setelah itu,


Dewa pun datang veserta beberapa orang anak buah nya.


"Loh, jadi Dewa yang kesini? Aku kira bakalan kita yang kesana."


"Gak lah, aku juga mikir Celine kalau Arga sama Kamu kesana gimana Ibuk dan Dirga. Aku jhga gak bakalan tega jadi mending aku yang meminta kesini lagian aku kangen Dirga."


"udah deh! Gak usah nyangkut Dirga. Ini di bahas dulu masalah Dirga pikir nanti! Toh Dirga jyga masih tidur," ucap Celine sembari mengernyitkan kedua alisnya beserta tangan ny yang ia lipat di dadanya lalu kemudian duduk ei samping sang suami dengan posisi tangan dan dahi yang masih sama.


"Iya deh, gue udah bawa sepuluh orang di rumah kakak kamu, dan suaminya dia bakalan dateng selama kakak kamu dan anak nya aman."


"Celine, Ibu sama Kakak aku bawa bersama kita gak masalah kan? Aku lupa mendiskusikan ini dengan mu, aku jujur aja banyak pikiran banget sampek aku ga tau apa yang harus aku lakuin dulu." pinta si Arga.


"Karena Clein dan Ricard sudah mantau rumah Arga, Celine. Jadi suami mu ini masih belom bisa berfikir jernih." Sela si Dewa untuk membabtu menjelaskan ke Celine.


"Aku gak masalah kok, dari awal kan aku menghormati orang tua kamu dan menyayangi mereka bagaimana pun mereka juga orang tua aku. Aku gak masalah dengan semua itu." kata Celine.


"Tapi tenang aja di sana satu halaman da beberapa rumah pas untuk kita dan orang tua kita serta kakak." jelas Arga.


"Maksud kamu? Satu halaman ada tiga rumah? Gede dong?" tanya Celine terheran.


Sebenernya kehidupan suaminya ini seperti apa hingga dia harus mengalami peperangan ini dengan sang suami.


banyak hal yang belum di ketahui Celine. Hingga ia sering banyak bertanya dengan ketidak tahuannya dia.


"udah deh Celine soal rumah, Arga jagonya dia punya rumah besar di sana bahkan orang tuanya sendiri saja tidak tau, jadi wajar kalau kamu terheran" kekeh si Dewa.


"Apaan sih! Aku serius!" ketus Celine.


"Lah, aku juga kasih tau nya juga serius." kekeh Dewa lagi.


"Udah deh udah, intinya aku sudah mempersiapkan semuanya. Karena aku tau ini bakalan terjadi." Pungkas Arga.


"Tapi gimana kalau orang tua kamu gak mau kamu ajak?" tanya Celine kembali.


"Aku sudah meminta anak - anak kesana untuk menjaga mereka dan harus kasih kabar, sekecil apapun." tandas Arga kembali sembari menyenderkan badan nya di kursi tersebut.


Dewa pun langsung meletakkan beberapa pistol yang sering di simpan Arga.


"Nih kesayangan, pistol kesayangan masih aman disini. Desert Eagle, and smith wesson," jelas Dewa.


"Arga, ini semua ada isinya?" tanya Celine kembali.


Hari ini Celine memang terlalu banyak bertanya perkara ketidak tahuan kehidupan suaminya yang kelam. Bahkan sampai menyimpan senjata seperti ini Celine pun tak mengetahuinya saat mereka berpacaran dulu.


"Sejak kapan kamu menyimpan ini semua Arga?" ucap Celine sambil meraba beberapa pisyol yang ada di meja itu.


"Ati - ati nanti ketembak. Itu, ada isinya." sela Dewa kembali.


Celine pun melongo dan menarik tangan nya kembali.


"Sejak kapan Arga?" desak Celine kembali.


"Sejak aku pergi ke Amerika." jawab Arga singkat.


"Terus?"


"Intinya Celine, suami mu ini menggila di Amerika selepas kalian pisah. Dia membabat abis sang musuh tanpa ampun. Kau tau kasus apa di Amerika? " Jelas Dewa sambil bertanya ke Celine.


Celine pun hanya menggeleng debgan tataoan yang kosong.


"Dia kena tipu investasi bodong, langsung dia mencari sumber dan ketua pendiri investasi itu habis di tangannya." kekeh Dewa kembali.


Celine pun terbelalak sambil menatap suami nya dan menutup mulutnya sendiri dengan menggunakan tangannya.


Arga pun langsung merangkul Celine dan membelai lembut sang Istri.


"Gini nih kalau di depan Pasutri. Aku yang jomblo ini berasa jadi kacang." kekeh Dewa kembali.


"Makanya buruan cari Cewek deh jan kelamaan sendiri." olok Arga sambil masih memeluk Celine.


"Maaf kan aku ya, intinya aku minta maaf dan aku akan melindungi semuanya sebisaku," tegas Arga sambil melepas pelukan Celine dan menatap kedua bola mata Celine.


Celine pun mengangguk dan Arga menghapus air mata Celine yang terjatuh akibat dia syok mendengar ini semua.


lagi dan Lagi Celine tak mengetahui hal ini sebelumnya.


"Kamu juga harus bersiap melawan mafia investasi itu, perkara ketuanya kamu habisin " tawa Dewa kembali.


"Tapi benar kata Dewa, Celine. Aku kuga harus bersiap untuk menghadapi musuh selanjutnya."


Arga pun memeluk Celine kembali.


"Jadi sekarang kita gimana? Kita harus kemana dulu? Ke orang tua kamu?" kata Celine.


"kalau itu yang kamu dulukan kita kesana." jelas Arga.


"Bukan aku dong! Harusnya kan kamu yang ambil keputusan sayang!" bentak Celine lagi.


"Apa? Yang terakhir aku gak dengar. Kamu pangil aku apa?" ucap Arga sembari tersenyum dan menggoda sang istri.


"Apaan Sih! Bener - bener ya kalian! Ada aku! yang jomblo ini woy! Lagian kamu juga Arga! Gak mikir yang jomblo ini weh!" keluh Dewa.


"Apaan sih ganggu aja!"


"ohh gitu pura - pura gak butuh! Gitu iya! Inget yak gak ada aku bingung kamu!" omel Dewa.


"Lagian aku emang ga denger istri ku bilang apa, ulangi dong tadi kamu yang trakhir bilang apaan? Aku gak dengar."


"Bodok amat!" ketus Celine. Lalu berdiri meninggal kan Arga.


"Ayolah! Ulangi sekali lagi aku pengen dengar! Istri ku!" rengek Arga sembari memegang tangan sang istri.


"Ayolah sekali... Saja! Aku ingin mendengar nya! Celine!" rengek Arga sambil mengayunkan Tangan Celine kembali.


Dewa pun hanya bisa menggeleng dan menampol muka nya sendiri dengan tangannya.


Ia tak menyangka teman nya bisa seperti ini di depan Celine. Tapi di hadapan musuh bisa sangat bringas tanpa ampun.


"Ayolah Celine!" masih dengan merengek dan mengayunkan tangan Celine kembali.


"Iya sayang! Udah! puas!" ucap Celine sambil menghempaskan tangan nya.


"Thankyou Istri ku!" teriak Arga sambil tersenyum.


"Aku mau ke tempat Dirga nanti kalau mau ketempat Papa Mama bilang ke aku." ungkap Celine sambil berjalan membelakangi Arga dan berjalan jauh masuk ke kamar Dirga.


"Bener - bener yak gak mikir diriku ini yang jomblo! Sial! Emang!" omel Dewa.


"Oke siap!" teriak Arga menjawab omongan Celine


"Nyebelin!" sela Dewa.


"Paan sih ganggu tau gak!"


"ohh gitu! gak butuh! Nih critanya! Ya udah aku balik!" ucap Dewa yang akan beranjak dari dusuj nya namun masih di halangi oleh Arga.


"ngambekkan ngeselin ich!"


"Gak yangka seorang Arga terkenal angkuh dan suka bunuh musuh sesukanya bisa bucin ama istri sendiri! Gila emang!" olok dewa sambil tertawa keras.


"Bodok! Udah gimana ini! Rencananya.


Dewa dab Arga langsung menyusun strategi.


Sementara itu Jasson dan karin lagi assyik makan di salah satu restaurant yang ada di Mall.


"untuk kedepannya, jangan mencari ku!" bentak Jasson.


Karin yang tersenyum bahagia bisa bersama dengan Jasson seharian ini mendadak menjadi sakit hati.


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak tuli kan! Jangan mencari ku dan jangan mendekatiku. Untuk hari ini terimakasih kamu sudah menemaniku. Aku akan pergi mukai hari ini." Jelas Jasson.


Jasson pun kemudian bangkit dari duduknya, " ah iya, untuk makanan nya jangan di pikirkan aku sudah membayarnya," ucap jasson setelah itu meninggalkan Karin sendiri di dalam restaurant tersebut.


Karin pun menangis sejadi - jadi nya saat. Air mata nya sudah tak bisa terbendung lagi.


"Bodoh!" ungkap Karin.


Sementara itu Jasson langsung menuju ke diaman Arga sang tuannya.


Bersambung