Hourglass

Hourglass
Malam Pertama



"Daddy sudah selesai telfon?" tanya si Dirga.


"Sudah sayang, lagian kenapa Dirga belom tidur?" ungkap si Dirga sambil membelai lembut anaknya.


"Dirga sengaja tunggu Daddy masuk buat tidur sama Dirga temani Dirga."


"Iya deh iya, kalau gitu Daddy dongeng in," ungkap Arga.


Celine pun hanya tersenyum melihat tingkah sang anak yang mulai manja terhadap Daddynya. Sang Ibu pun tersenyum melihat dari kamar sang Cucu. Kini anak nya dan cucu bisa bersama dan bahagia kembali.


Senyum mereka semua sudah terlukiskan di masing - masing raut muka mereka.


"Terimakasih akhirnya Arga mau mencintai dan kembali bersama Celine dan anak mereka." ungkap sang Ibu sambil melihat mereka bertiga di atasckasur tersebut.


Sang ibu pun kemudian berjalan kembali masuk ke kamarnya.


"Syukurlah kalau mereka sudah bahagia bersama dan kembali bersama. Aku tak pernah mengira anak ku bisa tersenyum lepas seperti itu." Jelas sang Ibu yang sudah duduk di atas kasurnya.


Tak lama sang Ibu pun tertidur juga beserta Dirga yang sudah tertidur di dalam kamarnya.


Celine pun langsung keluar dari kamar Dirga dan berjalan keluar.


Tanpa sengaja sebelum Celine keluar dari kamar Dirga. Arga pun memegang tangan Celine.


"Mo kemana?" tanya si Arga.


"Loh, kamu belom tidur?" jawab Celine sambil berbisik.


"Aku mau ambil minum terus tidur di kamarku," jawab Celine lagi.


"Tapi aku gimana?" ungkap Arga berbisik.


Celine pun langsung melihat ke arah Arga dan menahan tawanya.


"ich! Jangan ketawa gimana ini!" bisik Arga kembali.


Tanpa di sadari lengan Arga pun ketindih dengan badan Dirga yang menandakan bahwa Arga harus tidur bersama Dirga.


"Udah ach aku mau minum!" elak Celine sambil melepas tangan Arga.


"Celine!" teriak Arga sambil memelan kan suara nya.


Lagi - lagi Celine hanya menahan senyumnya dan pergi dari kamar Dirga.


'Ada - ada aja mereka!' gumam Celine. Ia pun langsung minum air outih tersebut.


Tanpa di sadari oleh Celine ada seseorang memeluk di balik tubuh nya ia pun langsung menoleh.


"Arga!" bentak Celine.


"Husshh! Pelan - pelan Ibu dan Dirga udah tidur loh nanti mereka bangun kalau kamu teriak." jawab Arga sambil mendekatkan ucapannya di telinga kiri milik Celine.


"Apa -apan sih kamu! Lepasin ih!" ungkap Celine kembali.


"Udah di bilangin nanti mereka bangun semua kalau kamu berteriak kayak gini." ungkap Arga kembali.


"Tadi kamu telfon kakak kamu," tanya Si Celine.


Arga pun langsung melepas pelukannya dan duduk di kursi makan tersebut. Celine pun ikutan duduk juga di sana.


"Sepertinya Kakak bakalan ikut dengan suaminya."


"Kenapa gitu? Emang selama ini mereka gak tingak kayak kita satu atap begini?" tanya Celine kembali.


Arga pun hanya mengelengkan kepalanya saja.


"Kalau memang Kakak kembali dengan suaminya aku juga bakalan ikut seneng, karena aku liat juga kakak tak bahagia hidup di rumah itu. Lagian kasian Putri," ungkap Arga.


"Putri?" ungkap Celine.


"Iya, gadis kecil berambut panjang itu putri, anak dari kakak ku dan suaminya Leonard." ungkap Arga.


Arga pun tertawa mendengar ucapan Celine seperti itu.


"Kamu kenapa ketawa?"


"Jadi kamu berfikiran kalau putri anak ku dan aku sudah menikah? Pinter banget sih kamu! Nyembunyiin perasaan itu dariku!" ungkap Arga sambil memncubit hidung Celine yang mancung itu.


"ih!! Apaan sih kamu! Sakit tau!" bentak Celine.


"Habis aku gemes liat istri ku sendiri bisa kembali cemburu begini. Kalau aku tau di awal pasti sudah ingin mengerjai mu balik." ungkap Arga sambik tertawa.


"Terus aja! Kamu bikin aku begitu!" ungkap Celine.


"Iya deh iya, maaf. Hanya bercanda, buktinya aku gak ada wanita lain selain kamu kan?" ungkap Arga.


"Ada tuh! Ailee tunangan kamu!" ungkap Celine cemberut dengan memancungkan bibirnya dan pipinya nya yang mulai gembul membulat.


Membuat Arga semakin gemas senditi dengan tingkah laku istrinya sendiri.


"iya deh, aku jelasin" ungkap Arga.


"Putri dekat dengan ku, hingga akhirnya dia menganggapku seperti papa nya sendiri, karena dia itu sebenernya rindu dengan papa kandungnya perkara si mama nya, kakak gue itu masig belom siap ninggalin semua kemewahan yang Papa Mama milikin." Jelas Arga.


"Jadi saking dekat nya dengan ku dia memangil ju Papa karena perkara dia rindu dengan Papa kandungnya sendiri," jelas Arga kembali.


"Oh, jadi gitu?"


"Kau mengira aku menikah dengan wanita lain? Seandainya aku tau itu, aku pasti-"


"Pasti apa! Terserah kamu! Aku gak peduli! Aku maau tidur!" bentak Celine. Ia pun langsung menutup pintu kamarnya dan menguncinya.


"Celine! Kenapa kau kunci!" teriak Arga.


"Jangan teriak- teriak! nanti ibu sama Dirga bangun!" bentak Celine lagi.


"aku tidur dimana kalau kamu kunci begini mana besok aku harus kerja! Celine!" teriak Arga lagi.


"Jangan marah ich ngapain kamu marah gitu! Pentingkan kita udah bersama sekarang!" teriak Arga lagi.


"Terserah! Tidur aja! kamu sama Dirga! Atau tidur di ruang Televisi!" teriak Celine. Kembali.


"Serius nih aku tidur sendiri?" ungkap Arga.


"Celine? kenapa kamu diem! jangan bilang kamu udah tidur! Celine!" teriak Arga lagi.


Karena di pangil - pangil Celine udah gak nyaut jadi kemungkinan besar memang Istrinya sudah tidur.


"Masa iya aku tidur sendiri di depan Televisi?, mending tidur bareng sama anak aku aja kalau gini! Dasar Celine nyebelin! Udah jadi istri masih aja ngebuang aku terus!"


Arga pun kemudian melangkahkan kakinya dan tidur bersama sang anak menggunakan selimut yang sama di pakai oleh Dirga.


'Gak ngira aku, malam pertama malah tidur bareng Dirga. Bener - bener ya Celine! dari dulu Mommy mu tuh gak pernah berubah kau tau itu Dirga!' ungkap nya di dalam hati sambil memandang Dirga yang sudah tidur pulas.


"Ya sudah lah kalau gitu tidur, besok juga udah harus berangkat kerja udah harus ngurus produsen tepung. Kalau pun ada yang sabotase bakalan aku cari tau perusahaan itu dan aku hancurkan! Sekalian walaupun itu perusahaan Papanya Ailee sekalipun!" ungkap Arga yang sudah bersungut - sungut.


"Mendingan aku tidur sekalian aku berikan untuk Celine biar bisa sekalian untuk kejutan." ungkap Arga kembali sebelum ia merebahkan dirinya kedalam kasur.


Arga pun langsung mengecek Telefin tersebut dan duduk di atas kasurnya kembali.


"Dewa? Tumben nelfon. Apa aku telfon aja?" ungkap Arga sambil melihat jam Ponsel nya itu.


"Dahlah bener mendingan aku tidur dibahas besok aja, udah saatnya istirahat. Lagian Dewa juga belom aku kabarin apapun sory ya Dewa," ungkap Arga sambil menaruh ponsel nya di nakas tepat di samping kasur nya.


Malam pun saat itu sangat berarti bagi Arga. Malam yang telah menjadi saksi bahwa mereka kini sudah resmi menikah dan menjadi Pasutri.


Walaupun malam pertama Arga tidur bersama Dirga.


Bersambung