
Celine pun merasa Canggung dengan suasana yang aneh ini.
Semua juga terdiam.
Sesampainya di rumah.
"Ini tempat siapa?" tanya sang Papa.
"Ini tempat tinggal aku dan Celine maaf jika rumahnya kecil."
"Putri, ayok turun." ucap sang mama.
Putri pun kemudian turun sesuai dengan permintaan sang orang tuanya. Sedangkan Jasson langsung membawa Karin masuk ke dalam.
"Ada apa ini kenapa Karin pingsan seperti ini?" tanya sang Ibunda.
"Bawa masuk saja di kamar saya tidak apa."
Sang ibu pun langsung terdiam melihat orang tua Arga dan sang Kakak ipar masuk.
"Loh! Kamu kan-"
"Dirga kenapa?" tanya sang Mommy.
"Ini teman baru Dirga mom, waktu Dirga cerita ada anak baru ya ini Mom."
"Halo. Aku Putri."
"Aku Dirga."
"mari silah kan duduk, maaf rumahnya terlalu kecil jadi kurang menampung banyak orang."
Celine pun lamgsung terburu - buru masuk ke dalam kamarnya.
Arga pun melihat sang istri bertingkah aneh langsung menyusul nya masuk kedalam kamar tersebut.
Celine pun masuk ke dalam kamar nya dengan hati yang gemuruh perasaan yang selalu berdebar dan keringat dingin pun keluar dari tubuhnya.
Ia prustasi dan mengacak rambutnya sendiri.
"Kemana itu! Kemana obat itu!" ungkap Celine sembari berjalan dengan panik dan terburu - buru mencari ke tempat yang satu ke tempat yang lain.
Ia pun berjalan maju mundur bolak balik. Tetap tak menemukan obat yang sering di konsumsi Celine.
"Kemana obat itu!" teriak Celine kembali.
Arga pun langsung meraih tangan Celine ketika sikis dia terganggu kembali. ia pun lantas memeluk nya.
"Hey sayang, tenang lah! Aku disini," ucap Arga.
Walaupun Arga sudah memeluk nya tetapi Celine tetap panik.
"Celine sayang, Istri ku dengerin aku tenang, gak ada yang kamu khawatirin. Kamu gak perlu panik tenang. Tatap aku fokus liat aku!" Arga pun langsung memegangi raut muka Celine.
Celine pun langsung menatap Arga walaupun masih dalam keadaan yang panik.
"Tenang, aja. kamu gak perlu panik. Kamu gak butuh obat itu Celine."
"Kamu kan! Yang hilangin obat itu!" teriak Celine kembali.
"Kamu gak butuh itu Celine! Aku khawatir kalau kamu terus meminumnya! Aku gak mau kehilangan kamu! Cukup lima tahun lalu aku kehilangan dan merelakan mu pergi! Tidak untuk tahun ini dan seterusnya. Aku gak mau kehilangan kamu lagi!" bentak Arga kembali.
Entah suara mereka terdengar dari luar atau tidak yang jelas Arga hanya ingin menyadarkan Celine. Bahwa diri nya tak membutuhkan obat tersebut.
"Aku takut kamu kecanduan dan kamu meminumnya tanpa berfikir aku takut itu terjadi Celine. Aku gak mau! Sekali lagi cukup lima tahun lalu aku kehilangan kamu! Tidak untuk hari ini dan seterusnya! Paham kamu! Aku beginu karena aku sayang sama kamu! Aku butuh kamu! Dirga juga butuh kamu! Buat apa aku nglakuin rencana ini untuk melawan musuh di luarran sana kalau kamu gak ada di samping aku! Mending aku mati! Sekalian di hadapan para musuh itu!"
Arga pun semakin meninggikan suara nya. Ia tak tahu lagi harus bagaimana di satu sisi dia banyak fikiran akan bagaimana dia membawa keluar dari kota yang sudah di kepung musuh tersebut.
Pandangan Celine pun mulai sayu dan melemah melihat Arga yang ada di depannya.
"Maafin aku, aku gak bermaksud untuk membentak kamu. Aku sayang kamu, aku cinta sama kamu. Aku gak ingin kita berpisah lagi. Aku begini berjuang hidup demi keluarga kita. Keluarga kecil kita."
Celine pun langsung memeluk sang suami dan menangis dalam pelukan suaminya sendiri.