Hourglass

Hourglass
mencari penjagaan



Arga pun langsung menjelaskan semua nya ke sang Ibu sesuai dengan apa yang di katakan Celine. Waktu bicara berdua.


"Saya minta maaf sudah membawa kalian ketempat kelam saya," ungkap Arga tertunduk.


"ibu sama Celine percaya, kalau kamu bisa di andalkan. Ibu tau kamu sangat menyayangi anak saya, jadi Ibu percayakan semua pada kamu. Ingat kamu harus tetap hidup demi keluarga Kecil kalian. Ingat Dirga. Dia masih membutuhkan sosok seorang Ayah. Kamu orang tuanya harus bisa jaga anak kamu." sang Ibu pun menasehati ke Arga dan menuruti apa yang akan di lakukan Arga.


"Jadi untuk sementara kita bagaimana? Apa kita masih tetap tinggal di sini?" tanya sang Ibu.


"Kita pindah Ibu, semuanya kita pindah." jawab sang Arga singkat.


"Bagaimana dengan kedua orang tua kamu? Kakak kamu juga?" tanya sang Ibu lagi.


"orang tua saya tenang saja sudah ada beberapa anak buah di sana yang berjaga. Untuk kakak suaminya nanti akan saya pangil untuk ikut dengan saya, karena dia juga jago memainkan senjata pistolnya."


"Kenapa sih, gak di selesai kan secara damai aja!" Celine pun mulai risau dengan ke adaan yang akan di hadapinya.


"Semua tindakan kriminal tidak bisa asal damai terus selesai atau di penjara dan di hukum terus selesai. Semua tidak mudah dengan tindakan seperti itu. Ada hal yang di selesaikan dengan cara seperti ini." jelas Arga.


"Aku cuman ingin hidup tenang Arga, aku gak ingin perperangan seperti ini. Aku takut. Aku takut kalau Dirga kenapa - napa terus kamu-"


"Udah, kan udah aku tegasin tadi kan, aku cuman bisa minta maaf ke kamu Celine. Semua memang salahku."


"Celine, kalau kamu mencintai Arga. Kamu harus kuat hadapi ini lagi pula ini demi Dirga kalau kamu seperti ini yang ada malah Arga gak konsen dengan apa yang akan di perbuat, terus kalau musuh menangkap Dirga bagaiman kalau Arga lengah karena kamu." jelas sang Ibu.


"justru itu Ibu yang aku takutkan."


Bagaimana tidak, kehidupan Celine jauh dari kata peperangan. Walaupun dia anak kurang mampu dan kurang beruntung dia slalu hidup damai dan tenang tidak ada nama nya perang antara ini dan itu.


Sang suami hanya memegang tangan sang istri untuk memberikan kekuatan satu sama lain.


"Untuk saat ini lebih baik kalian disini, aku akan menelfon Dewa untuk kirim beberapa orang di rumah ini." jelas Arga.


"Jadi aku gak ikut? Katanya suruh nemenin?" tanya si celine lagi.


"Yaudah kalau mau ikut, aku telfon Dewa dulu," jawab Arga.


Arga pun langsung berdiri dari duduk nya dan berjalan mendekati pintu masuk rumahnya sambil menelfon Dewa.


"Celine, ibu ingatkan lagi. Arga butuh kamu untuk menyemangati dirinya. Kamu juga harus tau. Kalau kamu mencintai Arga jadi kamu harus siap baik buruknya." jelas sang Ibu.


"Demi Dirga, Celine dia juga melakukan ini demi kita juga kan?" jelas sang ibu lagi.


"percayalah kamu dengan suami mu."


Celine pun mengangguk dan Arga pun masih menelfon Dewa.


"Aku bakalan kirim orang untuk kesana." jawab Dewa di dalam telefon tersebut.


Bersambung.