
"Kau sungguh membuat ku menggunakan pedang ini Jasson."
"Maaf kan saya tuan."
"Udah buruan, angkat tuh Karin. Aku sampek gak paham urusan Kalian kenapa Karin bisa ikuttan begini."
"Kalian bantu Jasson," pinta si Arga ke oada anak buah yang ada di sampingnya.
"Baik tuan." jawab serempak sang anak buah tersebut.
Arga pun berjalan kembali ke mobilnya lagi dengan yang lainnya.
"Gimana? Udsh beres?" tanya sang Kakak ipar.
"Tenang lah Kakak ipar. Adik mu ini pintar sudah."
"Iya tau deh pokoknya."
"Karin gimana Arga?"
"kok pangil Arga lagi sih! Gak kayak beberapa jam lapu manggilnya bukan Arga."
Sang Kakak pun hanya tersenyum beserta dengan suaminya.
Sedangkan Mama dan Papa nya pun berada di sana juga hanya memandangi Arga dan Celine.
Leonard pun langsung melajukan kembali ke rumah.
"Apaan sih kamu," Celine pun berbisik ke suaminya.
"Loh! Sekarabg malah Kamu! Gimana sih!" omel Arga Lagi.
"Arga!" Celine pun akhirnya kelepasan berteriak ke suaminya sendiri. Hingga ia menutup mulut nya sendiri dengan tangannya.
"Iya maaf deh, Karin baik - baik aja kok sekarang dia udah sama Jasson. Mereka ikuti kita dari belakang."
"Kalian emang gak pernah berubah. Dasar!" kekeh sang Kakak.
Namun orang tua Arga lagi dan lagi hanya terdiam mereka seolah tak peduli dengan keadaan itu semua.
"Kapan kita akan berangkat ke lokasi yang sebenernya," Sang Papa pun bertanya saat sedanf saling bercanda satu sama lain.
Namun Arga pun menjawab, "Nanti malam, jadi sebentar lagi kita emang harus pergi. Tanpa di tunda lagi. Aku yang akan pancing mereka sementara kalian ikuti Jasson dan dewa."
"Aku ikut!" sela Celine saat Arga sedang menjelaskan ke orang tuanya.
"Kenapa kamu ikut! Kan semua udah di bahas. Semalam suntuk kita bahas bahkan sama Kakak juga!"
"Aku gak bisa ninggalin suami aku pergi sendiri di sana! Paham kamu. Kamu jangan larang aku. Kamu juga Kak, jangan larang aku!" bentak Celine. Celine pun langsung memberikan ultimatum kepada sang Kakak yang akan menyela untuk berbicara.
"Aku gak bisa tinggalin Suami aku sendiri."
"Hey! Celine. Aku gak mau kamu kenapa - napa. Dirga. Ingat Dirga. Dirga butuh kamu. Kalau nanti aku gak ada-"
"Arga! Justru itu! Aku akan tetap menemani kamu! Kemana pun kamu pergi!" Celine pun kembali berteriak lagi.
Sang Mama terdiam. Namun saat sang Papa melihat jalanan keluar jendela ia pun langsung memandang Celine dan melihatnya tanpa ia sadari sendiri.
"Siapa Dirga." tanya sang Mama.
Arga dan Celine pun langsung tertunduk tak menjawab pertanyaa orang tua nya sendiri dengan lama.
"Kenapa kalian diam? Apa salah jika Mama dan Papa ingin tau?"
"Dirga anak kita Ma," jawab Arga langsung.
"Kenapa kalian sudah punya anak saja? Dimana sekarang anak itu."
"Dirga ada di rumah Tante. Nanti saya akan kenal kan sama Om dan tante."
Pricil, Leonard dan Arga pun terkejut mendengar jawaban Celine.
"Celine jangan pangik tante sama Om kan kamu keluarga kita juga," ucap sang Kakak.
"saya merasa tak pantas, dan saya telah melanggar janji saya, kepada orang tua kakak dan Arga," ucap Celine tertunduk Celine pun langsung duduk kembali ke posisi semula. Sedangkan sang Papa hanya memandangi nya saja.
Namun sang Mama hanya menghembuskan nafas nya saja.
'Kenapa jadi canggung begini sih?' batin Celine perasaan Celine pun semakin tak karuan dengan suasana saat ini.