Hourglass

Hourglass
Hidup dan Mati akan di mulai



"Jadi kamu di sini Briyan Adijaya!" ucap Ailee. Gadis ini emng Ailee Goldie. Mantan tunangan Arga Pamungkas.


"Ngapain kamu tiduran di situ! Bangun kamu!" Ailee pun membentak Briyan kembali.


"Yah ketahuan! Jadi tau aku cuman pura - pura aja."


"Terus maksud nya aku harus bawa kamu ke rumah sakit? Udah urus dulu tuh tusukan kamu. Jangan sampek ya rencana kita gagal perkara urusan pribadi kamu tadi!" Ailee pun masih membantah dan melipat kedua tangan nya.


"Iya tau."


"Lagian kenapa sih kamu masih ngejar mantan kamu itu! Apa untungnya!" bentak si Ailee.


Sedari tadi memang Ailee marah - marah dan membentak Briyan.


"Kamu kenapa sih! Marah begini. Toh juga ini gak ngerugiin kamu kan! Kamu untung bisa liat Arga tadi. Kau bisa liat kan betapa kejam nya dia di depan musuh dia. Sampai dia tega menganyunkan pedang nya ke aku begini! Kamu gak liat! kamu cuman liat muka arga aja kan! Kamu gak mikir aku gimana! Egois!" Briyan pun kembali marah ke Ailee ia melepaskan emosi nya begitu saja dia sudah tak mau mendengar perkataan Ailee kembali yang slalu marah - marah dengan nya.


"Iya deh maaf. Aku gak bermaksud ngebentak."


"Sudah! Yang terpenting sekarang urusan Arga. Dia udah ke perbatasan sesuai dugaanku kalau dia bersama keluarganya kita langsung saja ke perbatasan kota! Suruh anak buah kita kesana! Arga pasti bersama keluarganya."


***


"Ayok kita semua berangkat."


"Seperti yang di bahas kemarin anak buah beberapa ikut ke Arga dan beberapa lagi ikut kita. Tapi inget jarak nya jangan dekat kalau kalian ikut bersama aku dan Jasson aku gak mau mancing keributan di jalanan," ucap Dewa.


Leonard pun kemudian berjalan ke arah Arga lalu berkata, "Seperti rencana awal kan? Aku ikut dengan mu," ucap sang Kakak ipar.


"Tentu saja kita mainkan Bedeb*h si*l*n itu!" kekeh si Arga.


"Kalian ya bener - bener! Kita disini para istri takut malah kalian ketawa," omel sang Kakak.


"Sudah tenang lah. Kita bakalan selamat karena kita akan memperjuangkan hidup kita demi kalian," ucap Leonard.


"Bener itu," Arga pun ikut menimpa pembicaraan juga.


"Kalian ikuti aja permintaan Dewa dan Jasson aku percaya mereka bisa melindungi semuanya," Ucap Arga sambil memegang tangan sang Istri.


"Daddy! Dirga pengen ikut!" rengek sang anak.


Arga pun berjalan ke arah Dirga dan berkata, "Dirga harus jaga Mommy, dan sekarang kita ketambahan keluarga lagi. Mereka juga Omma dan oppa kalian."


"Siapa mereka Daddy! Dirga gak tau sebelum nya soal mereka."


"Itu orang tua Daddy nanti bakalan Daddy jelasin ke Dirga yang jelas mereka adalah Kakek dan Nenek Dirga. Oppa dan Omma nya Dirga. Dirga jaga mereka demi Daddy ya," Arga pun mencium kening sang anak lelaki itu.


"Sekarang, aku yang akan keluar duluan baru nanti setelah aku beri tanda kalian bergerak! Aku bakalan arahhin di tempat perbatasan yang lain."


Dewa dan Jasson pun mengangguk beserta anak buah yang lain.


"Kalian ikut mobil kita," perintah Arga.


Arga dan Leonard pun masuk ke dalam mobil bersamaan dengan anak buahnya yang mengendarai mobil dan anak buah nya duduk di depan sambil membawa sebuah senjata berjenis M16.


Sedangkan Arga membawa pistol S&W500m berwarna putih dan laras. Laras yang panjang itu mengakibatkan ledakan pada objeknya yang dibidiknya dan Arga pun menyimpan senjata tersebut di balik sakunya.


"kita bakalan di kawal mobil dari belakang. mereka telah membawa senjata mereka masing - masing."


"Oke berangkat!" seru si Arga.


"Baik tuan."