Hourglass

Hourglass
Membujuk 1



"Kamu baru sampek!" pricil pun menghampiri suami nya yang sudah masuk bersamanArga dan Celine.


"Iya tadi ada masalah sedikit terus tau Arga sama Istri nya mau ke sini yaudah aku berangkat sama - sama sekalian."


"Tante Cantik! Ketemu lagi!" sapa si Putri buah hati dari Pricil dan Leonard.


"Kalian udah saling kenal?" tanya Pricil kembali.


"Oiya kak kenalin ini Istri ku."


"Hay aku kakak Nya Arga. Kamu Celine kan?"


Celine pun mengangguk dan tersenyu. Ke sang Kakak.


"Mama sama Papa mana Kak?" Arga pun menanyakan orang tuanya. Karena sedari tadi dia celingukkan orang tua nya tak kelihatan.


"Mama dan Papa gak mau keluar, coba deh kamu bujuk. Kamu juga sayang, ikut Arga bujuk Mama dan Papa biar keluar." jelas sang Kakak.


"Yaudah gimana aku ngikut aja," ungkap Leonard.


"Kita coba aja deh yuk kak."


Arga dan Leonard pun masuk ke dalam ruangan. Untuk berteku dan membujuk mereka keluar.


Sementara itu Celine dengan Pricil dan Putri.


"Ma, tante cantik ini pernah loh Putri ajak main. Baik deh Ma."


"Wah bener kaya gitu?, Kamu pernah bertemu dengan anak aku Celine? Dimana?" tanya sang Kakak.


"Iya kak, aku kerja di perusahaan Arga. Tapi, aku tuh awalnya gak tau kalau itu perusahaan milik Arga. Karena kita kan sempat hilang selama lima tahun lebih lah mungkin, nah kemaren itu baru ketemu. Gak tau nya ketemu di kantor."


"Untungnya sudah kak," jelas Celine kembali sambil tersenyum.


"Baguslah, Arga juga tanpa kamu dia jadi seperti monster menurut aku. Langsung berubah banget dia."


"Emang iya kak? Berubah gimana kalau Celine boleh tau?"


"Sifat yang paling jelas sekali dia jadi seperti tempramen, Mudah sekali ke singgung bahkan kqmu pasti udah denger kalau dia pernah ngebunuh ketua pemilik saham."


"Aku semlat dengar itu dari Dewa tadi waktu di rumah."


"Oh Dewa di rumah kamu juga? Jadi ini beneran gak main - main?" tanya sang Pricil kembali.


"Iya makanya aku di ajak kesini juga biar sekalian Mama dan Papa nya tau kalah Arga sudah menikah i aku. Begitu katanya."


"Untuk Arga. Kamu kan sudah dengar berita itu dan kenapa dia membunuh nya kan?" ucap Pricil di barengi sengan Anggukan Celine. Kemudian sang Kakak pun berbicara kembali, "untuk masalah Arga itu udah pasti nanti kita di incer banyak musuh awalnya aku juga udah bilang gak usah ngebunuh juga. Tapi Arga gelap mata dan sekarang dia lagi menerka kalau ini musuh dari Papa nya Ailee sendiri. Jadi memang harus tuntas. Aku sendiri juga takut, Bahkan aku pun tak mengira kalau aku ikut kena juga." Jelas sang Kakak.


"Jadi kakak kenak juga?" tanya Celine kembali untuk memastikan apa yang di dengar nya. Karena gak mungkin juga sampai kakak nya terkena juga imbasnya.


"Iya kena, karena dia ingin menghabisi seluruh Keluarga Besar atau keluarga inti Arga." jelas sang Kakak lagi.


"Terus satu hal Lagi, soal orang tua kita, jangan kamu masukkan di hati. Orang tua ku memang suka begitu."


"Aku paham kok," jawab Celine sembari tersenyum


sementar itu Arga dan Leonard pun berusaha untuk bertemu dengan sang Mama dan Papa. Ternyata di depan pintu kamar mereka sudah di jaga oleh beberapa pengawal.


"Sebegitukah Mama dan Papa gak ingin bertemu kita?" Arga pun berkata seperti itu di luar kamar mereka.