Hourglass

Hourglass
12. Obat Depresi



"Gimana puas kamu bikin Dirga seperti itu !!" Bentak Celine. Celine pun kemudian masuk ke dalam kamar Dirga di rawat


"Moomy"


"Moomm"


"Kau sudah bangun Dirga ?? Moomy khawatir sama Dirga," lirih Celine. Celine pun kemudian berjalan ke arah Dirga yang masi tertidur di ranjang pasien.


Dewa dan Arga pun kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Moomy, jangan marahhin Paman Tinggi, Paman tinggi gak salah moomy, Paman Tinggi kan gak tau kalau Dirga punya Alergi Ice cream Vanila."


Arga mendengar pernyataan tersebut langsung meminta maaf kepada Celine dan Dirga.


"Saya minta maaf Celine. Saya tidak tau kalau Dirga Alergi. Maafkan saya."


"Tidak apa paman, paman tinggi tidak salah. Ini salah Dirga yang tiba - tiba meminta Ice cream."


"Maafkan Dirga ya moom. Dirga gak mendengar perintah Moomy. Dirga tau Dirga nyusahin banyak orang."


"Heyy sayang, bukan seperti itu. Moomy cuman gak ingin Dirga kenapa - napa. Lagian kenapa Dirga slalu membela paman Tinggi !! " seru Celine.


"Aku tau aku salah Celine-"


"Diem kamu !!" Teriak Celine. Celine pun kemudian merasakan sakit pada kepalanya, rasa dag dig dug dalam diri nya semakin tak terkontrol hingga ia memegang kening nya sembari tertunduk.


"Moomy!!! Mommy!!" Teriak Dirga.


Dewa pun tanpa sadar menahan tubuh Celine. Arga melihat hal itu merasa dalam diri nya menilai kalau memang dirinya masih mengharapkan hatinya kembali.


"Moomy, moomy maafin Dirga moomy, moomy," isak si Dirga yang ingin turun dari ranjang pasien namun di tahan Arga.


Celine pun kemudian berjalan memeluk Dirga.


"Moomy gak apa sayang maafin moomy tadi ngebentak Dirga. Bukan maksud Moomy ngebenci Dirga tapi karena Moomy takut. Kalau Dirga kenapa - napa. Moomy takut Dirga." Isak Celine pula sembari menahan rasa sakit pada kepalanya.


"Moomy keluar sebentar mau nebus obat Dirga dan habis ini pulang ya?? Kasian omma nunggu di rumah," jelas Celine sembari mencium ujung kepala sang anak.


Dengan berjalan sempoyongan ia pun kemudian mengambil tas yang ia taruh di sisi Dirga tidur.


Diraihnya tas tersebut dengan kasar dan berjalan keluar dengan cepat.


Arga yang khawatir melihaht Celine seperti itu langsung menyusul Celine keluar.


"Tolong kamu di sini jagain Dirga."


Arga pun kemudian berjalan keluar ruangan dan menyusul Celine.


Ia pun kemudian melihat Celine di lorong sembari mengambil dan mengacak - acak di tasnya yang kemudian obat di dalam tas tersebut pun muncul.


Tak butuh waktu lama Arga pun meraih obat yang di pegang Celine, serta membaca nama obat tersebut.


"Kamu sering minum kayak gini !!" Bentak Arga.


"Bukan urusan Anda!! Anda paham kan ini masalah pribadi saya jadi jangan ikut campur!! Masalah saya."


Arga pun kemudian menarik tangan Celine dan menuju ke mobil Arga.


"Kamu mau ngapain ??" Ucap Celine yang sudah melemah tidak seperti tadi yang selalu teriak dan membentak.


"Hentikan konsumsi obat itu." Lirih Arga.


"Apa urusan kamu!!" Teriak Celine kembali.


Celine pun masih meminum obat Tersebut. Arga yang melihat Celine seperti itu menjadi merasa bersalah. Karena pikirnya kehidupannya bahagia tanpa diri nya.


Ia merasa jika ini salah nya di masa lalu.


Arga pun menatap Celine dengan nanar dan mencoba untuk tidak merespon, namun ia tak bisa membohongi dirinya lagi.


"Apa !! Kamu pasti mandang aku dengan kasihan kan?? Udah lah gak usah sok peduli dengan ku," ucap Celine. Ia pun langsung membuka pintu mobil Arga. Namun, dengam gesit Arga pun langsung membuat pintu nya tak bisa terbuka dan menguncing otomatis.


"Bapak mau ngapain saya !! Keluarkan saya !! " teriak Celine tersebut.


Arga pun kemudian memakaikan Celine seatbelt.


"Lepasin saya!!" Ronta Celine.


Namun Arga pun semakin tak peduli, ia kemudian memundurkan sandaran Celine dengan seperti bertidur di sana.


"Lepaskan saya pak,.. saya.. saya"


Belum sempat menyelesaikan kata - kata nya Celine pun tertidur di kursi penumpang yang ada di depan.


"Akhirnya tidur juga, bawel banget jadi cewek,!! Udah sekarang elo tidur aja dulu." Gumam Arga sembari Arga mencium kening Celine.


"Maafin aku Celine sudah membuat mu susah Seperti ini." Gumam Arga kembali.


Arga pun kemudian membuka kaca mobil dengan sedikit untuk Celine bernafas di dalam mobil dan ia pun keluar dari mobil kemudian mengunci mobil tersebut.


Arga langsung menuju ke Dokter untuk menebus obat Dirga.


"Aku harus tau Dirga itu anak siapa. Kalau pun dia bukan anak aku paling tidak, aku telah mengetahui nya dari pada aku penasaran." Gumam Arga sembari menuju ke ruang Dokter dan langsung di beri obat oleh dokter dan membawa obat tersebu.


Arga pun kemudian menjemput Dirga di ruangannya.


"Kemana aja sih mana si Celine ?? Kok cuman sendiri."


"Dia di mobil gue lagi tidur sekarang kita buruan balik anter mereka berdua."


"Dirga ayok pulang moomy udah menunggu di mobil," ucap Arga sembari mengendong Dirga.


Anak itu pun nurut dengan perlakuan Dirga pada nya. Sedangkan Dewa pun hanya mengikuti nya di belakang.


Ia harus ikut juga mengantar Celine dan Dirga untuk pulang kerumah. Karena bagaimanapun juga Dewalah yang mengajak nya pergi jadi paling tidak dia juga ikut mengantar nya dan mencoba untuk menjelaskan ke orang tua Celine.


•••


Sementara itu Ailee setelah balik dari rumah Arga langsung melaksanakan pemotretan majalah.


"Elo kenapa bukannya balik ke Indonesia seneng malah cemberut elo."


"Gimana gak cemberut. Nih, ya.. aku bela - belain luangin waktu demi Arga eh dia malah ngilang gak jelas. Sebel kan jadi nya!!" Bentak Ailee.


"Kalau kamu gakk mood begini ntar pemotretan gak berjalan baik loh.. kan yang di liat wajah kamu. Kalau kamu BT gini gimana coba??" Ungkap salah satu temannya sembari menasehati.


"Iya deh iyaa aku mencoba untuk Profesional deh."


Ailee pun kemudian melaksanakan Pemotretan hingga tanpa sadar hari telah malam.


•••


Sementara itu,


Arga , dan Dewa pun mengantar Mereka pulang.


Ia memutuskan untuk menggunakan mobil Arga. Karena dari pada ribet bawa dua mobil mending sekalian jadi satu saja.


"Laahh Celine di dalem??" Tanya Si Dewa, karena melihat Celine dari kejahuan yang udah ada di dalam mobil dan kemudian masuk ke mobil bersama.


"Kan udah ku bilang."


Arga pun kemudian masuk dalam mobilnya juga, sambil menurunkan Dirga dari gendongannya.


Dirga pun kemudian duduk di belakang bersama Dewa.


"Semoga aja emak nya gak marah deh takut aku, soalnya aku yang ajak mereka pergi."


"Udah kita bilang aja seadanya gak apa kalau aku yang harus di marahin. Toh orang tua dia patut untuk ngebenci aku," ucap Arga sembari mengeluarkan mobil nya dari dalam parkiran.


"Ya udah deh kita hadepin berdua. Kalau aja tadi gak aku ajak."


"Udah jangan kayak gitu, lagian musibah siapa yang tau slalu kamu itu bilang seperti itu!!" Seru si Arga.


"Moomy capek ya paman Dewa??"


"Iya moomy capek, makanya Dirga jangam bikin moomy capek ya kasihan moomy."


"Dirga slalu nurut apa kata moomy, walaupun Dirga suka di marahhin."


"Moomy nya Dirga orang baik lohh jangan bilang seperti itu ya sama moomy," sahut Arga sembari mengemudikan mobilnya dan sesekali menatap Wajah Celine.


"Moomy slalu marah jika Dirga tanya soal papah Kandung Dirga. Jadi Dirga slalu gak tau siapa papa kandung Dirga."


Sontak semua di dalam mobil pun terdiam.


Dewa yang mengetahui masalalu Celine karena dia habis cerita ingin rasanya dia mengatakan sesuatu juga.


Namun Dewa slalu menahan untuk tidak mengatakannya. Walaupun dalam diri sendiri slalu ingin dan ingin untuk dikatakan slalu ingin mengucap, tapi dia ingat akan perkataam Celine.


Akankah lebih baik jika Celine yang membicarakannya sendiri, atau malah membiar kan waktu yang akan menjawab semua nya seperti kata Celine saat itu.


Arga dan Dewa pun kemudian mengantar kan mereka pulang.


"Dewa, gue sebenernya mau tanya ke elo lebih tepatnya. Kali aja elo tau sesuatu."


Mendengar Arga berbicara seperti itu membuat Dewa semakin di bikin jantungan.


"Aduuhh kalau tanya hal serius gimana apa yang harus aku jawab," batin Dewa panik ketika dia mendengar Arga ingin bicara serius dengannya.


Memang permasalahan soal Celine ia tak pernah main - main selalu di bawa serius, dari dulu hingga sekarang ini.


"Kamu tau gak kalau Celine konsumsi obat Depresi karena apa?" Tanya Arga sembari melihat Dewa melalui kaca mobil nya.


"Elo yakin mau tanya begituan didepan Dirga??"jawab Dewa.


"Habis gue penasaran," singkat Arga.


"Untung aja bisa nyari alesan tapi gak tau deh kalau dia nanya lagi besok nya mau aku jawab apa coba." Batin Dewa.


*suara telfon pun berbunyi.


Mama : Arga !! Kemana kamu malam begini belom juga pulang mama dari tadi nelfonin kamu tapi gak kamu angkat!!


Arga : iyaaa ma gak usah teriak-teriak begitu. Arga lagi nganter Dewa. Dia habis dari rumah sakit.


Dewa yang mendengar pun kaget kalau diri nya dibuat umpan oleh Arga.


Mama : Mama telfon kamu soal nya Ailee tadi dateng ke rumah nyariin kamu!! Tapi malah kamu belom pulang juga!!


Arga : haa?? Ailee?? Bukan nya dia di Amerika Ma ?? Kapan dia ke Indonesia?


Mama : baru saja!! Makanya Mama telfon kamu berulang kali !! Tapi gak kamu angkat !!


Arga : maaf ma. Ya udah ya ma, ni Arga masih di jalan kita bahas di rumah.


"Tunangan elo dateng ??" Tanya si Dewa.


"Iya."


"Elo sebenernya suka gak si ama tunangan elo, harusnya kan seneng tunangan elo udah balik ke Indonesia."


"Kalau gue cinta ya gue seneng lah Dewa. Masalah nya gue,, gak suka ama dia. Hati gue masih milik yang lain."


"Kalau elo gak suka ngapain elo gak nolak."


"Elo tau sendiri kan gimana gue kalau gue nolak orang tua gue bisa menggila."


"Gue harap elo gak salah ambil keputusan Ga," sahut Dewa.


Mereka pun kemudian membuka pintu dan Dewa mengendong Dirga, yang ternyata Dirga sudah tidur dalam pangkuan nya di jalan tadi.


Sedangkan Arga mengendong Celine. Sang ibu kaget melihat anak nya seperti itu.


Mereka pun langsung menyuruh nya masuk dalam kamar masing - masing. Arga pun masuk ke kamar Celine dan membuka pintu tersebut.


Ia langsung menidurkannya di ranjang tersebut.


Arga pun tak sengaja menyengol foto yang ada di nakas samping Celine tidur. Tanpa ragu ia pun langsung meraih foto tersebut membalik nya dan melihat foto itu.


Bingkai foto yang tak mempunyai kaca dan bingkai yang sudah rusak ia pun syok ketika melihat foto tersebut.


Foto yang di ambil sepuluh tahun lalu masih terpajang di sana. Arga pun langsung ngemeluk Celine.


Kini Arga sudah tak peduli dengan dirinya yang akan membuat Celine benci. Kini Arga mulai mengikuti perasaannya yang masih menginginkan Celine kembali.


"Maaffin aku Celine!! Maafin aku!!" ucap Arga memeluk Celine di atas tempat tidur sembari memegang bingkai foto yang ada di tangannya.


Sang ibu melihat Arga seperti itu langsung ingin masuk. Namun, Dewa mencegah nya.


"Ibu, tolong berikan mereka waktu," bisik Dewa ke sang ibu.


Sang ibu pun hanya menurut dan menunggu nya di meja makan seperti biasa yang sering ia gunakan sehari - hari.


Arga pun kemudian keluar dari kamar Celine sembari menghapus Air mata nya setelah satu jam di dalam kamar Celine, untuk menunggu nya sadar namun Celine belum sadar juga akibat obat tersebut.


"Ibu," ucap Arga Sembari berjalan ke arah sang ibu. "apa ibu tau hal yang tak Arga ketahui??"


Sang ibu pun hanya menjawab


"Pulanglah sudah malam nanti kau di marahi dengan orang tua mu kita semua aku dan Celine sebenernya sudah tak ingin berurusan dengan mu. Tapi anak ku membutuhkan pekerjaan yang tak tau kaulah boss dari perusahaan tersebut jadi mau bagaimana lagi."


"Aku juga tak ingin anak ku tersiksa kembali seperti dulu, aku hanya ingin anak ku hidup bahagia, bukan hidup dalam kesedihan terus menerus aku juga tak ingin penyakit depresinya sering kambuh!! Kamu paham kan Arga!! Sekarang lebih baik kamu pulang maaf jika saya mengusir kamu," ucap sang ibu yang sudah berlinangan Air mata.


"Udah mendingan kita balik aja Ga," ucap Dewa


"Besok lagi kita bahas, kalau semua sudah membaik ini belom pas sikon nya."


"Kalau begitu saya ijin pamit maaf kan saya ibu, tapi yang jelas saya masih mencintai Celine, saya sengaja membuat Celine benci terhadap saya karena saya sakit hati dia pergi meninggalkan saya dan menyuruh saya ke Amerika. Tapi walaupun saya seperti itu saya masih tetap mencintai Celine ibu."


"Maafkan saya ibu, maafkan saya,"ucap Arga sembari bersujud di kaki sang ibu.


"Sudah, kamu lebih baik pulang saja Arga, aku tak ingin orang tua kamu semakin marah dengan mu. Kita di sini aku dan Celine ingin hidup tenang sekarang lebih baik pulang, terimakasih sudah mengantar anak ku dan cucuku, lagi pula sudah larut malam sekali kamu juga harus bekerja besok kan," jelas sang ibu.


Lagi- lagi Dewa yang sudah mengetahui hal tersebut, ingin sekali ia membuka suara. Namun, lagi- lagi di harus menahan ucapannya itu.


Ia tak tahan melihat sahabat nya terluka seperti ini. Dia sangat ingin saat itu juga mengatakannya.


Dewa lagi - lagi berada di posisi yang sulit, sungguh Dewa ingin sekali berkata namun ia slalu lebih memilih diam.


Walaupun ini sebenernya sangat menyakitkan bagi nya apalagi bagi sahabatnya.


Mereka berdua pun keluar rumah dan kemudian masuk kedalam mobil.


"Celine masih nyimpen foto lama itu," ucap Arga tiba - tiba.


"Aku masih sayang sama Celine, Dewa."


"Apa yang harus aku lakuin."


"Perjuangin Celine lagi, cuman itu yang bisa gue jawab," ungkap Dewa.


"Perjuangin dia lagi Ga, dia sudah mengalami hal pahit. Sekarang giliran elo perjuangin dia." Ucap Dewa lagi.


"Hal pait?? Maksud elo?? Elu tau sesuatu?? Bilang ke gue Dewa. Bilang ke gue apa yang elo ketahui," ungkap Arga. Arga pun langsung menepikan mobilnya.


"Gue gak tau Ga, cuman gue nge feeling aja kalau dia mungkin selama elo pergi dia berjuang sendiri demi elo. Kalau gue liat kaya gitu. Buktinya dia masih nyimpen foto kalian berdua kan trus kamu bilang dia minum obat depresu, Apa coba kalau masih gak sayang dan masih mengalami hal pahit," Pungkas Dewa.


"Dahlah balik orang tua elo tuh nyariin."


Arga pun kemudian melajukan mobil nya kembali.


"Maafin gue Ga, gue gak bisa bilang terus terang ke elo. Maafin gue. Celine nyuruh buat gue tutup mulut." Batin dewa dalam hati.


Bersambung