Hourglass

Hourglass
Rahasia Besar



"Papa mau kemana?" tanya Ailee saat Ailee sudah berada di pintu utama.


"Papa akan ketempat Melly, Papa ingin melihatnya."


'Mampus! Kalau Papa tau gimana? Mendingan aku cegah dulu,' batin Ailee.


"Em.. Pa!" ucap Ailee sambil berlari ke arah sang Papa ia pun meraih tangan sang Papa.


"Kenapa kamu ini?" tanya sang Papa keheranan.


"Tumbenan Papa mau kesana. Lagian nanti kalau anak buah Arga kesini bagimana? Nanti bahaya buat Papa." ungkap Ailee.


"Kamu ini apa - apaan sih! Di sana ada pengawal yang lain! Mereka gak mungkin membiarkan Papa sendiri di sana! Jangan pernah! Kamu halangin Papa Ailee!" bentak sang Papa.


Briyan pun masuk ke dalam rumah. Melihat kedua orang saling adu pandangan membuat Briyan berkata, "Ada apa dengan kalian?" tanya si Briyan sambil melihat ke arah Ailee dan sang Papa.


"Papa akan bersama Briyan. Briyan akan menemani Papa ke tempat Ailee! Sekarang, kamu gak ada hak! Melarang Papa. Anterin Papa Briyan."


"Bb-baik Pa!" Briyan pun langsung bersiap mengantar sang Papa kembali dan keluar dari rumahnya.


Ailee pun hanya melihat sang Papa dan Briyan pergi meninggalkannya.


"Sial*n!" umpat Ailee.


"Sekarang harus gimana? Gak mungkin aku ikutin yang ada Papa makin marah sama aku. Tapi kan Papa pergi bareng kak Briyan. Sudah pasti aman deh, kak Briyan pasti bisa menjaganya."


Ailee pun kemudian tak memikirkan hal itu lagi. Ia merasa sang Kakak bisa menjaganya.


Sementara itu sang Papa dan Briyan pun sudah masuk ke dalam mobil.


"Apa kita gak bawa pengawal yang lain Pa?" tanya si Briyan kembali.


"Gak usah, toh disana juga ada pengawal yang lain. Jadi gak usah terlalu kelihatan kalau banyak anak buah."


"Tapi Pa, kita harus tetep berjaga kalau saja Arga tau keberadaan Melly. Siapa yang tau kan kalau Arga tiba - tiba muncul?" tanya si Briyan kembali.


"Kamu ini sama seperti adik mu Ailee. Kau tau baru saja kau datang dia juga membahas hal tersebut. Ayok kita berangkat!" ucap sang Papa sambil berbicara kepada sang supir.


Sang sopir pun menuruti apa kata sang tuan nya.


"Kamu jangan murung begitu, lagian disini juga ada kamu yang akan menjaga Papa kan. Sudah pasti kamu juga akan menjaga Papa. Lagian ada hal yang harus Papa sampaikan ke kamu Briyan."


"Apa itu Pa?" tanya Briyan langsung.


Sang Papa pun kemudian mengeluarkan kalung panjang dan ada sebuah liontin. Ia pun memberikannya kepada Briyan. Briyan pun langsung melihat kalung tersebut. kalung beserta liontin ia pun membuka liontin tersebut.


Terdapat foto anak kecil dan seorang wanita dewasa berada di sana.


"Ini Apa Pa?" tanya si Briyan kembali.


"Sepertinya Papa harus menjelaskan nya langsung ke kamu Briyan. Setelah Papa pikir lebih baik kamu mengetahui nya sekarang."


"Apa Pa! Jawab Briyan!" Briyan pun langsung menanyakan pertanyaan ke sang Papa.


"Kau ingin tau Ibu kandung kamu kan?"


Briyan pun mengangguk dengan Cepat.


"Jadi?"


"Bagaimana aku mencari nya Pa?" tanya si Briyan kembali.


Sang Papa pun hanya bisa tersenyum sekilas sebelum dia mengatakan, "Kau sudah bertemu dengan nya Briyan."


"Maksud Papa?" tanya Briyan kembali.


"Kau selalu di Restaurant langganan kamu kan? Dia ibu kamu, coba kamu perhatikan foto itu lebih dekat lagi."


Briyan pun menatap lekat sang Wanita itu.


"Dia ibu Briyan?" ucap Briyan sambil masih menatap lekat foto tersebut.


"Selama ini kau kira aku gak tau apa kalau kau sering datang ke restaurant tersebut?" ungkap sang Papa.


Namun Briyan masih terdiam dan menatap lekat foto wanita yang ada di liontin tersebut.


"Papa minta maaf sudah memisahkan kalian. Sebenar nya Papa yang memisahkan kalian tapi, ternyata ucapan orang itu ada benarnya kalau anak tidak bisa di pisahkan dari ibu kandungnya."


"Maksud Papa apa!" teriak Briyan ke sang Papa sambil dia masih menahan air matanya yang akan keluar.


"Papa selama ini menikah tapi Istri Papa dinyatakan tidak bisa memiliki anak hingga suatu ketika Papa bertemu dengan orang tua Ailee kondisi Papa masih mempuanyai Istri akan tetapi, Ibu dari Ailee meninggal saat melahirkan nya hingga akhirnya Papa mengambil Ailee dan merawat Ailee walaupun istri pertama Papa gak menyetujui nya tetap Papa ambil Ailee. Hingga akhirnya Istri Papa meminta bercerai hingga akhirnya Papa sendiri. Kemudian Ibu kamu datang ke Papa. Kalau dia ingin anak nya biar bisa hidup layak. Mungkin Ibu kamu mengetahui Papa saat main ke rumah makannya. Sunggug ku akui Masakan Ibu kamu memang enak. Hingga Papa sering kesana. Lalu Papa mendengar keluh kesah nya. Hingga Papa melihat kamu saat kamu kecil. Itu membuat Papa tak tega melihat mu serba kekurangan. Akhirnya Papa membawa kamu dengan perjanjian Ibu kamu juga bisa melihatnya dan saat Ibu kamu punya cukup uang untuk menghidupi kamu ia akan mengambil kamu di tangan Papa," jelas sang Papa Panjang lebar.


"Tapi, hingga suatu ketika. Papa memiliki sikap egois. Jadi rumah Papa yang lama Papa berikan kepada bank dan menjauhkan Ibu kamu. Karena Papa sebenernya ingin memiliki anak perempuan."


Briyan pun mendengar nya langsung memangis ia tak kuasa lagi menahan air matanya.


"Lalu kenapa aku bisa menjadi Kakak?" tanya si Briyan sambil sesunggukkan menangis.


"Karena saat kejadian kamu, Ailee belum hadir dan sudah sepantasnya kan, kalau kamu memang Kakaknya Ailee. Walaupun kalian kurang akur," tawa sang Papa.


"Papa minta maaf sudah merahasiakan ini dari kamu dan sudah menjauhkan kamu, dari ibu kandung kamu. Sekarang Papa sudah lega mengatakannya ke kamu dan Papa sudah tak punya tanggungan lagi untuk mengatakan rahasia besar ini."


Briyan pun hanya bisa menangis dan menggengam erat Kalung liontin berbentuk hati tersebut.


"Sudah, jagan menangis lagi. Kamu sudah mengetahui Ibu kandung kamu kan sekarang."


"Jadi selama ini ibu restaurant itu Ibu aku, dan Papa diam tak mengatakannya kepada Briyan?" ucap Briyan.


"Maafin Papa Briyan. Awalnya Papa juga g percaya kenapa bisa bertemu kembali setelah sekian taun hingga akhirnya Papa sadar kalau sebenernya ikatan seorang anak dan ibu memang tak akan bisa di pisahkan. Maafin Papa yang egois ingin memiliki kamu."


Briyan pun semakin menangis dengan kencang mendengar pernyataan sang Papa.


"Papa juga minta maaf sudah mendidik mu dengan tegas membuat mu hidup dalam sebuah kekerasan."


Briyan pun langsung memeluk sang Papa.


"Sekarang Papa sudah tak memiliki rahasia lagi soal kamu Briyan. Hidup lah sesuai yang kamu inginkan. Hanya itu pinta Papa yang terakhir."


Namun Briyan pun masih tak sadar dengan ucapan sang Papa dengan kata - kata terakhir seperti ucapannya saat bilang. Pinta Papa yang terakhir.


Briyan pun masih terhanyut suasana sedih yang ia rasakan, akibat pernyataan Papa yang di simpan selama ini hingga bertahun - tahun dari Briyan.


Hingga akhirnya mereka pun tak sadar sudah sampai di lokasi yang mereka tuju.


"Sudah sekarang turun Papa mau Lihat Melly," ucap sang Papa.


Briyan pun menyusul sang Papa yang sudah turun dari mobil lebih dahulu.