Hourglass

Hourglass
11. Semuanya Berubah



Dewa dan Celine pun akhirnya ke taman kota dengan menggunakan mobil Dewa.


Sedangkan Dirga main permainan yang ada di taman tersebut.


Namun Celine dan Dewa pun duduk berdua sembari mengawasi Dirga.


"Jadi gimana ??" Ucap Dewa yang memulai pembicaraan dahulu.


"Kalau di ceritaain panjang banget, jadi yang intinya. Aku memiliki hubungan dengan Arga kurang lebih selama 1 atau 2 tahun."


"Terus?? Tapi aku sebelumnya mintaa maaf kalau aku membuka luka lama kamu seperti ini Celine."


"Gak apa Dewa, lagian emang aku yang sudah mengijinkan untuk bercerita. Jadi setelah aku berhubungan dengan Arga yang sudah sekitar setahun atau dua tahun itu. Aku memiliki Dirga."


"Dirga ??" Tanya si Dewa yang semakin bingung lagi.


"Iya Dirga adalah anak aku dan Arga."


"Lalu, Arga tak mengetahui jika Dirga anaknya ??"ucap dewa kembali sembari bertanya.


"Anak siapa yang kalian maksud??" Ucap sang lelaki yang tiba - tiba menyahut pembicaraan mereka.


"Aa, aa, Aarga!!" Gugup si Dewa mengetahui jika yang datang adalah Arga.


"Siapa yang kalian maksud!!" Bentak si Arga.


"Dirga kan kita sedang bahas Dirga. Aku baru tau kalau Dirga anak nya Celine."


"Iii, ii, iya Pak Arga, saya hanya memberi tahu Pak Dewa kalau Dirga anak saya," timpa Celine kemudian.


"Terus kalian ngapain di sini??" Tanya Arga kembali.


"Sejak kapan kalian jadi akrab begini ??"ucap Arga kembali.


"Kita akrab karena pas kamu mabuk aku cuman nelfon si Celine. Aku minta bantuan dia, jadilah kita akrab. Iya kan Celine."


"Ii..iya."


"Jadi elo mangil gue buat ngeliat kalian barengan di sini??" Ucap si Arga.


Dirga pun kemudian berlari ke arah Mommy nya.


"Halo paman tinggi." Sapa si Dirga.


"Dirga seneng , main disini??" Ucap sang mommy.


"Dirga seneng momy. Paman tinggi ayok main sama Dirga. " ajak si Dirga sembari menarik tangan si Arga yang ia masukkan ke dalam saku celananya.


dengan rasa malas Arga pun tetap meladeni si anak kecil tersebut.


Mereka pun kemudian main bersama. Sementara Celine dan Dewa pun hanya melihat dari kejahuan ketika mereka sedang bermain.


"Ikatan mereka tak akan putus Celine, sekalipun anak kamu maupun Arga gak kamu kasih tau dia tetep bisa bersama. Kamu liat kan mereka langsung deket begitu."


"Aku tau Dewa. Tapi biarlah waktu yang akan menjawab. Aku mohon sama kamu jangan bilang ke Arga. Aku gak ingin menimbulkan masalah baru. Aku hanya ingin hidup tenang bersama Arga dan ibu ku," pinta Celine ke Dewa.


"Kalau kamu gak mengijinkan ya udah oke aku gak akan bilang dan gak akan ikut campur," jawab si Dewa.


"Aku gak mau kalau orang tua Arga nyalahin aku lagi Dewa."


"Oiya maksud kamu janji itu?? janji apa??" Tanya Dewa kembali.


"Waktu itu Arga ingin pergi kuliah ke luar negeri. Awalnya dia gak mau kan ingin bareng - bareng sama aku tapi orang tua Arga mendesak karena bisnis orang tuanya jadi dia belajar ke Luar Negeri."


"Terus, aku mencoba untuk membujuk nya pergi."


"Tapi Arga tau kalau elo sedang hamil?? Itu posisi elo udah hamil atau gimana??"


"Aku udah hamil Dewa, tiga bulan. Jadi masih belom kelihatan banget. Akhirnya orang tua dia menyuruh ku buat bujuk Arga. Tapi sebenernya juga gak ingin dia Pergi."


"Terus ngapain kamu ijinin?? Kan kamu juga gak mau Arga pergi menjauh."


"Waktu itu aku lagi butuh duit Dewa, akhirnya aku memberanikan diri bahkan mempermalukan diri ku sendiri. Demi duit. Waktu itu aku harus ke Psikiater rutin dan harus nebus obat di tambah aku harus ke rumah sakit demi kandungan gue dewa. Kamu gak tau betapa aku pada saat itu masih di titik terendah."


"Kamu sampai ke psikiater?? Ini kamu crita seriusan ama aku?? Apa kamu juga meminum obat dari dokter Psikiater kamu??" Tanya Dewa tak percaya.


Namun Celine pun hanya mengangguk


"Itu adalah titik terendah dimana yang intinya aku butu duit pada saat itu, ada kalau 100 juta. Demi persalinan aku juga. Pada saat itu isi perjanjiannya ama orang tua dia adalah untuk menjahui Arga sejauh mungkin dan jangan menemui nya kembali, dan aku harus ngebujuk Arga untuk pergi dari Jakarta. Makanya aku sempat menghilang sekian tahun. Terus, aku kembali lagi ketika Dirga udah kelas 1 sekolah dasar. Barulah aku keluar dari persembunyian ku. Serta mencari kerja."


"Tak hanya itu, aku pun berusaha untuk membuat Arga membenci ku Dewa. Biarlah dia ngebenci ku setidaknya aku bisa ngehidupin Dirga. Awalnya aku gak terima kehadiran Dirga. Bersusah payah aku mau ngebunuh Dirga dari dalam kandungan maupun saat dia lahir untuk pertama kalinya. Tapi ibuk aku yang slalu melarang segala cara untuk aku tidak membunuh anak itu. Tapi, dengan sabar ibuk menasehati dan menerima aku serta menjaga Dirga dengan baik. Aku menjadi seperti itu perkara banyak tuntutan dan tekanan dari tetangga dan orang - orang yang kenal ama aku, mereka semua menghina ku juga perkara Dirga lahir tanpa Bapak nya."


"Aku sempet strees dan ketakutan Dewa. Aku sering teriak - teriak tiap malam sering menangis dan bahkan, sampai menyayat diri ku sendiri," ucap Celine sembari membuka sweternya intuk memperlihat kan pergelangan itu.


"Luka ini masih sering gue lakuin Dewa. Tapi aku gak juga mati."


"Hay .. haay!! Celine jangan pernah lakuin itu lagi. Kalau kamu butuh temen cerita. Boleh crita sama aku. Aku gak bakalan cerita ke siapapun" tawar si Dewa sembari memeluk Celine. Celine pun hanya tersenyum dan menghembuskan nafasnya sejenak.


"enak banget dia pelukan gitu di tempat umum lagi!! Sementara aku harus jagain si anak kecil ini!!" gumam Arga. Langkah Arga pun terhenti ketika Dirga menariknya kembali untuk main bersama lagi.


"Tapi Dewa, setiap aku mlakukan ini ibuk aku slalu mergokin pernah udah sampai kehabisan darah sampai ibuk ngebawa aku di rumah sakit dan mencari stok darah. Ibu yang slalu sabar nemenin Dewa, dan duit 100 juta itu buat gue berobat ama bersalin. Yang udah aku singgung tadi dan terpaksa nglakuin itu dewa. Sekarang aku takut kalau suatu saat nanti orang tuanya ngemarahin aku lagi."


Si Arga pun melihat Celine dan Dewa yang duduk dari kejahuan kembali


"Mereka ngomongin apa sih. Serius banget sialan!! Kenapa sih deket banget ama Dewa awas aja dewa !! Liat aja ntar berani kamu ngemilikkin Celine abis !!!" Gumam Si Arga.


"Ayok paman Tinggi main perosotan lagi."


"Kamu juga malu kan kenal ama aku dengan keadaan masa lalu yang kayak gitu." Celine pun tersenyum kecut. Merasakan sakit dalam rongga dadanya.


Dewa pun langsung menarik Celine dan ngemeluk Celine kembali pada saat itu juga.


"Aku gak tau kalau kamu, semenderita ini Celine. Maafin aku, aku gak sempet dateng pada masa itu Celine maafin aku."


"Kamu gak salah Dewa."


Arga pun kemudian melihat Celine berpelukan dengan dewa kembali dan Arga pun tak bisa sabar lagi Arga pun langsung saja menghampiri mereka.


"Heh!! Dewa!! Kamu tau kan ini tempat umum !! Dan kamu Celine. Kamu nyuruh aku untuk jagain anak kamu dan kamu pelukan mesra ama Dewa di tempat umum gitu !!" Bentak Arga kembali.


"Kamu emang gak tau malu yah. Udah punya suami masih aja meluk lakik orang!!"


Plaaak!!!


Suara tamparan itu melesat mengenai muka Arga.


"Jaga bicara bapak. Saya tidak pernah seperti apa yang Bapak !! Pikirkan!!" Bentak Celine sembari menunjuk - nunjuk ke arah Arga.


Arga pun terdiam termangu. Melihat Celine begitu marah padanya. Kemudian,


"Sini Dewa," ucap Arga sembari menarik kerah baju Dewa.


"Sengaja bikin aku kayak gini di depan Celine??" Ucap Arga.


"Sorry bukan gitu, si Dirga itu nyariin kamu dari tadi. Kamu juga gak seharusnya ngomong kayak gitu ke dia ga."


Celine melihat kemarahan Arga yang bersugut - sungut ke Dewa seperti itu, akhirnya berjalan menemui anak nya. Namun ia malah menemui Arga.


"Paman tinggi. Ayo main lagi. Disana ada es krim paman ayok beli aku juga ingin." Mendengar Dirga berkata seperti itu. Akhirnya Arga pun meninggalkan Dewa.


"Moomy ijinin aku beli es ya.."


Belum sempat menjawab Dirga sudah lari duluan meninggalkan Arga yang ada di belakang nya.


Arga pun kemudian melewati Celine begitu saja sembari menatap Celine sekilas.


"Tapi kalau menurut gue seharusnya elo ngomong deh ama Arga. Dia pasti bertanya anak kamu dengan siapa dan Dirga pasti bertanya juga siapa ayah nya,"usul Dewa.


"Sebenermya anak ku udah tanya dewa tapi tidak aku jawab cuman diem aja gak bisa jawab."


"Waahh..-"


"Habis gimana lagi aku gak bisa ngejawab dewa."


"Makanya kamu ngomong yang sebenernya ke Dirga, Celine." Ungkap Dewa.


Arga dan Dirga pun kemudian berjalan kearah Celine dan dewa.


Seketika Celine pun menghapus air mata nya yang sempat jatuh ke pipi nya.


"Ngapain nangis!" Ucap Arga.


"Momy nangis?? Siapa yanga jahatin moomy Dirga!!!" Bentak si Dirga.


"Apa paman !! Dari tadi paman bersama Moomy!!" Bentak Dirga sembari memukul ke Dewa. Namun namanya hantaman anak kecil tak membuat Dewa sakit malah membuat nya tertawa.


"Dirga lucu bangeet ciiihhh" ucap dewa gemas sembari mencubit dirga yang tak menimbulkan rasa sakit.


"Dirga gak boleh gitu. Moomy gak ngajarin kamu seperti ini ya. Mommy gak menangis Dirga. Lain kali Dirga jangan seperti itu,"


"Gak apa Celine aku mah tenang aja kok."


"Sorry soal anak ku ya Dewa."


"Minta maaf ke paman dewa."


"Dirga minta maaf paman."


"Gak apa Dirga."


"Kamu liat kan Celine, kamu tega ??gak ngasih tau anak mu dan Arga juga ??" bisik Dewa kembali.


"Tanpa kamu sadari ikatan mereka itu lebih kuat dari yang kamu bayangin Celine. Sebenernya aku gak mau mojokin. Tapi melihat mereka begini jadi gak tega buat melihat ini semua Celine."jelas si Dewa.


"Aku butuh waktu Dewa."


Dirga dan Arga pun melanjutkan memakan Ice Creamnya setelah memberikan ice cream itu ke sang Moomy dan Dewa.


"Dirga." Lirih Celine dia baru saja ingat kalau anak nya membawa ice cream.


Celine pun kemudian langsung berlari ke arah mereka


"Dirga!!!" Teriak Celine.


"Kau bodoh!!! Ya !! " ucap Celine sembari mengambil Dirga dari tangan Arga.


Dewa pun menyusul di belakangnya sama hal nya ikut panik juga melihat celine panik seperti itu.


"Telfonin rumah sakit.!!" Ucap Celine kembali.


Arga pun kemudian mengambil Dirga dari Celine dan berjalan ke mobilnya bersamaan dengan Celine dan dewa yang mengikutinya di belakang.


Celine dan Dirga pun satu mobil dengan Arga. Arga pun langsung menancapkan gas nya pergi ke rumah sakit secepat mungkin.


Sementara Celine masih mnangis melihat anak nya seperti itu.


Sembari mengatakan


"Dirga, maaffin moomy bertahan lah Dirga .. " ucap Celine sembari menangissi anak nya.


Arga mendengar hal itu ia langsung menambah kan kecepatan laju nya untuk segera di rumah sakit.


Sementara Dewa masih mengikutinya di belakang.


•••


"Hay ailee, tumben kamu datang kemari. " sambut orang tua Arga.


"Iya tante,, Ailee juga baru balik dari amerika hari ini." Jawab ailee.


"Arga kemana tante," tanya Ailee kembali.


"Arga masih di kantor. Dia tadi kembali terus berangkat lagi. " jelas sang ibu.


"Owh jadi begitu.."


"Ini buat tante, " sembari mengulurkan bawaaannya.


"Ini dari mama tante!" Jawab ailee kembali.


"Wahh terimakasih sekali ailee. Sampai kan salam tante ke mama kamu ya.."


"Baik tante. Ya udah aku balik dulu mending besok aja ketemu Arga nya."


"Tante telfon si Arga dulu Ailee. Kamu tunggu sini saja."


Sang ibu pun menelfon sang anak Arga.


Berulang kali ia telfon namun tak ada jawaban dari nya.


"Sudah tante lebih baik saya besok saja ketemu Arga. Lagian ini juga Ailee lagi mau urus kerjaan Tante."


"Waahh kamu super sibuk sekali. Baiklah kalau gitu. Terimakasih yah kamu sudah mau mampir."


Ailee pun kemudian pamit undur diri dan bersalaman dengan ibunya si Arga.


Ia pun kemudian berjalan ke arah mobilnya.


"Sial!!! Tau gini aku gak bakalan ketemu ama orang tua peot!! Begitu !!" Umpat Aile sembari membuka pintu mobil nya dan masuk dalam mobil tersebut.


Ailee pun menancapkan laju mobil nya untuk kembali.


•••


"Celine, ngapain kamu kok belom pulang sudah di bilang gak boleh larut malam. Kenapa belom balik..??" Risau sang ibu.


"maaf ibu aku bikin ibu khawatir nanti dulu ya ibu" ucap Celine yang langsung menutup telfonnya.


Sementara di rumah sakit. Sang Dokter pun keluar.


"Untung saja anak Bapak dan ibu secepat nya bisa di bawa ke rumah sakit. Jika tidak maka ia akan mengalami sesak nafas hingga sampai kematian."


"Apa??" Ucap Celine syok mendengar perkataan sang Dokter.


"Apa Dirga sudah boleh pulang dok??" Tanya si Arga.


"Boleh saja pulang, asalkan nanti obat harus di minum. Nanti saya resepkan supaya bisa di minum obat nya."


"Baik dokter, terimakasih!!" Seru si Dewa.


Kemudian sang Dokter pun pergi meninggalkan semuanya.


"Kamu tau kan !! Kamu hampir !! Aja bikin anaakkk aku mati !! Kamu sengaja !!" Teriak Celine ke Arga saking emosi nya kepada dia.


"Celine udah mendingan sekarang kita tunggu Dirga sadar, habis itu balik. Nanti aku anter aku gak enak sama ibuk kamu. Tadi udah pamit sama beliau."


Celine pun terdiam dan duduk di ruangan Dirga yang sedang di rawat menunggu untuk bangun. Ia juga menelfon sang ibu kalau dia akan beralasan menginap di tempat temannya. Supaya sang ibu tidak terlalu kefikiran kalau Dirga sedang di rawat di rumah sakit yang masih belom sadarkan diri.


Bersambung.