FORGET IT

FORGET IT
Menjemput Pengantinku



Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍


Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.


Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.


Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.


Selamat membaca..


❀❀❀❀


Pagi harinya.


Pukul 03.30 pagi, Aliyah telah bangun dari tidurnya. Merenggangkan otot-otot saraf terlebih dulu biar tak tegang.


Setelah membersihkan diri dan bersiap. Akhirnya pukul 04.30, Aliyah berangkat ke tempat kakak Ira. Salon langganan ketiga sahabat somplak itu biasa memanjakan tubuhnya. Salon kakak Ira juga berprofesi sebagai makeup wisuda, pertunangan, pernikahan, prawedding, resepsi bahkan makeup artist juga.


"Bunda.. Aliyah berangkat dulu ke tempat salon kakak Ira. Nanti Ayah sama Bunda jangan telat datangnya ya" ucap Aliyah mencomot pisang goreng panas buatan Bundanya sambil menenteng sebuah paper bag di tangan kiri yang berisikan setelan kebaya yang sudah di persiapkan jauh hari sebelum hari bersejarahnya tiba.


"Mbak Aliyah, kalau makan jangan terburu-buru gitu, nanti tersedak, sayang. Duduk dulu sambil minum susu coklat kesukaan mbak Aliyah yang sudah Bunda siapkan" ucap Bunda.


"Nanti terlambat, Bunda" balas Aliyah dengan mulut yang terisi pisang goreng.


"Sudah duduk dulu, makanya jangan kebiasaan begadang. Kalau Denis tau, pasti kena omelannya juga, mbak Aliyah" ujar Bunda sembari mendudukkan Aliyah ke kursi meja makan.


Aliyah pun tak bisa menolak lagi dan membantah perintah Bundanya. Daripada kena siraman rohani di pagi hari, menurut saja lah sambil menikmati pisang goreng bertabur keju dan segelas susu coklat. Pikir Aliyah.


Setelah menyelesaikan sarapan dengan cepat. Aliyah langsung berpamitan kepada Ayah dan Bundanya.


"Ayah sama Bunda nanti jangan lupa, lebih awal berangkatnya lebih bagus. Jam 08.30 sudah harus siap di gedung" ucapnya Aliyah berpamitan dengan mencium tangan Ayah dan Bundanya bergantian.


"Iya, sayang. Mbak Aliyah hati-hati, ya di jalan. Nanti Ayah sama Bunda berangkat lebih awal saja, biar enggak kena macet di jalan" ucap Bunda Aliyah.


Kemudian gadis yang mempunyai postur tubuh semampai itu berjalan ke arah garasi untuk mengambil motor matic kesayangannya. Lalu Aliyah menyalakan mesin motor matic nya dan melajukan ke arah salon kakak Ira. Dengan menempuh waktu sekitar sepuluh menit untuk tiba di sana.


"Halo, Assalamualaikum" jawab Aliyah mengangkat telepon.


"Al, kamu sudah sampai mana? Aku sama Labibah sudah stay di salon kakak Ira, langganan kita" kata Riris di sebrang telepon.


"Okay, ini aku lagi on the way ke tempat kakak Ira" jawab Aliyah.


"Sip, aku dulu ya yang di make up sama kakak Ira, sekarang" balas Riris.


"Yup, lanjut aja. Aku nanti yang terakhir" Aliyah segera mematikan sambungan telepon dengan Riris. Dan bergegas melajukan motornya.


Setelah sampai di salon kakak Ira. Aliyah langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah berkumpul Riris dan Labibah.


"Cie cie yang sudah siap di ajak ke KUA sama Langit" goda Aliyah sembari mengambil gambar Riris yang tengah di make up kakak Ira, untuk di kirim ke Langit pagi itu.


"Idiih, dia yang di lamar abang Denis juga. Kenapa jadi aku yang di ajak ke KUA" jawab Riris terkekeh.


"Emang siapa yang sudah siap nikah di antara kalian bertiga" tanya kakak Ira, menggoda ketiga sahabat somplak itu.


"Aliyah itu, mbak Ira. Yang sudah ngebet kawin sama abang Denis" celetuk Labibah sambil mengutak-atik ponsel di tangan.


"Iri bilang bos!" sahut Aliyah terkekeh.


"Siapa yang iri? Tapi ngikutin jejak kamu saja, Al" sahut Riris juga.


"Terus ijazah sarjana kita buat apa? Kalau pada kawin setelah lulus" ucap Labibah polos tak berdosa.


"Kawin.. Kawin.. Nikah dulu neng baru yang enak-enak" sahut kompakan Aliyah dan Riris mengomentari ucapan Labibah.


"Iya, Iya nikah dulu baru kawin. Tapi yang enak-enak itu seperti apa, Aliyah?" tanya Labibah lagi dengan polosnya.


"Ini anak minta di tabok dulu apa, ya! Cari sana di Mbah somad biar tau yang enak-enak ntuu apa!" Aliyah gemes di ucapan Labibah.


"Mau cari resep, apa di Mbah Somad?" Labibah membuka aplikasi Mbah Somad.


"Astaga, Labibah" Aliyah tepuk jidat melihat tingkah sahabatnya yang satu itu.


"Hahahaha, alamat ini si Doni harus extra les privat dulu ke Labibah. Sebelum merasakan manis legit jajanan produk asli Indonesia" jail kakak Ira yang ikutan somplak dengan Aliyah dan Riris.


Sudah satu jam berlalu, akhirnya setelah menyelesaikan make up Aliyah. Dan ketiga cewek itu sudah di sulap dengan tangan trampil kakak Ira yang memoles wajah yang polos menjadi bidadari yang turun dari becak. Ketiganya bersiap berangkat menuju kampus untuk menghadiri acara wisuda mereka.


Doni yang sudah siap menjadi supir mereka pun telah berdiri di antara ketiga cewek cantik-cantik yang berkebaya itu.


"Waaww.. Serasa menjemput pengantinku" celetuk Doni yang memandangi wajah ayu Labibah yang membuat salah tingkah Labibah.


"Sudah nanti aja ngerayunya. Bisa terlambat kita berempat kalau menunggu kalian" ucap Aliyah menyadarkan Doni dari sihir wajah ayu Labibah.


"Hooh, ayuk kita berangkat sebelum macet jalannya" sahut Riris yang sudah siap.


"Kakak Ira yang cantik baik hati dan tidak sombong, terimakasih waktunya yang sudah merubah wajah kita menjadi seorang putri kesiangan" ucap ketiga sahabat somplak itu sambil cengar-cengir.


"Iya sama-sama, kalian juga cantik-cantik. Sukses selalu buat kalian menuju gerbang yang lebih menguji nyali" jawab kakak Ira.


"Uuppsstt, hampir lupa. Terimakasih juga sudah kasih diskon kepada kami kaum yang belum berpenghasilan" kekeh Aliyah dan di ancungi jempol Riris dan Labibah.


"Assalamualaikum, kami berangkat dulu ya, kakak Ira" pamit cewek-cewek centil yang super somplak itu bergegas masuk ke dalam mobil Doni.


Di dalam mobil menuju kampus mereka. Dan dengan kesibukan mereka masing-masing mengutak-atik ponsel.


Aliyah ber-selfie mengarahkan kamera ponselnya ke wajah cantiknya. Lalu mengirimkan ke nomor wa Denis.


Gambar dan caption yang di tulis Aliyah untuk Denis. "Sang Ratu sudah siap untuk di jemput sang Raja" send Denis.


Klunting.. Notif balasan chat untuk Aliyah dari Denis.


"Siapakah ini?" balas Denis penuh keisengan.


"Astaghfirullah, Bee.. Lupakah sama ay na" balas Aliyah emot nangis guling guling.


"Tak salah alamatkah?" balas Denis lagi.


"Emang Ayu ting tong, salah alamat, Bee" balas cepat Aliyah yang sudah ingin menjerit dengan kejahilan sang kekasih.


"Terus ini, siapa?" Denis semakin gencar menjahili Aliyah yang sudah nangis bombay pingin nabok.


"Bee..." teriaknya dalam chat.


"Kasih tau, Bee na. Ntuu siapa gadis cantik bak bidadari yang anggun. Yang telah menghipnotis pandangan, Bee na" jawab Denis lagi.


"Tau ah, sebel. Sudah dandan begini malah di lupain sama Bee" manyun Aliyah.


"Masya Allah ternyata gadis cantik ntuu sang pujaan hati yang telah mengobrak-abrik isi hati Bee dengan kecantikan yang terpancar dari hati dan jiwanya" balas Denis dengan emot lope lope sekebon mawar.


"Malas" jawab singkat Aliyah.


"Jangan gitu, sini Bee tium dulu. Biar semangat nanti acara wisudanya. Eeeemmmuuuaacchh" send Aliyah.


"Terimakasih, sayang. Tiumnya banyak-banyak. Tapi, Bee nanti bisa datangkan?" tanya Aliyah penuh harap-harap cemas kehadiran Denis di acara wisudanya.


"Jangan memikirkan yang macam-macam. Fokus aja ke acaranya, ayang. Bee tak mau, ayang terganggu hanya dengan ketidak hadiran, Bee" pesan Denis.


"Tapi kan, Ay pinginnya Bee hadir" balas Aliyah emot mengsedih.


"InsyaAllah, di Aamiini aja do'a yang baik-baik. Sekarang Ay senyum, dung. Jangan manyun gitu, buat Bee khilaf muluh kalau lihat bibir yang eheem" goda Denis buat hati Aliyah tersenyum.


"Bee... Selalu khilaf. Nanti Ay plakban aja, biar tak khilaf"


"Hahahaha, senjatanya keluar juga akhir sebuah chat" jahil Denis. "Sudah dulu, Ay hati-hati di jalan. Ya. Assalamu'alaikum, Bidadari Bee" Denis mengakhiri chatnya dengan Aliyah.


"Wa'alaikumussalam, Arjuna Ay"


🌺🌺🌺🌺🌺


Akankah Denis hadir di acara wisuda Aliyah? Author na juga masih nungguin chat dari Denis yang belum di jawab pulak dari tadi siang. πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ