
Tidak ada hari,
dimana tidak ada yang terjadi
#Vincent
#Van Gogh
...
Untung aku cepat kabur dari sana. Sial, tubuh mereka pada kekar semua lagi.
hah, kujatuhkan tubuhku diatas kasur. Semoga wajahku yang memerah tadi tidak dilihat oleh mereka.
Malam semakin larut, aku sudah hanyut dalam dunia mimpiku.
kreek
Sayup kudengar pintu terbuka, namun kuabaikan karena kantuk sudah menguasaiku. Aku membalikkan tubuh dan memeluk guling di samping tempatku berbaring. Rasanya begitu nyaman, aroma maskulin membuat tidurku semakin nyenyak saja. Kupeluk erat guling itu dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Yakkkk Kang Jossie"
Pekikku setelah menyadari keadaanku pagi ini. Kepalaku tepat didadanya dan tanganku melingkar erat diperutnya. Aku tidur dengan Jossi, dengan posisi seperti ini? berarti semalam aku lupa mengunci pintu kamar lagi. Kebiasaan burukku itu kenapa tak hilang-hilang sih? untung saja bajuku masih utuh, berarti tidak terjadi apa-apa semalam dengannya.
Kulihat wajah Jossi yang masih tertidur pulas disampingku.
"Hei, bangun. Ini sudah pagi"
ucapku sambil menepuk lengannya. Responnya hanya mengernyitkan dahi.
"Sialan anak ini, sedang tidur saja tetap terlihat tampan" gumamku seraya bangun dari tempat tidur.
"Aku memang terlahir tampan, terima kasih atas pujiannya" ucap Jossi dengan suara serak khas bangun tidur namun masih dengan mata tertutup.
"Heh, sudah bangun rupanya"
kataku kemudian berjalan kekamar mandi.
"Mau kemana? "
Pertanyaan Jossi benar-benar lucu.
"Mandi"
jawabku singkat. Kulihat dia sudah membuka matanya, kami berpandangan dari kejauhan.
"Ikut"
ucapnya lagi, dengan posisi setengah duduk.
"Jangan macam-macam"
ucapku cepat menutup pintu kamar mandi. Tanpa kusadari Jossie tersenyum manis disana karena terhalangi pintu.
•
•
kreekkk
Aku keluar kamar mandi hanya mengunakan handuk diatas lutut dan rambut yang masih meneteskan air dengan lembut dibahuku. Aku berjalan sambil menggosok handuk kecil dikepalaku. Kulihat diatas ranjang masih ada Jossie disana.
"Mau mengodaku ya" ucapnya sambil berjalan kearahku.
"Tidak, siapa yang ehmmm" perkataanku tak bisa dilanjutkan, Jossie sudah membungkam mulutku dengan bibinya. Mataku membelalak karena itu, sontak aku mendorong Jossie reflek hingga tak sengaja lehernya tergores oleh kuku ku. Nampak darah segar keluar perlahan dikulit putihnya.
"Ya ampun Jossie, lehermu berdarah"
ucapku seraya mendekatinya, kutekan luka dilehernya itu.
"Maaf, aku tak sengaja. Bukan maksudku ingin melukaimu" dia hanya diam menatapku.
" Perih ya? " kataku lagi sambil berjinjit meniupi lehernya.
"Kau menggodaku lagi, jadi jangan salahkan aku" ucap Jossie seraya menarik daguku agar mendongak melihatnya.
Cup, dia mengecup bibirku. cup, lagi dia mengecupku lagi, kecupannya sudah turun ke leher dan tulang selangkaku. Ini membuatku gila, tidak Calistha kendalikan dirimu.
"Jo, hentikan" ucapku menahan diri agar tak mendesah karena sentuhan bibirnya. Aku menahan bahunya, kegiatannya berhenti. Kini mata kami saling beradu. Jelas sekali matanya sudah dipenuhi nafsu, tapi aku tidak boleh jatuh juga.
"Kumohon" ucapku memelas. Lama kami bertatapan. Hingga akhirnya dia menciumku lagi, dia ******* bibirku pelan dan anehnya aku membalas ciumannya. Tautan bibir kami hanya sebentar, Jossie yang menghentikannya. Dia menepuk kepalaku dan mengelus pipiku sambil tersenyum.
"Lain kali jangan menggodaku lagi" ucapnya kemudian meninggalkan ku sendiri dikamar.
Sialan kau Calistha, kau mempermalukan dirimu sendiri tadi. Kyaaa, aku mengutukmu wahai setan nafsu sialan.
~~~
Rumah sudah kubersihkan, pakaian kotorpun sudah dicuci termasuk baju tiga curut itu. Kini pekerjaanku hanya menunggu masakanku matang. Tidak lama karena yang ku masak adalah mie instan untuk diriku sendiri. Sedangkan nasi goreng sudah kusiapkan diatas meja untuk tiga porsi yang tidak lain dan tidak bukan untuk Kim Tan, Park Chen dan Kang Jossie.
Tok tok
Aku mengetuk pintu kamar.
"Cepatlah keluar, sarapan sudah siap. makanlah selagi masih hangat" ucapku didepan pintu. Tidak lama pintu terbuka, tiga orang penghuni kamar tamu ini terlihat segar meskipun masih memakai baju yang kuberi tadi malam. Sepertinya mereka sudah mandi karena rambut mereka sedikit basah.
"Kalian sudah mandi rupanya, ayo kita sarapan sekarang sebelum mie ku bengkak"
Ucapku kemudian berjalan duluan. Aku menghindari berkontak mata dengan mereka, karena kalau tidak akan susah mengontrol diri agar tidak terpesona.
Sampai dimeja makan aku langsung menyantap mie kuah milikku, mereka juga langsung makan nasi goreng bagian mereka.
Aku asik menyerumput kuah mie tadi, hingga suara Kim Tan menghentikan kegiatanku.
"Calistha, boleh aku mencoba sedikit mie kuah itu? " Aku memenatap Kim Tan yang duduk bersebrangan meja denganku. Kulihat juga nasi goreng dipiringnya sudah bersih.
"Aku juga mau mencicipinya" ucap Chen .
"iya sepertinya enak, aku juga mau" Timpal Kang Jossie juga.
Aku melihat piring mereka sudah bersih, nasi goreng tadi sudah tak ada sisa. Rakus amat sih, untung mereka tampan. Kulihat keadaan mie kuah didepanku, dan untung aku membuat porsinya lumayan besar tadi.
"Baiklah, ini. Kita gantian memakannya"
ucapku seraya meletakkan mangkuk mie didepan Kim Tan dan dia langsung menyambutnya dengan antusias. Sruuuup, Suara serumputan itu membuat aku, Chen dan Jossie menelan saliva kami masing-masing. Kim Tan memakannya penuh penghayatan.
"Hei Kim Tan gantian, kami juga mau" ucapku padanya.
"eh maaf, ini. Untung kau mengingatkan, hampir saja aku menghabiskannya tadi"
Kim Tan menggeser mangkuk mie kearah Chen dan begitu seterusnya, setelah Chen lanjut lagi ke jossie, baru setelah itu aku.
Aku hampir tak percaya dengan apa yang terjadi, kami makan tanpa ada rasa jijik terhadap masing-masing. Dengan makanan seadanya rasanya begitu nikmat karena kehadiran mereka.
Saat mencuci piring sepintas kuingat perkataan tiga bocah tadi. Mereka ingin tinggal disini bersamaku sementara waktu. Rupanya mereka tinggal bersama dalam sebuah apartemen tidak jauh dari sini. Tidak banyak yang mereka ceritakan padaku. Alasan mereka ingin tinggal karena ingin makan makanan yang aku masak. Mau aku menolakpun mereka tidak akan mendengarnya, ujung-ujungnya aku juga yang mengalah dan mengijinkan mereka tinggal disini mulai besok. Tiga curut itu sudah tidak disini sekarang, katanya sih mau sekolah tapi sebelumnya ke apertemen mereka dulu mengganti baju seragam. Aku mungkin sudah gila karena mengijinkan orang lain untuk tinggal bersamaku disini apalagi mereka lelaki yang baru kukenal semalam. Akupun tak mengerti jalan pikiranku ini, tapi yang jelas alasannya adalah karena aku senang ada yang menemaniku makan jadi aku tidak kesepian lagi. Sudah itu Chen telah memberi kartu debit miliknya tadi untuk kebutuhan kami bersama. Hah, semoga keputusanku ini sudah benar.
Tidak terasa piring yang kucuci sudah selesai semua. Aku kini duduk santai disofa sambil menikmati jus mangga segar lalu menyalakan televisi. Mencari siaran yang menarik, selama ini aku jarang menonton berita tentang artis KPOP karena biasanya aku suka menonton kartun dan drakor romantis. Namun sekarang aku ingin menonton tentang dunia KPOP siapa tahu menarik. Ini
Pruussssssss....
Bersambung.
Please vote ya guys kalau ceritanya bagus, author sangat mengapresiasi siapa yang vote novel ini karena author bukan penulis kontrak jadi penghasilan hanya didapat dari jumlah vote readers sekalian. Author akan vote balik untuk itu. Terima kasih 😊
Visual Vinata