FORGET IT

FORGET IT
Tiga



Dugggg....


Aku menabrak seseorang. Kepala ku tepat didadanya. Aku mengadahkan kepala ingin melihatnya.


Alkohol menguasaiku jadi pandanganku sedikit kabur. Kusipit kan kedua mata agar bisa melihat dengan jelas. Dan wajah tampan seseorang lah yang bisa kulihat. Orang itu nampak familiar bagiku. Pusing itulah yang kurasakan, namun otakku tetap berpikir keras untuk mengingat orang ini.


Usaha memang tidak pernah menghianati hasil. Akhirnya aku ingat orang ini, namun aku tak tahu siapa namanya. Yang jelas aku pernah bertemu dengannya, bahkan pernah bercinta bersama... Tidak-tidak, apa aku begitu kesepian atau aku merindukan kehangatan dari mereka lagi? bisa-bisanya aku berhalusinasi begini. Tidak Calistha, cukup... hentikan ini. Pikiran kotor ini harus ku buang jauh-jauh.


Pusing kembali menguasaiku, kepala ku sandarkan didada orang itu. Aroma mint mengeruak meracuni indra penciuman ku.


"mmm... nyaman sekali. Wanita yang menjadi kekasihmu pasti beruntung, karena memiliki kekasih seperti kamu. Dia pasti akan terus merasakan kenyamanan seperti ini saat memelukmu" racauku, namun itu kenyataannya. Entah karena mabuk atau apa, aku dengan lancangnya memeluk pria itu.


"Kau mabuk...!" pria itu bersuara, dia melepaskan pelukanku. Jujur aku kecewa karena pelukanku dilepas. Namun nuraniku masih mode aktif jadi aku meminta maaf padanya.


"Maaf, karena mengganggumu".


Aku pergi dari pria itu, namun aku dihadang oleh pria lain. Dan dia juga tidak asing dimataku.


Bukankah ini konyol, bagaimana bisa halusinasiku seperti ini. Aku mengerjapkan mata berkali-kali.


Rupanya tujuh pria yang selama ini menghantuiku ada ditempat yang sama, disini? ohh Calistha sepertinya kau begitu merindukan sentuhan mereka. Kau seperti ****** saja sekarang.


Aku tersenyum ironi. Mengapa mereka tidak hilang-hilang juga? Apakah ini nyata? tapi wajar sih, mereka kan orang sini. Tak menutup kemungkinan bisa bertemu mereka lagi. Sungguh kebetulan yang luar biasa.


Aku mencubit lenganku sendiri.


"Aww.... " rupanya sakit, jadi... ini...


Aku memandangi mereka satu persatu. Smirk, muka datar, wajah dingin, senyum evil... semuanya nampak angker.


Glekkkk... Hanya bisa menelan saliva.


"Kita bertemu lagi" ucap diantara mereka. Horor...


Aku nyengir, kuda berusaha menghilangkan kecanggungan yang ada di diriku.


"Sepertinya kalian salah orang. Permisi.. " ucap ku ingin melarikan diri. Dan sepertinya itu berhasil. Aku keluar dari Bar itu dengan selamat.


Aku berjalan sempoyongan, apertemenku dekat dari lokasi bar jadi aku tidak mengunakan transportasi. Lagipula aku sudah hapal jalan didaerah itu.


Sepanjang jalan aku sering berhenti, sejenak menetralkan rasa mabuk agar masih bisa pulang tanpa ada gangguan. Namun saat aku kembali melanjutkan perjalan yang sebenarnya singkat ini menjadi lebih panjang rasanya. Bagaimana tidak, aku menabrak seseorang lagi disini.


"Maaf... " ucapku sambil membungkukkan badan beberapa kali. Daripada mendapat masalah lebih baik minta maafkan.


Kini aku tak membungkuk lagi, ku rapikan rambut yang berantakan menutupi wajahku. Aku syok bukan main setelah mendengar suara orang yang paling kukenal kini ada didepanku.


"Calistha? kau Calistha kan? " ucap pria itu, ya benar dugaan ku. Dia Wahyu, dia yang masih memiliki kedudukan dihati kecilku dan dia juga yang telah membuangku.


Aku diam saja, aku tak mau menatap matanya. Karena disanalah kelemahan ku berada. Aku ingin pergi namun tangan ku dicekal olehnya. Tolong, aku tak mau dia melihat ku seperti ini. Aku yang terlihat hancur dan mabuk-mabukan seperti orang bodoh. Ya aku memang bodoh karena masih menyayanginya, oh aku sangat merindukan pria ini.


"Lepaskan aku... " bentakku padanya.


"Kau mabuk? kau bau alkohol sekarang? apa kau baik-baik saja? " Wahyu tolong, jangan seperti ini. Jangan pura-pura mencemaskan ku.


"Calistha jawab pertanyaanku..! kenapa kau bisa ada disini? dan apa yang terjadi sampai kau terlihat... berantakan? " Dia mencemaskan ku? hah.. lucu sekali. Kamu tahu, aku seperti ini karena kau. Kau yang telah menghancurkan segalanya, kau yang merobek hatiku hingga hancur berkeping-keping. Kau sendiri yang telah membuatku kehilangan yang namanya kehidupan. Ini semua karena kau brengsek... lalu kenapa kau mencemaskan ku sekarang? bukankah ini yang kau inginkan? Lelucon ini sangat tidak lucu.


Aku Ingin teriak seperti itu padanya. Tapi aku terlalu lemah, aku tak bisa menghadapinya.


Aku berjalan menjauhinya sambil memijit kepala ku yang masih pusing.


Wahyu berjalan mendahului ku dan sekarang menghalangi jalanku. Mau apasih dia?


"Menyingkirlah...! Kau menghalangiku" ucapku yang mulai lelah berbicara.


"Tidak sebelum kau berbicara dulu denganku, aku tahu kau itu Calistha, kau itu Cacha ku... !"


Deggg...


Apa aku tak salah dengar? dia barusan memanggilku Cacha kan?


Wawa, apa kau tahu? aku sangat merindukan panggilan ini..! panggilan darimu yang membuatku merasa pernah dicintai. Namun aku sadar ini hanyalah semu. Cintaku padamu hanya bertepuk sebelah tangan. Kau kembali menghancurkan hatiku saat aku ingin menata hati untukmu lagi...


"Sayang...! kau disini rupanya. kamu kok tega sih ninggalin aku sendirian disana, teman-teman nyariin tuh" seruan manja seorang wanita itulah yang membuatku tersadar bahwa tidak ada lagi tempatku dihatimu.


Aku berbalik pergi, bersamaan dengan itu air mataku mengalir bagai air terjun yang dengan senang hati membasahi pipiku. Jalanku masih sempoyongan padahal aku sudah berusaha terlihat baik-baik saja. Kudengar Wahyu memanggil ku lagi.


"Calistha! tunggu...! " dia menghampiri ku lagi. Bahkan sekarang memegang pundakku.


"Jangan sentuh aku! aku bukan dia.. aku bukan Calistha yang dulu.. yang bisa kau permainkan sesuka hati. Pergi dari hadapanku sekarang juga.. ! kubilang pergi..! " Aku meneriakinya. Air mata sialan ini tidak kompromi padaku. Dia seenaknya mengalir membasahi wajahku seolah sedang meledeki ku.


"Kau mabuk berat, ayo ku antar kau pulang"


Wahyu menarik tangan ku, dia meninggalkan Vinata seorang diri dibelakang. Aku tidak sempat melihat ekspresinya tadi.


"Lepas... lepaskan aku. Aku bisa sendiri. pergi urusi dia saja(melihat vinata), lagi pula dia kekasihmu". Ucapan ku tak wahyu hiraukan, dia bersikeras membawaku berjalan. Hingga langkah kami berhenti karena ada yang menarikku mendadak, aku terlepas dari tangan Wahyu dan sekarang dipeluk erat oleh orang lain.


"Apa kau tuli? dia bilang lepas ya lepaskan. Tapi kau malah menarik paksa dia. Apa kau seorang lelaki?" Aku seperti pernah bertemu dengan pemilik suara berat itu. Dan aroma pria yang memelukku ini juga tidak asing bagiku, aroma mint yang menenangkan. Tunggu, apa mereka disini? Aku menengadah melihatnya. Wajah tampan pria didepanku ini bertambah berkali lipat saat tersenyum dan gigi kelincinya membuatku tak kuasa bertatapan lama dengannya. Dia menghapus air mataku.


"Kalian? " Wahyu terlihat heran melihat tujuh pria didekatku ini.


"Calistha, kau masih berhubungan dengan mereka? " lanjutnya lagi.


"Kalau iya kenapa? ada masalah? " aku menjawab pertanyaan Wahyu, namun tak ingin menatapnya langsung. Jika tidak dia bisa tahu kalau aku sedang berbohong.


"Lihat aku Calistha... aku tahu kau berbohong" Dan dugaanku benar dia pasti tahu, tapi aku tak mau mengakuinya.


Aku menatap matanya dan berbicara dengan tenang agar dia percaya.


"Untuk apa aku berbohong? tak ada gunanya. Lagipula kau bisa lihat sendiri, mereka ada disini dan aku juga ada disini. Apa lagi namanya kalau begitu? kau pahamkan sekarang TUAN WAHYU YANG TERHORMAT... "


Ucap ku penuh penekanan.


Apa ini hanya perasaan ku saja? Kenapa Wahyu terlihat kecewa mendengar tuturan ku tadi? sudahlah, itu tak ada urusan dengan ku lagi. Lagipula Vinata sekarang ada disampingnya.


"Ayo, kita pulang sekarang" Ucapku pada tujuh pria yang masih misterius ini. Mereka mengikutiku sampai apertemen, bahkan mereka menerobos masuk sekarang. Aku semakin pusing saja.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys. Biar author lebih semangat melanjutkan novel ini.


Maaf jika ada Typo 🙏