
Aliyah berkali-kali menghubungi nomor Denis hingga tak terhitung jumlahnya. Tapi hanya tulisan memanggil yang tertera di layar ponsel nya. Berkali-kali pula mengirimkan pesan. Namun, tak ada satu pun pesan dari Aliyah yang di balas Denis. Aliyah mengerutu dalam hati, komat kamit tak jelas, mengutuki si Denis.
"Bee, di mana sih? No tak aktif, di telpon tak tersambung juga. Di chat juga tak di balas-balas. Kan sebel kalau gini. Bikin jengkel aja, bee na." gerutu Aliyah sembari melempar ponsel nya di atas kasur.
Hingga detik berganti menit, menit berlalu. Hampir saja ponsel Aliyah terjun bebas dari atas ranjang nya ke lantai. Gara-gara dia di bikin khawatir oleh si Denis. Sudah ada 5 jam Aliyah menunggu kabar dari Denis. Tapi tak kunjung terbalas satu pun pesan chat yang Aliyah kirim ke nomor Denis.
Setelah mengecek kembali ponsel nya. Namun, lagi-lagi Aliyah harus mengigit bibir bawah nya dengan kesal. Karena, hingga saat ini, Denis belum membalasnya. Tapi, tiba-tiba wajah Aliyah berubah menjadi sumingrah karena ada satu pesan chat yang mengobati hati nya yang lagi gundah gulana. Dua sahabat nya Riris dan Labibah akan berkunjung ke rumah nya.
"Walau pun belum ada kabar dari bee. Kedua sahabat ku lah yang akan menghibur hari-hari ku yang hampa tanpa kehadiran bee di sini."
Sambil menunggu kedatangan dua sahabat nya yang gesrek itu. Aliyah duduk di sofa ruang keluarga sambil memangku laptop nya. Menonton kembali kelanjutan drakor favorit nya. Sambil berhalu sedikit menjadi pemeran utama cewek dalam drama tersebut. Aliyah terlihat tersenyum-senyum sendiri karena membayangkan aktor cowok yang bermain di drakor itu adalah sang pemilik hati.
Di saat lagi serius menonton drakor tiba-tiba.
Drettt.. Drett.. (tanda satu pesan chat masuk di nomor WA Aliyah).
📩 "Assalamu'alaikum, mbak Aliyah. Nanti siang, mbak Aliyah enggak repot? Tolong dong datang ke Cafe, adik mau ada acara di sekolah sebentar." Zudith bertanya dalam pesan chat nya.
📩 " Wa'alaikumussalam. Tak ada sih. Cuma habis ini, mbak Aliyah ada tamu si duo gesrek." balas Aliyah sambil terus menonton drakor di laptop nya.
📩 "Bisa enggak, mbak Aliyah nya?." tanya Zudith kembali.
📩 "InsyaAllah, bisa adik. Nanti mbak Aliyah sekalian ajak mereka berdua ke Cafe Lindu buat nemenin mbak Aliyah."
📩 "Bener ya, mbak Aliyah datang ke Cafe. Karena ini hari sabtu biasanya cafe ramai."
📩 "Oke, siap komandan." Aliyah mengakhiri pesan nya pada Zudith.
***
Jam menunjukan pukul 10.00 wib pagi. Riris baru saja selesai dengan pekerjaan rumah nya. Dia pun ingin segera pergi menjemput Labibah untuk datang ke rumah Aliyah. Karena sudah hampir dua minggu mereka tak berjumpa. Penyebab nya adalah sahabat nya yang lagi kasmaran sedang temu kangen dengan kekasih tercinta nya dan tak mau di ganggu. Waktu nya hanya spesial buat sang pemilik hati yang sudah rela jauh-jauh datang dari pulau sebrang hanya untuk menemui sang bidadari penyejuk hati nya. Dan baru saja Riris mendapatkan kabar, jika Aliyah sudah kembali dari liburan nya bersama Denis.
Dengan langkah tergesa-gesa. Riris langsung menghidupkan mesin motor nya, setelah ia membersihkan badan nya dan bersiap.
Riris melajukan motor nya ke rumah Labibah terlebih dulu. Mereka bertiga telah sepakat akan bertemu hari ini. Sedangkan Doni tidak bisa ikutan dalam acara tersebut. Karena Doni masih ada kesibukan di luar kota.
Setelah menjemput Labibah. Motor pun di arah kan menuju rumah Aliyah.
"Ahh.. Sial pakai acara ban bocor lagi. Padahal aku sudah tidak sabar ingin seger bertemu dengan Aliyah. Kenapa malah jadi ke tukang tambal ban dulu." cerocos Riris enggak berhenti.
"Itu tanda nya kamu harus diet, Ris." ucap Labibah seenak jidat nya.
"Diet apaan, badan sudah tinggi tulang dan kentut doang. Kau suruh aku diet pula." omel Riris.
"Tinggal tulang dan kentut kau kata. Hahaha.. Di lihat dari pucuk sedotan lah, Ris. Kalau dirimu di bilang kurus begitu. Ngaca sana, badan segede gajah, kau bilang tinggal tulang dan kentut." kekeh Labibah mengejek Riris.
"Kamu itu yang segede badak bercula satu. Wkwkwk." tawa Riris bahagia bisa membalas Labibah.
"Mbak, sesama tank tempur tidak boleh saling mengebom." tiba-tiba mas-mas yang lagi menambal ban motor milik Riris, angkat bicara.
"Buahahahaha.." meledak juga tawa kedua nya. "Mas nya kalau ngomong suka benar lho." ucap mereka kompakan dan bertos ria.
Setelah menunggu hampir 20 menit. Akhirnya Riris dan Labibah melanjutkan perjalanan nya menuju rumah Aliyah. Perjalanan yang harus nya bisa di tempuh dengan waktu 15 menit. Kini harus molor hingga hampir satu jam baru sampai di rumah Aliyah sahabat nya itu.
***
Seketika lamunan Aliyah tentang Denis, ambyar kabur berterbangan gara-gara kedua sahabat nya itu.
"Astaga, Labibah. Bisa kan tak kagetin." Aliyah terperanjat kaget saat tubuh nya tiba-tiba di peluk dari belakang oleh Labibah yang muncul tiba-tiba.
"Hahaha.. Maaf deh." jawab Labibah melepas pelukan nya sembari mendudukan pantat nya di kursi depan Aliyah.
"Untung aja, aku tak punya sejarah penyakit jantung akut." ucap Aliyah mengelus dada nya.
"Sejarah? Emang nya kamu mau?." tanya absurd Riris.
"Mau, pala mu peyang." sungut Aliyah.
"Wkwkwk.. Iya lah mumpung ada bee di sini. Ya, aku tuntaskan dulu lah lindu ini yang sudah mengendap di dada." sahut Aliyah.
"Emang sudah tuntas, sekarang?." tanya Labibah penasaran.
"Ya, belum lah. Kan lindu nya sama bee ntuu tiap detik, tiap menit, tiap waktu, tiap hari, tiap minggu, tiap malam, siang, sore, pagi." ujar Aliyah terkekeh.
"Lanjut terus yang sedang kasmaran. Hitung aja itu detik, menit, waktu, hafalkan juga nama-nama hari dan jangan sampai lupa nama bulan. Hahaha.. Tapi jangan lupa pesan satu terang bulan spesial pakai keju di campur kacang dan misis coklat." ledek Riris lagi.
"Emang kau kata, Aliyah pedagang terang bulan (malam manis) kayak si mas yang mangkal di ujung jalan ntuu." protes Aliyah.
"Habis nya, kalau sudah sama abang Denis aja. Lupa lah segala-galanya, apalagi diriku ini yang hanya sekedar remahan biskuit kaleng di mata kamu." cibir Labibah.
"Remahan biskuit kaleng masih enak kali. Nah kamu ntuu intip nasi gosong." olok Aliyah pada Riris.
"Aduh, bonyok nih wajah eksotik aku." ucap Riris yang tak sempat menghindar dari lempar bantal Aliyah.
"Baru juga berpisah, sudah rindu aja." ledek Labibah.
"Apa masih kurang liburan nya? Satu minggu lho. Waktu yang panjang bisa berduaan terus dengan bang Denis." tambah Riris.
"Kurang lah, kalau bisa ntuu tiap hari ketemuan nya. Bisa manja-manja tiap hari kan asik." balas Aliyah.
Mereka bertiga bersenda gurau, bercanda tertawa bahagia hingga hampir satu jam. Dan setelah itu mereka berangkat bersama-sama ke Cafe Lindu.
***
Di tempat Denis.
Sesampainya di mess yang di sediakan dari perusahaan. Denis langsung mencash ponsel nya untuk mengisi daya baterai yang habis melompong.
Drett.. Drett..
Suara getaran berasal dari ponsel Denis yang baru di aktifkan kembali setelah terisi penuh baterai nya.
📩 "Assalamu'alaikum, cinta na ay. Bee lagi sibuk kah? Sampai tak jawab panggilan ay. Pesan WA pun tak kunjung di balas sama bee. Jaga kesehatan bee. Jangan telat makan nya. Jangan banyak begadang. I love you my lovely. Eemuuaacchhh."
Denis tersenyum membaca pesan dari kekasih hati nya. Sambil membaringkan badan nya di atas kasur yang lumayan empuk untuk beristirahat. Segera ia membalas pesan dari Aliyah.
📩"Wa'alaikumussalam, bidadari. Maaf kan bee na, sayang. Bee hari ini nugas di lapangan jadi harus keliling dulu. Baterai nya pun low bet, jadi bee baru bisa balas. Terimakasih sayang, sudah selalu ingat kan bee na. Love you too my lope. I miss you so much my angel. Eemuuaacchhh."
Setelah membalas pesan dari Aliyah. Denis pun menaruh ponsel di samping bantal nya.
Baru beberapa menit memejamkan mata tuk mengistirahatkan badan nya. Denis pun telah terbang ke nirwana tuk menjemput Aliyah bermimpi bersama.
❣️❣️❣️
Bersambung...
...DUKUNG TERUS KARYA INI SUPAYA BISA LANJUT UP DENGAN CARA...
...LIKE...
...KOMEN...
...FAVORIT...
...RATE BINTANG LIMA...
...GIFT/VOTE...
...TERIMAKASIH READERS KESAYANGAN...
...❣️❣️❣️❣️...