
Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca...
❤❤❤
"Aliyah, beneran ini meja yang di pesan Langit buat kita berempat?" tanya Riris masih tidak percaya. Memicingkan mata nya keheranan dengan apa yang tersaji di atas meja.
"Busyet.. Porsi nya dikit banget nih, Al! Mana bisa kenyang perut ku" ucap Labibah berdecak sambil terus menatap makanan yang berada di atas meja di hadapan nya, sembari mengendus bau harum makanan itu.
"Dasar magic com! Perut aja yang di pikirin" ketus Aliyah sembari melirik kiri kanan.
"Terus kalau tidak perut yang di pikirin. Kita ini ngapain di sini?" pertanyaan Labibah sok bego.
"Main dakon!" sahut cepat Riris.
"Mana ada main dakon. Mentok! Kita lagi main monopoli nih" balas Labibah seraya menaik turun kan alis nya. Lalu, berkata lagi. "Orang kita di situ itu mau makan, mentok"
"Tau mau makan, kenapa masih nanya!" dumel Riris.
"Ehh.. Kalian dua, bisa tak sih diam sejenak! Pusing nih dengar kalian nyap nyap muluh dari tadi. Berisik!" ucap Aliyah sedikit menekan ucapan nya.
"Kenapa harus pusing, Aliyah manis. Kita itu mau makan biar kenyang. Bukan nya pusing" sela Labibah sembari mencomot kentang di piring.
"Aku telpon lagi tak diangkat. Aku chat di WA nya tak ada balasan sama sekali" ucap Aliyah yang sibuk mengotak atik ponsel di tangan.
"Ada apa, Aliyah? Dari tadi kamu bingungin Langit" celetuk Labibah tak bersalah.
"Kami bego apa pura-pura oon, Kebo!" sungut Riris berapi-api.
"Bentar, kalian diam dulu! Stop bicara! Stop debat! Stop apa pun! Langgar denda traktir Aliyah ngopi di Cafe Cinta" ucap Aliyah menahan tawa nya.
"Apaan, Aliyah!" balas Labibah melongo.
"Hafal beneran kamu, Al! Kayak mau acara tebaran di group chat" sahut Riris meringis.
Aliyah langsung ketawa sambil di tutupin mulut nya takut keblabasan.
"Hahahaha.. Inget aja kamu, Ris. Aku ntuu masih bingung. Beneran kah, ini meja yang sudah di pesan Langit untuk kita makan siang bareng, di sini" ucap Aliyah sambil mengetuk ngetuk kening nya sendiri.
"Apa kamu masih tidak percaya, Al? Kalau meja ini yang pesan Langit" seloroh Riris.
"Bukan tak percaya. Tapi... Aku berpikir lagi. Dari mana Langit bisa bayar semua makanan di Restauran semahal ini. Bukan nya meremehkan dia" ujar Aliyah.
"Maksud kamu, tidak mungkin Langit yang hanya seorang Barista Cafe Cinta bisa membayar ini semua" tanya Riris sedetail mungkin.
"Iya, Ris. Gaji dia berapa sebulan. Kan kasihan, dia capek-capek kerja sebulan demi mendapatkan gaji itu. Lalu, dengan mudah dia menghamburkan uang nya dalam sekejap hanya untuk mentraktir makan siang untuk kita" ucap Aliyah yang masih berusaha menghubungi Langit.
"Ya ampun, Kebo. Bisa diam tidak! Aliyah ini masih hubungi Langit belum nyambung, tahu!" sungut Riris sembari menajam kan pandangan nya ke Labibah.
Di saat perdebatan ketiga cewek comel itu masih berlangsung. Tiba-tiba ponsel yang di tangan Aliyah bergetar.
Drtt.. Drttt..
Aliyah segera menjawab si penelpon yang menghubungi no ponsel nya.
"Assalamu'alaikum, Langit" sapa Aliyah.
"Wa'alaikumussalam, Aliyah" balas Langit lembut.
"Kamu di mana, Langit? Kita di sini sudah menunggu kamu" ucap Aliyah.
"Aku lagi di jalan, sebentar lagi sampai situ" bohong Langit. "Kalian makan dulu, jangan nungguin aku. Nanti ke buru dingin makanan nya"
"Berapa menit lagi sampai nya, Langit?" Aliyah sudah cemberut.
"Kira-kira sepuluh menit lagi, aku sudah sampai sana, Al" balas Aliyah.
"Kelamaan, lima menit. Tak pakai lama. Awas aja kalau kamu terlambat" jawab Aliyah. Lalu menutup sambungan telpon nya dengan Langit.
Mereka bertiga memutuskan untuk makan duluan tanpa menunggu kedatangan Langit.
Dalam diam tanpa ada suara yang berisik. Mereka menikmati makanan yang sudah ada di atas meja. Tidak ada pembicaraan di antara mereka bertiga.
Selang beberapa menit setelah selesai makan. Hingga hampir sepuluh menit menunggu. Namun, Langit belum juga menampakkan batang hidung nya.
"Aliyah.. Kita di sini tidak mengganggu acara kencan kamu dengan Langit, kan?" ucap Riris tiba-tiba membuat Aliyah memutar mata nya tak percaya.
"Kencan? Dengan Langit, kau kata, Ris! Masih waras kan, kamu?" sewot Aliyah ke arah Riris yang duduk di hadapan nya.
"Hmm" singkat Riris.
"Ya, ampun mentok, kalau kenyang jangan ngelantur ngomong nya. Kencan ntuu buat orang yang memiliki hubungan status yang spesial" tegas Aliyah. "Saling berkomitmen! Sedang kan aku dengan Langit hanya teman biasa, Riris super bawel"
"Tapi.. Kelihatan nya si Langit ada hati sama kamu, Aliyah. Cuma kamu menolak nya. Tidak pernah mengakui kehadiran nya" lanjut Riris.
"Sudah lah, tak perlu di bahas! Kamu kan tahu sendiri. Aku sudah punya Bee Denis" ujar Aliyah menekan pada kalimat Bee Denis untuk memperjelas bahwa dia mempunyai hubungan spesial.
Labibah yang dengan cuek nya tidak mengubris perdebatan kedua sahabat nya itu. Dia lebih asik dengan pudding rambo yang lebih menggoda n4fsu makan nya.
Langit yang sejak tadi memperhatikan Aliyah dari jauh dengan tatapan penuh harap. Selamat bertahun-tahun ia menyimpan rapi perasaan nya. Ia pendam di dalam dasar hati nya. Tidak ingin memunculkan nya ke permukaan.
Aliyah seorang wanita yang humbel memiliki keistimewaan yang sulit untuk di gapai nya. Langit, sebenarnya adalah seorang owner Cafe Cinta dan Restauran De Bintang King. Pekerjaan nya sebagai barista di cafe nya sendiri itu hanya sekedar ingin menyalurkan salah satu keahlian nya meracik kopi yang nikmat. Langit sangat mengagumi kepribadian Aliyah yang senangi banyak orang, pandai bergaul, mandiri, tidak pernah memilih teman dari status sosial nya.
❤❤❤❤
Bersambung...