
Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca..
❤❤❤❤
Hingga akhir nya. Teriakan Aliyah menggema memecah kesunyian kamar tidur mewah itu di pagi hari.
"Aaaahh" teriak Aliyah sembari memegang pantatnya yang sakit karena terjatuh di lantai akibat menghindari Awan yang ingin menciumnya.
"Mau kamu itu apa, Awan! Aku sudah menjelaskan berkali-kali pada kamu. Cintaku sudah mati buat kamu semenjak kamu berselingkuh dengan Mia!" ucap Aliyah ketus sambil menahan air mata yang ingin menerobos keluar.
"Stop! Aku tidak perduli dengan cinta. Persetan semuanya!" Awan melompat dari atas ranjang king size nya dan dengan cepat mencengkram kuat leher Aliyah. Hingga terpojok ke dinding. Aliyah berusaha untuk memukul tangan Awan yang mencengkram lehernya sangat kuat.
Tenaga Aliyah tidak cukup kuat untuk melawan kekalapan Awan, saat ini.
Tubuh atletis Awan mengungkung tubuh Aliyah yang merapat ke dinding. Kedua manik matanya menatap ke wajah Aliyah. Hingga hembusan nafas hangat Awan bisa di rasakan Aliyah.
Aliyah menelan kasar salivanya berulang-ulang, untuk membasahi tenggorokan yang sangat kering keronta.
"Yaa Allah.. Jika Engkau mentakdirkan hamba hidup hanya sampai di hari ini, detik ini. Hamba hanya ingin meninggalkan dalam keadaan Khusnul khatimah. Aamiin" Do'a Aliyah dalam hatinya dengan jantung yang berdebar kencang. "Tapi jika masih Engkau ijinkan. Aku menghirup udara yang segera di dunia ini. Tolong kirimkan seseorang untuk menolongku dari singa jantan yang sedang kelaparan ini. Yang pasti Aliyah juga mau ngerasain jajan pasar yang manis legit ntuu bersama Bee. Yaa Allah" Do'a yang di campurin dengan pikiran stres menghadapi Awan yang sedang kalap, membuat Aliyah oleng.
Terlihat wajah Aliyah yang pasrah dengan kondisinya sekarang. Tiba-tiba cengkraman yang bertengger di leher mulus Aliyah melonggar sendirinya.
"Uhuk-uhuk" Aliyah terbatuk-batuk. Dia mencoba mengatur pernafasannya dengan menghirup oksigen sebanyak mungkin. Lalu membuangnya perlahan.
Namun, Aliyah hanya bisa bernafas beberapa menit saja. Belum selesai dia mengatur nafasnya. Awan menyerang kembali Aliyah. Tangan kirinya mendarat memegang dagu Aliyah. Menguncupkan bibir ranum Aliyah. sedangkan tangankan nya mendekap pinggang ramping Aliyah.
"Ampun, Awan! Maafkan aku. jangan paksa aku! Lepaskan aku!" kata Aliyah terbata-bata
Awan yang terus memaksa Aliyah agar membuka bibir ranumnya. Namun, Aliyah menahan keberingasan Awan dengan meludahi mulut Awan.
"Kurang ajar banget kamu! Aku sudah baik tidak merenggut kesucian kamu, selama kamu di sini! Tapi kamu malah ngelunjak!" bentak Awan sambil membenturkan kening Aliyah ke dinding. Iblis yang merasuki Awan benar-benar menghilangkan kesadaran Awan.
Tubuh Aliyah yang menempel di dinding, tangannya Awan yang semakin mencengkram tangan Aliyah hingga memerah di pergelangan tangannya. Ingin melawan pun percuma. Semakin dia berontak. Semakin ganas pula singa jantan yang berdiri di belakangnya. Hingga suara seseorang menghentikan perbuatan Awan yang menggila
"Ampun, Awan! Aku tak mau mati muda. Hiks hiks" Aliyah menangis sesenggukan.
Melihat darah yang mengalir di kening Aliyah. Awan memundurkan langkahnya dan berhenti dengan aksinya yang brutal.
"Itu kan yang kamu mau! Aku sudah berbaik hati dengan kamu! Kurang apa aku di mata kamu. Aliyah! Coba bilang apa yang harus aku lakukan buat menebus semua kesalahanku padamu!"
"Aaaahh" teriak Awan dengan menjambak rambutnya sendiri.
Di luar kamar Awan. Wanita paruh baya tidak sengaja lewat di depan kamar tuan mudanya dengan pintu yang terbuka sedikit. Dengan rasa penasaran wanita paruh baya itu mendorong pintu kamar yang berbahan kayu jati.
Suara yang sangat familiar terdengar di telinga Awan. Refleks ekor matanya melirik orang yang baru masuk ke dalam kamarnya.
"Astaghfirullah! Berhenti den Awan. Jangan teruskan menganiaya non Aliyah. Kalau tidak dia bisa mati konyol" ucap wanita paruh baya itu sambil berlari ke arah Aliyah yang memegangi dahi nya yang mengeluarkan darah segar.
Lagi-lagi Awan membuat kesalahan yang fatal di hadapan Aliyah. Ia terdiam menatap orang yang selalu membuat nya kacau akhir-akhir ini. Mulutnya tertutup rapat bagai terganjal batu besar dan tubuh Awan membeku mendengar ucapan Aliyah barusan.
"Mbok Tun, urus dia! Aku mau pergi dulu" titah Awan kepada wanita paruh baya yang telah mengasuhnya sejenak masih bayi.
Awan melangkah pergi meninggalkan kamar yang terasa panas itu. Padahal suhu pendingin dari AC tidak di kurangi.
Aliyah tak pernah menyangka Awan akan sebrutal itu.
"Mbok Tun, kenapa Awan bisa berupa 99 derajat dari yang aku kenal dulu?"
Mbok Tun menarik pergelangan tangan Aliyah untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Non Aliyah tunggu sebentar di sini. Mbok mau ambilin kotak obat dulu" ucap mbok Tun yang berjalan mengambil kotak P3K.
Tak menunggu lama, mbok Tun kembali dengan membawa sekotak obat dan perlengkapan yang biasa di gunakan untuk membersihkan dan menyembuhkan luka pada seseorang.
"Ada masalah apa sebenarnya Awan. Mbok Tun? Tolong kasih tau aku. Sepertinya dia sangat depresi dengan hidup nya yang sekarang ini?"
Mbok Tun masih ragu-ragu untuk menceritakan masalah yang di hadapi Awan, saat ini. Wanita paruh baya itu tidak lekas menjawab pertanyaan yang di lontarkan Aliyah kepadanya. Namun, karena melihat kedua mata Aliyah sangat memohon agar mbok Tun mau bercerita kepadanya.
Mau tak mau mbok Tun harus tetap bercerita kepada Aliyah. Tapi mbok Tun harus menyelesaikan tugasnya dulu.
Dengan sangat telaten wanita paruh baya itu membersihkan luka yang ada di kening Aliyah. Setelah di bersihkan terlebih dahulu luka itu dengan obat antiseptik agar tidak terjadi infeksi di kemudian hari. Mbok Tun segera memberikan obat luka dan memperban kening Aliyah.
"Mbok Tun, pelan-pelan ya. Ini bekas luka kecelakaan satu bulan yang lalu aja baru kering. Sekarang sudah di tambah lagi" kata Aliyah manja ke mbok Tun yang sedang merawat lukanya.
"Iya, non Aliyah cantik" sahut mbok Tun dengan tersenyum.
Sudah beres semua. Sekarang giliran mbok Tun bercerita tentang masalah Awan kepada Aliyah.
"Non Aliyah, mbok Tun bercerita mulai awal. Dengarkan baik-baik dan jangan di sela terlebih dahulu sebelum mbok Tun selesai" Ia menatap serius kedua netra bening lawan bicaranya.
Aliyah mengangguk patuh dan mengacungkan jempolnya. Tak ada batahan satu pun ketika mbok Tun bercerita. Dan ingat kata-kata mbok Tun. "Jangan pernah bercerita masalah Awan ke orang lain. Karena mbok Tun, percaya kepada Non Aliyah"
Mbok Tun memulai ceritanya.
Mbok Tun, ikut di keluarga Awan semenjak mama dan papa, Den Awan menjadi pengantin baru. Pernikahan yang tidak di harapkan keduanya. Karena mereka terlibat perjodohan bisnis antar keluarganya. Padahal masing-masing telah memiliki kekasih. Tak mau membantah dengan aturan keluarga besarnya terjadi kah pernikahan bisnis itu. Karena suatu kesalahan yang tidak di inginkan keduanya lahirlah ke dunia bayi kembar laki-laki yang lucu dan mengemaskan. Den Awan dan Den Guntur.
Akan tetapi mama dari Den Awan dan Den Guntur tidak pernah merawat dan menjaga kedua putranya. Beliau sibuk dengan dunianya sendiri. Bayi yang mengemaskan itu hanya mendapatkan susu formula tanpa mengenal asi sama sekali.
Sedangkan papa Den Awan sibuk dengan bisnisnya. Beliau sering bolak balik terbang ke negeri kincir angin untuk mengurus bisnisnya di sana.
Tiba lah kejadian yang naas itu. Ketika berumur 2 tahun. Den Guntur mengalami kejang-kejang karena suhu tubuhnya yang terus meninggi. Mbok Tun dan dua baby siter Den Awan dan Den Guntur, kalang kabut. Namun, kedua orang tua Den Awan menanggapi masalah itu dengan sepele. Hingga nyawa Den Guntur tak terselamatkan.
Sejak saat itu cek cok sering mbok Tun, dengar dari kedua orang tua Den Awan. Tapi keduanya tidak berani untuk mengajukan gugatan cerai. Karena jika salah satu pihak mengajukan gugatan cerai, akan berdampak fatal terhadap bisnis kedua keluarga itu. Sehingga sedikit mengganggu piskologinya Den Awan.
Tapi, setelah Den Awan mengenal Non Aliyah. Ada perubahan di wajah Den Awan. Yang dari sehari-hari nya hanya termenung dalam kamarnya. Tanpa ada teman yang menemani. Berubah ceriah dan riang. Dia sering bercanda gurau dengan mbok Tun dan pekerja lainnya di rumah ini. Walaupun tanpa ada kehadiran kedua orang tua di sisinya.
Singkat cerita Den Awan terlahir dari keluarga broken home. Hingga hadir si ulet pohon yang menghancurkan hubungan Den Awan dan Non Aliyah.
Hampir satu jam mbok Tun bercerita. Dan Aliyah diam mematung dalam kebimbangan.
Sedangkan di kamar lain Awan terus merutuki dirinya sendiri.
Ia terus terngiang-ngiang dengan kalimat yang di lontarkan Aliyah.
Sekaya apapun kamu. Setinggi apa jabatan kamu. Setampan dewa Arjuna wajah kamu. Seorang Aliyah tidak akan pernah melabuhkan kembali cintanya kepada seorang pencundang seperti kamu. Kau hanya seorang pengecut yang bertopeng kemunafikan. Jika kau seorang ksatria, maka kau akan berani bertarung dengan sehat bukan malah menculik aku. Menjauhkan aku dari orang-orang yang mencintai dan menyayangiku. Sebesar apa cintamu kepadaku jika kau pernah melukai dan menghianati hubungan kita. Aku pasti memaafkan kamu. Tapi, tidak untuk mengulang kembali rasa yang pernah ada.
❤❤❤❤
Hujan yang semakin membuat ngantuk author na.. Di temani dengan secangkir kopi panas.
Tapi, jika readers berkenan untuk like, komen, favorit dan rate bintang lima. Pasti akak membuat semangat author oleng ini.