FORGET IT

FORGET IT
Tanyakan Pada Hatimu!



Siang menyambut sore. Keheningan tak terpecahkan saat Aliyah fokus dengan layar laptop nya. Ia sibuk dengan angka-angka yang tertera mengecek lagi list yang telah di rekap nya.


"Mbak Aliyah" panggil Zudith. Namun yang di panggil nya acuh tak menjawab.


Zudith berjalan mendekat dan duduk di samping Aliyah.


"Mbak Aliyah, kenapa akak Denis telpon ke nomor mbak enggak bisa?" tanya Zudith.


"Hmmm" jawab singkat Aliyah.


"Mbak Aliyah lagi marahan sama akak Denis?" tanya Zudith menyelidik.


"Tak ada, Zudith. Sudah sana, anak kecil tak boleh kepo urusan kakak nya!" usir Aliyah.


"Anak kecil, mbak Aliyah bilang. Meski anak kecil gini, juga sudah bisa patahin hati cewek, dung. Aktifin dulu HP nya, mbak Aliyah. Akak Denis habis telpon ke Zudith" bela Zudith sambil berjalan meninggalkan Aliyah.


Sudah satu minggu ini. Sejak kejadian itu, Aliyah berusaha menghindari Denis.


Setelah Zudith keluar dari kamar Aliyah. Segera ia mengaktifkan kembali ponsel dan memeriksa nya. Ada banyak sekali pesan yang masuk di no HP nya. Salah satu nya dari kekasih tercinta nya. Denis.


"Ayang, lagi di mana?"


"Ayang, kenapa sih?"


"Kalau Bee ada salah, bilang yang. Jangan diamin Bee nya!!"


"Sayang, maafin Bee. Jika Bee menyakiti, Ayang"


"Maafin Bee, telah kecewain Ayang"


"Sayang, balas chat nya, Bee!! Kalau dalam waktu 24 jam, Ayang tak balas chat, Bee. Jangan nyesel kalau tak dapat melihat Bee, lagi!!"


Tak terasa air mata nya telah membanjiri pipi chubby nya. Hati Aliyah merasa tidak enak membaca semua pesan dari Denis. Namun, dia masih merasa ragu untuk menghubungi Denis.


Tak lama kemudian satu panggilan VC masuk dari Denis.


Drrtttt... Drrtttt... Lala.. Yeyeye..


Aliyah segera menggeser icon hijau di layar ponsel nya. Belum sempat Aliyah menyapa Denis. Denis telah memberondong pertanyaan kepada Aliyah.


"Assalamu'alaikum, sayang. Kamu lagi di mana? Kenapa cuekin, Bee? Kalau Bee ada salah bilang. Jangan diam saja!" ucap Denis menatap ke layar ke arah Aliyah.


"Ay lagi di rumah, Bee" jawab Aliyah menundukkan kepala nya.


"Kenapa wajah nya di tekuk gitu? Jangan cemberut ke Bee!"


"Tak apa, Bee"


"Jangan bohongin Bee nya! Lihat ke arah, Bee! Bee ingin lihat wajah nya, ayang!"


"Emmm"


"Satu.. Dua.. Tiga.. Bee matiin ini HP nya dan jangan pernah cari Bee, lagi"


"Iya.. Iya.. Bee.. Bee jangan marah" jawab Aliyah langsung melihat ke arah Denis yang berada di sebrang.


"Ayang, nangis?" Denis menatap tajam ke arah Aliyah. Di tatap seperti itu. Aliyah langsung menunduk tak bisa menjawab pertanyaan Denis.


"Sayang, jika ada masalah. Tolong cerita ke Bee. Jangan simpan sendiri. Ayang tak menganggap Bee ada kah?"


"Maafin, Ay na Bee. Maafin Ay na" hanya kalimat itu yang bisa terucap dari bibir Aliyah.


"Terus kenapa ponsel ayang mati? Atau memang sengaja ayang matikan, biar bee tak bisa menghubungi, ayang? Oh, jadi ayang tak pernah menganggap bee ada!"


"Tak gitu bee" sela Aliyah sambil terisak.


"Kalau begitu, bee pergi saja sekalian dari hidup ayang. Maafin bee, jika tak bisa bahagia kan ayang selama ini"


Aliyah hanya bisa menatap nanar ke arah Denis tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Ia tak menyangka, jika Denis akan semarah itu. Karena mematikan ponsel nya dan tak mau berterus terang ada masalah apa sebenarnya.


...*****...


Duduk diam dan termangu di langit kamar nya. Aliyah masih memandangi wajah Denis yang tersenyum kepada nya di layar ponsel nya. Aliyah sudah sekian kali nya menghapus air mata yang kian deras mengalir di pipi nya.


Rasa penyesalan yang datang terlambat harus di tanggung nya. Kini, Denis telah marah besar kepada diri nya. Aliyah menghirup oksigen sebanyak mungkin, lalu menghembuskan kasar. Rasa sesak di dada nya kian menghimpit rongga-rongga di dalam paru-paru. Rasa kerinduan yang membuncah dan cinta yang begitu besar hanya untuk sang pemilik hati.


"Ternyata aku tidak pernah bisa untuk benar-benar pergi dan menjauh dari cinta mu. Aku sungguh masih sangat mencintaimu. Sangat membutuhkan mu, bahkan menginginkan mu menjadi satu-satunya pemilik jiwa dan raga ku seutuh nya"


Bagaikan terlempar dari langit, terhempas ke dasar laut. Setelah Aliyah mendapatkan kabar berita dan foto-foto Denis yang bermesraan dengan seorang wanita lain yang di kirim seseorang ke no ponsel nya.


Bagaikan panah yang menusuk jantungnya. Seketika mematikan seluruh saraf-saraf di otak nya.


"Apakah Bee juga benar-benar mencintai ay? Apakah Bee tidak menghianati ay? Apakah kabar berita itu semua cuma angin lalu? Siapa kah wanita itu sebenarnya, Bee? Apa hubungan Bee dengan dia? Apakah ay salah mempunyai rasa cemburu? Apakah ay harus tenang-tenang saja, jika melihat Bee bermesraan dengan wanita lain? Apakah ay harus diam saja. Jika Bee...? Apakah... Apakah.. Ay? Aaaaahhhhhh..." Aliyah berteriak kencang sambil memegang kepala nya yang berdenyut.


Suasana hati Aliyah yang sedang tidak baik-baik saja. Entah lah. Mungkin waktu sedang mempermainkan mereka. Aliyah pun tak mampu menjawab pertanyaan nya sendiri. Rasa nya semua kejadian terjadi begitu cepat. Seperti dedaunan kering yang di terbangkan angin.


Kening Aliyah berkerut.


Apa yang harus Aliyah tanya kan pada hati yang telah menghianati nya! Ia bahkan tak tau jawabannya. Kenapa tak tahu? Tanya kan pada hatimu! Mau di bawa kemana hubungan ini?


Aliyah menghela nafas dalam dan menggeleng kan kepala nya.


"Kisah cinta dua insan yang terpisah jarak dan waktu. Akan kah selalu setia dengan pasangan nya? Walaupun badai kan menerjang dalam hubungan nya?" Aliyah tersenyum getir.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung....


...DUKUNG SELALU KARYA RECEH KU INI DENGAN CARA...


...LIKE...


...KOMEN...


...FAVORIT...


...RATE BINTANG LIMA...


...GIFT/VOTE...


...TERIMAKASIH READERS KESAYANGAN...


...❤❤❤❤...