
Jumpa lagi para readers kesayangan... 😍😍
Jangan lupa ya untuk tetap like, komentar. Gift dan vote seikhlasnya.
Tidak lupa jadikan favorit, biar tak ketinggalan cerita nya dan selalu memberikan rate bintang lima.
Aku tunggu jejak kalian di kolom like dan komentar buat support author receh ini.
Selamat membaca...
❤❤❤❤
Langit POV
Langit duduk terdiam sendirian di bangku taman kota. Hampir sepuluh menit dia menunduk dan tidak melakukan apapun. Aliyah tidak akan pernah dan tidak akan mungkin memilihnya, bahkan meninggal kan Denis untuk nya.
Aliyah dan Denis.. Ya.. Mereka adalah dua hati yang telah menjadi satu. Dua insan yang saling mencintai dan menyayangi. Kini hati Aliyah hanya di penuhi dengan cinta Denis.
"Kamu yang selalu menjungkir balikan rasaku. Biarkan lah aku mencintai dan menyayangi dirimu dengan caraku. Meski rasa itu hanya sebatas fatamorgana. Diri mu hanya dapat ku pandangi dari jarak yang jauh. Dirimu hanya bisa ku bayangan setiap saat"
Langit menghela nafas panjang dan pandangan nya kosong ke depan.
"Kamu tahu, Aliyah! Aku orang yang paling beruntung karena memiliki sahabat sehebat dirimu. Semoga semua mimpi mu bisa terwujud. Aku berharap kamu mendapatkan semua cinta dan kebahagiaan bersama Denis. Semua tawa dan air mata yang kita bagi membuatku merasa luar biasa. Aku sangat bersyukur atas persahabatan kita. Semoga hari mu selalu menakjubkan seperti dirimu" guman Langit.
"Hahaha... Bulan saja sedang mentertawakan ku di atas sana. Aku telah kalah.. Benar.. Aku memang telah kalah dari seorang Denis" Langit berbicara sendiri. Lalu, mentertawakan diri nya sendiri yang bodoh karena sok bertahan dengan cinta dalam diam nya dan kini ia tidak berhasil mengambil hati Aliyah yang telah di menang kan oleh Denis sepenuh nya. Langit menundukkan kepala nya lagi sambil terus memijat keningnya yang mulai pening.
"Aku tak akan bisa melupakan mu Aliyah. Tapi, aku akan mengikhlaskan dan merelakan kamu untuknya" Dia berucap pada malam yang sunyi. Hawa dingin yang menusuk tulang.
Tiba-tiba ada seseorang yang datang dan tepat duduk di sebelah Langit. Suara yang sangat familiar bagi Langit.
"Di balik semua permasalahan dan kekecewaan mu hari ini. Percaya lah. Allah SWT sedang mempersiapkan sesuatu yang terbaik dan terindah untuk mu. Jangan lupa terus berusaha, bersabar dan berdo'a" ucap Riris memberikan kekuatan untuk Langit.
Langit memijat keningnya sendiri dengan tangan nya yang berada di antara kedua alis nya.
"Enak ya, kalau berbicara itu. Enteng, seperti buang kentut. Wuusshh" ucap Langit menahan tawa nya.
"Mungkin" jawab singkat Riris. Dengan memutar bola mata nya ke atas mencari jawaban dari pertanyaan Langit.
"Mungkin, apa? Yang jelas kalau jawab" sahut Langit.
"Mungkin karena..."
Belum selesai Riris berbicara, Langit langsung menyambar nya.
"Karena apa! Jawab yang benar! Mengapa Aliyah lebih bahagia bersama Denis. Daripada dengan ku yang selalu menemani nya. Apa Aliyah tidak pernah mengganggap ku spesial sedikit pun? Atau karena apa?" tanya Langit yang semakin menatap tajam ke arah bola mata Riris dan membuat Riris salah tingkah di tatap seperti itu oleh Langit.
"Ya... Mungkin saja, Aliyah. Eemm.." Riris belum menyelesaikan kalimat nya. Tetapi langsung di sambar Langit.
"Dari tadi muter-muter seperti sekuter saja kamu, Ris! Jawab yang benar dan akurat"
"Ehh.. Iya mungkin itu" ucap Riris mulai panik saat mendengar di tekan untuk menjawab pertanyaan nya dan langsung menundukkan pandangannya menghindar dari Langit.
Melihat Riris yang kebingungan membuat Langit tak tahan untuk tidak tertawa.
"Hahaha..." tawa Langit mengejutkan Riris yang membuat nya mendongakkan kepala, menatap aneh ke arah Langit.
"Kamu sehatkan, Langit? Masih waras kan? Aliyah tidak akan membuat mu jadi gila kan?" Riris menatap Langit jengah.
"Mulai sekarang kau jadi pacarku! Ini perintah, tidak boleh di bantah!" titah Langit serius kepada Riris.
"Ehh.. Tunggu dulu, enak saja. Main perintah. Sejak kapan kamu memerintah aku dengan seenak udel mu" omel Riris.
"Sejak sekarang! Karena kamu milik ku! Malam ini dan seterusnya" ucap Langit merendahkan suara dan menatap lembut ke bola mata Riris.
Riris pun kaget dengan tingkat laku aneh Langit. Sontak ia langsung menyilang kan kedua tangan nya di dada.
"Milik mu dari Hongkong! Emang cinta semudah membalikkan tangan. Ini hati Langit, bukan kaleng bekas yang kau buang setelah kau tidak membutuhkan nya lagi. Minta di balang anak ini!" Riris mulai sewot.
"Hehehe.. Ada apa dengan mu, sobat?" ucap Langit semakin merapat kan duduk nya di sebelah Riris.
"Ada setan berbentuk manusia nempel di tubuh mu. Maka nya ngelantur omongan mu" gerutu Riris kesal melihat Langit yang tertawa renyah.
"Tenang saja, aku akan menjadi kan kamu wanita satu-satunya dalam hidup ku" ucap Langit yang semakin membuat Riris kesal dan bingung.
"Ohh.. Jadi menyelam sambil minum air! Sekali tembak dua hati yang kau tembus. Tapi kalau enggak kena satu nya. Loncat ke pinggir nya. Parah kamu, Langit! Kamu kira aku tertarik sama laki-laki seperti mu. Cu1hh.. Laki-laki cemen enggak jentel sama sekali. Enggak berani mengakui perasaan nya dan menyatakan langsung cinta nya. Hanya memendam rasa itu. Basi, Langit! Jaman now. Kalau tidak menikung, ya ketikung cintamu di tikungan tajam. Hahahaha" Riris membalas Langit dengan tertawa terbahak-bahak.
"Puas kamu! Puas mentertawakan kebodohan ku selama ini!" ucap Langit dengan suara mulai meninggi. Sontak membuat Riris sedikit panik.
Langit terus memandang ke arah Riris yang mulai panik dan salah tingkah. Di pandangi Langit saat ini. Riris terlihat lucu dan menggemaskan.
"Terus kalau bukan itu jawabannya, apa?" Langit memotong ucapan Riris dengan segera.
"Eemm.. terserah kamu! Aku diam saja!" ucap Riris dengan menutup mulutnya dan tangan nya di gerakan seperti menutup resleting.
"Kok gitu! Kenapa jadi diam?"
"Apa kamu tidak ingin berjalan-jalan berkeliling kota. Melepaskan rasa sedih dan gundah mu" Riris memberikan usul pada Langit untuk menghilangkan rasa galau nya.
"Hmm"
"Mari kita berkeliling kota sambil bernyanyi dan berteriak bersama.. Hahaha" Riris terkekeh.
"Siapa takut, hayuuukk" Langit berdiri dari duduk nya. Lalu mengangkat tangan nya dan merangkul pundak Riris berjalan bersama beriringan.
****
...AKU BUKAN JODOHNYA...
...TRISUAKA...
...Ini salahku...
...Terlalu memikirkan egoku...
...Tak mampu membuat mu bersanding nyaman dengan ku...
...Hingga kau pergi tinggalkan aku...
...Terlambat sudah...
...Kini kau t'lah menemukan dia...
...seseorang yang mampu membuat mu bahagia...
...Ku ikhlas kau bersanding dengan nya...
...Aku titip kan dia...
...Lanjut kan perjuangan ku 'tuk nya...
...Bahagia kan dia, kau sayangi dia...
...seperti ku menyayangi nya...
...Kan Ku ikhlas kan dia...
...Tak pantas ku bersanding dengan nya...
...'Kan ku terima dengan lapang dada...
...Aku bukan jodoh nya...
...Aku titip kan dia...
...Lanjut kan perjuangan ku 'tuk nya...
...Bahagia kan dia, kau sayangi dia...
...seperti ku menyayangi nya...
...Kan Ku ikhlas kan dia...
^^^Tak pantas ku bersanding dengan nya^^^
...'Kan ku terima dengan lapang dada...
...Aku bukan jodoh nya...
❤❤❤❤
Bersambung....